Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung di Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Dusun, Sungai, Perahu, dan Transformasi Pendidikan Dasar Asmat

22 Desember 2019   01:07 Diperbarui: 27 Desember 2019   04:17 100 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dusun, Sungai, Perahu, dan Transformasi Pendidikan Dasar Asmat
Bruder Elias Logo OFM sedang menjelaskan pertanian organik kepada anak-anak SD Persiapan Negeri Cumnew, September 2018. Dokpri.

Cahaya matahari pagi menyusup masuk pada celah rimbunan pohon mangrove di tepi sungai Asuwets. Sejumlah anak usia sekolah sedang mencari udang menggunakan serok.

Beberapa anak lain berada di dalam perahu menuju dusun bersama orang tuanya. Saat itu, sungai sedang surut. Dusun, sungai dan perahu menyediakan ruang belajar bagi anak-anak Asmat. Di sanalah, mereka belajar dan membekali hidup mereka.

Dusun, Sungai dan Perahu dalam Kehidupan Orang Asmat
Dusun (bokot). Di sanalah orang Asmat menggantungkan seluruh hidup mereka. Ada apa di dusun? Mengapa orang tua membawa anak-anak mereka ke dusun? Di Asmat, seringkali para guru berhadapan dengan ruang kelas kosong. Anak-anak mengikuti orang tua ke dusun. 

Mereka bisa tinggal di dusun selama berminggu-minggu bahkan bisa berbulan-bulan. Apabila anak-anak mengikuti orang tua ke dusun, maka mereka tidak bisa mengikuti pendidikan formal di kelas, yang terdapat di kampung-kampung.

Dusun menjadi sumber hidup orang Asmat. Di dusun tersedia sagu, sayur-mayur, ikan, udang, babi hutan, kasuari dan lain-lain. Di dusun itulah, orang Asmat mengambil makanan. Dusun bukan hanya tempat mengambil makanan. Ia memiliki sejarah perjuangan para leluhur untuk mendapatkannya. 

Di dusun pula, terdapat tempat-tempat keramat, yang menandai adanya relasi manusia yang masih hidup dengan roh-roh leluhur. Karena itu, dusun bernilai sakral. Orang tua membawa anak-anak ke dusun untuk memperkenalkan anak-anak sejak dini tentang sejarah hidup mereka di masa lampau, saat ini dan pada masa yang akan datang.

Dusun menyediakan ruang belajar yang luas dan menghidupkan. Anak-anak mempelajari seluk beluk mencari makanan, sekaligus mendapatkan narasi sejarah mereka. 

Budaya tutur yang berakar kuat dalam kehidupan orang Asmat menjadikan kisah tentang sejarah orang Asmat tetap hidup untuk diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian besar narasi itu berlangsung di dusun, pada bevak-bevak tempat mereka tinggal selama mencari makanan di dusun.

Sungai (jo). Perjalanan ke dusun, melintasi sungai dan kali. Setiap sungai memiliki nama dan sejarah terbentuknya. Sungai dan kali menjadi tempat pertama anak-anak Asmat bergaul dengan alam. Mereka belajar berenang di sungai. Mereka mandi juga di sungai. Pada sungai mereka menggantukan hidup dan masa depannya. 

Maka, melarang anak-anak mandi dan mencari ikan serta udang di kali sama saja dengan mencabut mereka dari tradisi hidup yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, sungai tidak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak Asmat.

Perahu (ci). Perjalanan ke dusun melintasi sungai dan kali menggunakan perahu. Tanpa perahu, orang Asmat tidak bisa pergi ke dusun. Tanpa perahu orang Asmat tidak bisa mencari ikan di sungai dan kali. Karena itu, perahu menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup orang Asmat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN