Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung di Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Generasi Asmat dalam Pusaran Badai HIV-AIDS

5 Februari 2020   14:49 Diperbarui: 6 Februari 2020   10:59 734 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Generasi Asmat dalam Pusaran Badai HIV-AIDS
Diskusi HIV-AIDS bersama Mama-Mama kader Posyandu kampung Saw, Jumat, (24/01/2020). | Foto: Dokumentasi Pribadi

"Saya ke warung di Jalan Muyu Kecil. Di sana, saya ketemu mba. Dia suruh pakai kondom, tetapi karena sudah mabuk, saya tidak mau. Pada saat mau pulang saya tidak ada uang, sehingga saya buka baju dan taruh di warung sebagai jaminan bahwa saya akan datang bayar," tutur salah satu pemuda yang pernah pergi ke warung 'plus' di kota Agats itu.

Kota Agats menjadi pusat pemerintahan kabupaten Asmat. Di dalam Agats, terdapat lima kampung yaitu kampung Bis Agats, Mbait, Syuru, Asuwets dan Kaye. Kelima kampung ini letaknya bersebelahan.

Orang bisa berjalan kaki dari kampung Mbait sampai di Syuru. Namun, saat ini lebih banyak warga di kota Agats menggunakan motor listrik, baik mereka yang memiliki motor pribadi maupun jasa ojek.

Meskipun kota Agats tidak memiliki fasilitas modern seperti kota-kota besar, tetapi lazimnya di kota-kota besar, Agats pun memiliki tempat-tempat hiburan. Di Agats, kita dengan sangat mudah menjumpai kaf dan warung prostitusi berkedok warung makan. Ada kaf di area pelabuahan Agats dan kampung Mbait. Sedangkan warung prostitusi berkedok warung makan terletak di Jalan Muyu Kecil, bersebelahan dengan pasar Mama-Mama Papua, di Jalan Yos Sudarso, Agats.

Keberadaan warung prostitusi dan kaf yang menyediakan wanita pekerja seks di Agats bertentangan dengan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2011 tentang "Larangan Prostitusi" di Asmat.

Meskipun sudah ada Perda larangan prostitusi, tetapi kenyataan memperlihatkan bahwa wanita pekerja seksual tetap beroperasi di Jalan Muyu Kecil dan Ayam Kecil, Agats. Tarifnya relatif murah lantaran usia mereka rata-rata di atas 40-an tahun. Sedangkan perempuan-perempuan muda di caf-caf di Agats bisa dipakai dengan bayaran yang lebih mahal.

Setiap pasang mata dan telinga di Agats melihat kaf dan warung prostitusi serta mendengar narasi praktek prostitusi di Agats, tetapi tidak banyak orang yang mau peduli dengan kondisi tersebut. 

Antrean di warung makan plus di Jalan Muyu Kecil dianggap biasa. Perempuan-perempuan di caf yang sekedar jalan-jalan di Agats dengan pakaian yang mencolok mata tidak digubris.

Sikap kurang peduli terhadap keberadaan warung prostitusi dan kaf-kaf yang menjadi pusat transaksi seksual di Agats itu berdampak nyata pada meningkatnya HIV-AIDS di Asmat.

Data dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2019 ditemukan 57 kasus HIV baru. Dari jumlah tersebut, 41 orang tinggal di distrik Agats dan 16 lainnya di luar distrik Agats. Data ini secara jelas menunjukkan bahwa HIV-AIDS di Asmat berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Apabila kita menggunakan "fenomena kayu hanyut" tampak bahwa kita baru menemukan sedikit penderita HIV-AIDS ketimbang yang belum ditemukan. Dalam situasi seperti ini, setiap orang di Asmat sangat berpotensi tertular HIV-AIDS, apabila tidak menjaga diri dengan baik. 

Apabila perilaku seks bebas tidak dikendalikan, maka masa depan orang Asmat berada dalam ancaman serius. Sebab, virus mematikan ini bisa menyerang siapa saja yang berperilaku seks tidak aman. Artinya, kalau orang melakukan seks bebas (berganti-ganti pasangan) tanpa menggunakan kondom, maka sangat berisiko tertular virus mematikan ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x