Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung di Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tahbiskan Imam dan Diakon, Uskup Agats Serukan Keberpihakan kepada Kaum Miskin dan Terlantar

4 Februari 2020   16:56 Diperbarui: 4 Februari 2020   17:03 114 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tahbiskan Imam dan Diakon, Uskup Agats Serukan Keberpihakan kepada Kaum Miskin dan Terlantar
Uskup keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito OFM bersama imam dan diakon tertahbis di gereja Kristus Raja Mbait, Minggu, (02/02/2020). Dokpri.

"Situasi umat kita dimanapun kita ditempatkan dan diutus merindukan pelepasan dan pembebasan. Saudara-saudara kita ini mungkin tidak dengan suaranya tetapi hidupnya masih kita rasakan sebagai sebuah jeritan bahwa masih ada kuk yang dipikul oleh mereka. Bahwa masih ada jeritan-jeritan kecil yang menginginkan tanggapan-tanggapan dari kita, khususnya Pastor-Pastor dan juga Diakon. Di bidang kesehatan, banyak orang sakit. Di bidang ekonomi, kebutuhan dasar belum terpenuhi. Di bidang sosial, relasi masih lemah dan belum rukun. Kita diajak dan ditantang agar mempunyai kepekaan dan tanggap terhadapnya dan tidak boleh melarikan diri dari situasi tersebut," tutur Mgr. Aloysius Murwito OFM pada saat tahbisan imam dan diakon di gereja Katolik Kristus Raja Mbait, Minggu, (02/02/2020).

Cuaca di Agats cerah. Langit tampak biru. Matahari memancarkan sinarnya menembus rimbun pohon mangrove pada hamparan tanah datar Asmat. Di gereja Katolik Kristus Raja Mbait, suasana ramai sejak pagi hari. Umat Katolik merayakan hari Minggu Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Allah. Perayaan tersebut, sekaligus menjadi momentum penting bagi umat Katolik keuskupan Agats, sebab Uskup keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM menahbiskan tiga imam dan dua diakon. Itulah kondisi dan suasana di gereja Katolik Kristus Raja Mbait, pada hari Minggu, (02/02/2020).

Pukul 08.00 WIT, gema tifa terdengar diikuti nyanyian khas Asmat mengiringi prosesi perayaan tahbisan imam dan diakon. Ratusan umat yang memadati ruang dalam gereja dan di halaman gereja berdiri menyambut perarakan Misdinar, keluarga para calon imam, calon imam dan diakon, para imam dan Uskup yang akan memasuki gereja.

Tepat di depan pintu masuk gereja, perwakilan orang tua dari para calon imam dan diakon menyerahkan secara resmi anak-anak mereka kepada Mgr. Aloysius Murwito OFM untuk ditahbiskan menjadi pelayan umat Allah keuskupan Agats. Proses doa penyerahan itu berlangsung dalam bahasa Tanimbar.

Suasana sukacita penuh hikmat mengiringi langkah para calon imam dan diakon menuju altar Tuhan. Lantunan lagu di bangku koor menyambut para calon tertahbis dan Mgr. Aloysius Murwito OFM selaku pentahbis dalam perayaan suci itu.

Di altar Tuhan, ketika mengawali rangkai perayaan pentahbisan, Uskup kaum papah di tanah Asmat ini mengajak umat Allah yang berkumpul dalam perayaan itu untuk menghayati kekudusan dalam hidup sehari-hari.

"Kita semua dipanggil menjadi orang-orang yang disemangati oleh cinta kasih Kristus. Itulah sesungguhnya kekudusan dan kesucian dalam hidup ini, menurut cara hidup kita masing-masing. Ketiga calon imam dan kedua calon diakon yang ditahbiskan pada hari ini, dengan cara hidupnya dan tugas-tugasnya sebagai pewarta Injil, mereka menempuh jalan menuju kepada kesempurnaan dalam hidup ini," tutur Uskup yang ditahbiskan menjadi Uskup keuskupan Agats pada tahun 2002 silam ini.

Uskup juga mengatakan bahwa orang tua dan keluarga besar yang membawa anak-anak mereka untuk ditahbiskan menjadi imam dan diakon seperti Bapa Yusuf dan Mama Maria yang mengantar anaknya Yesus untuk dipersembahkan sesuai dengan tradisi agama Yahudi bahwa seorang anak laki-laki mesti dipersembahkan untuk dikuduskan dan disucikan.

"Orang-orang muda ini, datang ke sini dengan diantar oleh keluarga besarnya dan keluarga kecilnya, oleh kita semua agar hidup mereka sungguh-sungguh dibaktikan untuk kemuliaan Allah dan untuk tegaknya Kerajaan Tuhan di dunia ini," tandasnya.

