Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung di Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Perempuan Balim dan Gerakan Menulis [Dari Kebun dan Noken ke Buku dan Pena]

19 Mei 2016   09:25 Diperbarui: 19 Mei 2016   09:39 69 0 0 Mohon Tunggu...

Tanggal 8 Agustus 2004 silam, pertama kali saya berjumpa dengan orang Balim, budaya dan adat-istiadatnya. Saya tinggal bersama para calon fransiskan lainnya di bukit Pikhe. Saya berjumpa dengan keluarga Bapa Kornelis, dekat gereja Pikhe dan berbagai keluarga lainnya. Kontak dengan orang Balim secara intensif terjadi pada saat saya live in di kampung Popugoba (Popuba), di  Pugima. Saya tinggal bersama masyarakat di sana selama satu bulan penuh (19 Desember 2004-19 Januari 2005).

Selama melaksanakan live in di Popuba, saya tinggal bersama keluarga Bapa Yusuf Hisage.  Di kampung Popuba inilah, saya mengamati, mempelajari dan mengalami cara hidup orang Balim. Cara mereka berbicara, makan, minum, berjalan, bekerja, bercerita dan lain sebagainya. Secara khusus saya mengamati peran perempuan di dalam kehidupan orang Balim.

Cerita tentang perempuan Balim yang tangguh sebenarnya sudah saya alami sejak pertama kali pergi ke kampung Popuba pada 19 Desember 2004 silam. Dalam perjalanan ini, saya membawa tas pakaian. Mama memikul anak di dalam noken dan satu noken lagi berisi petatas dan sayur. Sementara Bapa Yusuf berjalan di depan, dengan memegang parang. Tatkala kami mulai mendaki bukit, Mama meminta supaya dirinya memikul tas saya. “Anak, ini jalan mendaki gunung. Nanti anak cape. Sini, kasih tas Mama yang pikul,” pintanya. Saya kaget. “Mama, tidak usah. Saya bisa pikul ini ransel. Kasian Mama sudah pikul dua noken,” jawabku. Bapa Yusuf yang jalan di depan menoleh ke belakang dan berkata,  “Anak kasih tasmu  Mama yang pikul. Itu Mama punya tugas,” tuturnya. Saya tetap tidak memberikan tas itu.

Selanjutnya, pada waktu tinggal bersama keluarga Bapa Yusuf di Popuba, saya mengalami peran perempuan Balim yang sangat luar biasa itu. Pagi hari, saya lihat Mama sudah bangun bakar dan atau rebus beberapa ubi. Seringkali, pada malam hari Mama sudah bakar atau rebus dan meletakkannya di dalam noken lalu menggantungnya di atas tungku. Mama memperhatikan makan dan minum untuk kami. Sesudah itu, mama memberi makan pada babi, yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Kalau di dalam dapur sudah beres (manusia dan babi sudah makan), Mama pergi ke kebun. Letak kebunnya sangat jauh. Beberapa kali saya mengikuti Mama ke kebun. Kami mendaki bukit yang terjal.

Beberapa kali, pewarta Yulianus Hisage melontarkan kata-kata ini, “Ko macam perempuan saja. Ko ikut-ikut perempuan ke kebun.” Pada kesempatan lain, saya dan Yulianus  pergi ke kebun. Kami bakar pisang dan makan. Saya bilang ke dia,  “Kita bawa ini pisang sebagian untuk ko punya istri ya.” Tetapi, ia menjawab, “Ko macam perempuan saja. Perempuan yang harus masak kasih kita makan, bukan kita yang masak untuk mereka makan.”

Saya merenung. Di dalam hati saya berpikir,

“Perempuan Balim adalah manusia tangguh. Perempuan Balim bekerja pagi, siang, sore dan malam untuk memberikan hidup bagi orang Balim. Perempuan Balim manusia hebat, yang bekerja tanpa mengenal lelah demi keluarga. Perempuan Balim menanggung begitu banyak pekerjaan, tetapi jarang marah atau mengeluh. Mereka bekerja serius, tekun dan setia.”  

Selama tinggal di Popuba, saya hampir tidak pernah menjumpai perempuan yang duduk-duduk saja. Setiap pagi perempuan sudah sibuk di dapur, kandang babi dan pergi ke kebun. Saya melihat perempuan selalu meletakkan noken di kepala dan sepotong kayu di tangan. Noken untuk isi ubi dan anak. Kayu untuk menyiangi ubi di kebun. Pada waktu pulang dari kebun, mereka singgah untuk mencuci ubi di kolam. Sesudah itu, mereka pulang ke rumah. Di rumah mereka memberi makan babi di kandang. Kemudian baru masak untuk makan malam.

Saya berani memberikan kesaksian bahwa perempuan Balim adalah pembawa kehidupan bagi orang Balim. Perempuan Balim itu nit nyewe apikogo hagatnyawigin meke kiaga. Makna ini layak dan pantas disandang oleh perempuan Balim karena kerja kerasnya.

Saya tahu bahwa orang Balim sering memandang bahwa perempuan juga pembawa masalah himi/homi wene nyekimo wolok.Tetapi, saya tidak mau membicarakannya di sini, sebab hakikat perempuan Balim adalah pekerja keras, pembawa kehidupan dan keselamatan bagi orang Balim.

Seorang laki-laki Balim yang hebat, selalu lahir dari perempuan Balim yang hebat. Tanpa perempuan, laki-laki Balim kepu/doni, tidak ada apa-apanya. Saya tidak bermaksud merendahkan laki-laki Balim, tetapi mau mengungkapkan dengan jujur bahwa perempuan Balim adalah manusia tangguh yang bisa membawa perubahan dan masa depan orang Balim. Karena itu, perempuan Balim, khususnya yang sudah tinggal di kota dan melupakan identitasnya sebagai manusia tangguh untuk bangkit kembali dan melakukan gerakan perubahan, demi masa depan Papua yang lebih baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x