Mohon tunggu...
PETRUS PIT SUPARDI
PETRUS PIT SUPARDI Mohon Tunggu... Menulis untuk Perubahan

Saya lahir di Ohe, Sikka, Flores, NTT dan besar di Merauke, Papua. Menyelesaikan pendidikan SD-SMA di Merauke. Kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura. Saat ini aktif dalam gerakan pemberdayaan masyarakat kampung di Asmat.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Dokter Dua Ribu Rupiah

24 Mei 2013   13:14 Diperbarui: 24 Juni 2015   13:06 2438 22 14 Mohon Tunggu...
Dokter Dua Ribu Rupiah
13693926371988072069

[caption id="attachment_263328" align="aligncenter" width="565" caption="www.hidupkatolik.com"][/caption]

Raut wajahnya selalu tersenyum. Tubuhnya tinggi kurus. Rambutnya putih. Suaranya lembut. Setiap pasien diterimanya dengan ramah. Diperiksanya mereka dengan teliti berdasarkan keluhan yang disampaikan. Lalu, resep pun diberikan. Biasanya disertai suntikan vitamin. "Dua ribu rupiah" jawabnya ketika ditanya harus bayar berapa. Itulah dokter Sudanto. Dokter bagi orang-orang miskin di kota Jayapura, Papua.

Selasa, 14 Mei 2013, pk 11.45 WIT, usai membersikah taman di depan kos, tempat saya tinggal, di Arso 2, Keerom, saya merasa badan kurang enak. Badan terasa dingin, padahal matahari bersinar memancarkan teriknya. Kondisi ini berlangsung hingga malam hari. Keesokan paginya, Rabu, 15 Mei 2013, pk 08.20 WIT saya berangkat ke Abepura. Saya singgah di Apotik Rahmat untuk periksa darah. Apakah ada malaria? Saya segera masuk lab dan diambil sampel darah untuk diperiksa. Hasilnya malaria negatif. Sesudahnya, saya beli jarum suntik biar disuntik vitamin. Saya pun mulai ikut antri bersama puluhan pasien lain, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa dan orang tua. Kami menunggu giliran untuk diperiksa oleh dokter Sudanto. Saat tiba giliran, saya pun diperiksa oleh dokter Sudanto: "Dokter sejak kemarin siang, saya punya badan terasa sakit-sakit. Itu saja," ungkap saya kepadanya. Beliau menjawab: "Ya, disuntik saja." Sambil menuliskan resep. Saya tanya lagi: "Dokter, bayar berapa?" "Dua ribu," jawabnya santai. Saya pun mengeluarkan dua ribu rupiah dari dompet dan memberikan kepadanya. Sesudah itu saya disuntik oleh seorang asistennya. Saya meninggalkan ruang praktek dokter Sudanto dengan lega karena akan segera dapat obat untuk diminum. Saya menuju apotik yang hanya bersebelahan dengan ruang prakteknya. Saya menyerahkan resep obat. Petugas kasir memberitahu harga obat Rp 47.000. saya menyerahkan uang tersebut. Tidak lama kemudian, saya menerima obat dan langsung melanjutkan perjalanan ke Sentani untuk mengikuti rapat Koordinasi Pattiro Papua. Dokter Sudanto memang sangat terkenal di Papua karena kecintaannya terhadap kaum miskin. Beliau mula-mula memberi tarif Rp 500 (lima ratus rupiah). Seiring berlalunya waktu dinaikkannya menjadi Rp 1000 (seribu rupiah) dan kini menjadi Rp 2000 (dua ribu rupiah). Di tengah geliat jutaan dokter yang meraup untung dari pasiennya, dokter Sudanto justru meluluhlantakkan realitas dunia ini dengan sikap pelayanannya tanpa pamrih kepada setiap insan manusia yang datang kepadanya dengan tarif yang sangat murah. Ia tidak memandang latar belakang suku budaya, adat, agama dan status sosial. Semua pasien diperlakukannya sama, sesuai dengan keluhan yang diderita. Itulah dokter Sudanto. Sosok yang lahir di Purwokerto dan menyelesaikan pendidikan dokternya di UGM pada tahun 1976, lalu mengabdikan hidupnya di tanah Papua, yang dimulainya dari Asmat, kemudian pindah ke Abepura, Jayapura. Dialah dokter yang memberi inspirasi bagi banyak orang untuk setia melayani, tanpa menuntut upah tinggi. Kepadanya patut diberi rasa hormat dan penghargaan yang tinggi atas dedikasinya bagi pelayanan kemanusiaan. Semoga semakin banyak orang mengikuti teladan dan semangat pelayanan dokter Sudanto dalam melaksanakan tugas dan karya mereka dalam bidang apa saja. Ya, semoga dan semoga.

Sanggar Semadi Santa Klara Sentani, Kamis, 16 Oktober 2013;08.30 WIT

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x