Memelihara Hidup Suci

Pada perayaan tahbisan imam dan diakon kali ini, calon tertahbis memilih tema, "Dipanggil untuk Melayani demi Kerajaan Allah." Selaras dengan tema tersebut, Mgr. Aloysius Murwito OFM dalam khotbahnya mengajak segenap umat yang hadir, secara khusus calon imam dan diakon yang akan ditahbiskan untuk senantiasa mempraktekkan hidup suci dalam seluruh karya pelayanannya.

"Bapak Uskup ingin sedikit memberikan renungan mengenai hidup yang suci dan kudus ini. Memang kita berharap supaya anak-anak kita, pemuda-pemuda kita ini hidupnya menjadi kudus, tanpa cacat. Ini sebuah cita-cita, tetapi sesungguhnya itu adalah rencana Tuhan sendiri dan bukan hanya berlaku untuk anak-anak kita, tetapi juga berlaku untuk kita semua sebagai warga Gereja, khususnya orang-orang yang telah dibaptis. Tuhan Allah menghendaki agar kita semua melalui cara hidup kita masing-masing, ada yang hidup berkeluarga, ada yang hidup membujang, seperti kaum religius atau kaum rohaniwan, ada orang yang bekerja di lingkungan pemerintahan, ada seorang Mama yang hidup di dalam rumah tangga untuk menjadi orang-orang suci, orang-orang kudus menurut cara hidup kita masing-masing," tuturnya.

Ia mengatakan bahwa menurut cara hidup seorang imam dan diakon yang juga nanti ditahbiskan menjadi imam, mereka juga dipanggil menjadi kudus. Ini rencana Allah yang besar dan luhur, yang patut kita syukuri. Tuhan menginginkan putra-putriNya, umat-Nya tidak terkecuali orang yang jatuh dalam kelemahan dan dosa tetap terbuka terhadap panggilan menjadi suci.

Uskup menjelaskan bahwa kekudusan itu bukan milik Uskup, bukan milik para Pastor dan Suster saja. Kekudusan tidak sama dengan orang-orang yang menarik diri dari dunia rame lalu berdoa saja. Tidak identik seperti itu. Doa perlu dan penting, tetapi tidak sama dengan hidup yang ditandai dengan kesucian. Kekudusan dan hidup suci, tidak lain dan tidak bukan adalah hidup yang disemangati oleh cinta kasih yang telah ditunjukkan dan dinyatakan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah sesungguhnya hidup kudus.

"Orang yang sungguh mau membaktikan seluruh hidupnya, baik kata-katanya maupun tindakan-tindakannya, tugas-tugasnya maupun kesaksian seluruh hidupnya yang disemangati oleh cinta kasih; yang tidak didasari oleh alasan-alasan yang terselubung, yang ujung-ujungnya adalah menginginkan untuk dilayani dirinya sendiri, mencari kepentingan-kepentingan sendiri, tetapi sungguh dengan sebuah tekad dan komitmen mau membaktikan seluruh hidupnya menurut cara hidup kita masing-masing, agar nama Allah semakin dibesarkan dan dimuliakan, maka orang itu adalah orang kudus," tegas Uskup yang  pernah menjadi Magister Frater-Frater OFM Papua di Jayapura ini. 

 Menyuarakan Jeritan Kaum Miskin

Kesucian hidup mendapatkan kepenuhannya dalam pelayanan kepada kaum paling rentan, orang-orang miskin dan terlantar. Mereka yang terlupakan dan terabaikan. Orang-orang yang suaranya tidak didengarkan di tengah kehidupan sosial masyarakat. Orang-orang papah semacam itu menyerahkan seluruh hidupnya pada penyelenggaraan Allah. Karena itu, imam dan diakon yang mendapatkan tahbisan imamat dan diakon perlu berpihak pada orang-orang kecil ini.

Uskup Alo menegaskan bahwa orang tua dan keluarga telah mengantar calon imam dan diakon ke gereja Mbait untuk ditahbiskan menjadi imam dan diakon. Apa yang telah dimulai di dalam Sakramen Pembaptisan mau ditegaskan kembali di dalam tahbisan imamat ini. Hidup kita dihayati, baik dengan kata dan dengan tindakan untuk kebesaran Tuhan.

"Tuhan yang mahakasih, ini penting sekali dipupuk dan dikembangkan, bukan sekedar sebuah paham, tetapi sungguh merupakan pengalaman bahwa Allah itu mahakasih. Allah yang sungguh mendatangi hidup kita secara pribadi. Itu kalau menjadi sebuah pengalaman pribadi, tekad dan komitmen Saudara semakin besar dalam menjalankan tugas yang luhur ini. Membesarkan Allah berarti membesarkan saudara-saudara kita, umat kita yang nanti dipercayakan kepada Anda. Seperti tadi dikatakan oleh Simeon, yang mewakili banyak orang, yang rindu akan pelepasan, rindu akan pembebasan, begitulah situasi umat kita dimanapun kita ditempatkan dan diutus. Ada sebuah kerinduan/pelepasan. Ada sebuah kerinduan pembebasan," tandasnya.

Ia mengatakan orang-orang kecil mungkin tidak dengan suaranya menyampaikan penderitaannya, tetapi hidupnya masih dirasakan sebagai sebuah jeritan. Sebab, masih ada kuk yang dipikul oleh mereka. Mereka masih menanggung penderitaan yang menginginkan tanggapan-tanggapan dari Pastor-Pastor dan Diakon.

Di bidang kesehatan, banyak orang sakit. Di bidang sosial ekonomi, kebutuhan dasar belum terpenuhi. Di bidang sosial, relasi masih lemah dan belum rukun. Kita diajak dan ditantang agar mempunyai kepekaan dan tanggap terhadapnya. Kita tidak boleh melarikan diri dari situ.

Pemanfaatan Teknologi HP

Uskup Alo juga menyinggung pengaruh teknologi komunikasi terhadap kualitas pelayanan para imamnya. Ia mengatakan bahwa banyak waktu telah terlewatkan dengan main HP tanpa menghiraukan kawanan domba yang dipercayakan kepada para gembala. Karena itu, ia mengajak para imamnya dan segenap umat Allah untuk tidak melekat pada teknologi, terutama HP.

"Banyak waktu yang sekarang ini sesungguhnya tidak dimanfaatkan dan digunakan untuk membesarkan nama Tuhan dan untuk melayani saudara-saudara kita, yang sesungguhnya menjerit setiap saat di depan kita. Dalam budaya global, dalam budaya teknologi ini, tidak usah kita menghindar. Saya sendiri, Pastor-Pastor, para petugas yang lain, barangkali porsi waktu setiap hari yang kita pakai lebih untuk HP," tuturnya.

Ia menegaskan bahwa HP merupakan sarana yang tidak lebih mendesak untuk dipakai tetapi lebih banyak untuk hiburan dan kesenangan pribadi. Kita menikmati HP dan setiap media yang ditampilkan dalam layar itu. Sarana-sarana itu mengandung aspek positif, tetapi di pihak lain bisa menurunkan semangat kita dan menjadikan kita orang-orang yang malas dan orang-orang yang tidak produktif dalam melayani umat Tuhan.

Selain itu, Uskup yang pernah menjadi Minister Provinsi Ordo Saudara Dina, Santo Mikhael Indonesia ini mengatakan bahwa cita-cita hidup dalam kekudusan mesti diusahakan dengan berkat Tuhan. Sarana-sarana insani, kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh Tuhan, seperti ketekunan, kerajinan merupakan unsur-unsur yang mendukung kita di dalam panggilan kita menuju kekudusan, di tengah-tengah banyak godaan, banyak tawaran, kita diajak bertekun.

Kita diajak untuk rajin. Kita diajak untuk tidak tergoda terhadap banyak tawaran yang ujung-ujungnya tidak menguntungkan pelayanan dan perutusan kita. Kita mesti terbuka terhadap rahmat Tuhan. Untuk terbuka terhadap rahmat Tuhan, kita perlu menggunakan waktu untuk berdoa; menyediakan waktu untuk Tuhan di tengah kesibukan kita setiap hari. Kita menyediakan waktu untuk bercakap-cakap dengan Tuhan di dalam iman kita kepada-Nya.

Ia mengajak segenap umat dan para imam Allah untuk merangkai seluruh kegiatan dengan Sabda Tuhan, yang bisa dibaca dan direnungkan. Kita kuatkan pada saat setiap kali kita merayakan Ekaristi. Di situlah menjadi penguat komitmen-komitmen  dan niat-niat kita. Ada usaha-usaha yang disediakan yang bisa digunakan sebaik-baiknya untuk mendukung panggilan dan perutusan serta membangun hidup menuju kekudusan kita.

Usai khotbah, Mgr. Aloysius Murwito menahbiskan ketiga calon imam menjadi imam Allah, yang telah memilih seumur hidup menjadi pelayan umat Allah di keuskupan Agats, tanah Asmat. Mereka adalah Pastor Innocentius Nurmalay, Pr dan Pastor Yohanes Laritembun, Pr yang berasal dari Tanimbar, Maluku Tenggara Barat serta Pastor Laurensius Kupea, Pr dari Benggala, Sulawesi Tengah. Sedangkan kedua orang frater yang ditahbiskan menjadi diakon yaitu diakon Apriyanto Bria dari Timor Barat, Nusa Tenggara Timur dan diakon Abel Yandua Saman, yang merupakan putra asli Asmat.  [Agats, 2 Februari 2020_Petrus Pit Supardi].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN