Mohon tunggu...
Petra Teofani
Petra Teofani Mohon Tunggu... Writer

Senja tak pernah menguasai hari, namun ia mengguratkan rindu pada sanubari

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ketika Aku Mencintai Api (3)

29 Agustus 2019   10:18 Diperbarui: 29 Agustus 2019   10:19 29 1 0 Mohon Tunggu...
Ketika Aku Mencintai Api (3)
pinterest.com/welweddings/

Masih lekat dalan ingatanku ruangan konseling yang rapi dengan wanita paruh baya duduk di belakang meja berlapis kaca. Gincu merah di bibirnya yang tipis bukanlah satu-satunya yang kuingat tentangnya. Ada lagi. Aku cukup yakin wanita itu gemar menasihatiku untuk melupakan seseorang.

Lupakan....

Lupakan tentang dia....

Lupakan semua yang pernah terjadi....

Dan kamu akan kembali bahagia....

Sayang nasihat itu tak pernah mempan untukku.

----------------------------

Tangan kurus Talia menggenggam tanganku erat tatkala kami duduk di bawah pohon kamboja kuning.

"Kamu akan sembuh," kataku pelan. Ia hanya tersenyum tipis.

"Jangan menipu diri sendiri, Ar," dengan halus ia menjawab. Matanya yang sayu dibingkai wajah tirus menatapku.

"Aku sudah lelah. Kedua orang tuaku, saudaraku, dan sahabat-sahabatku semua mengatakan itu. Tapi kumohon, jangan kamu."

"Lalu haruskah kukatakan kau akan mati?"

"Mati," Talia mengulangi kata itu lalu tertawa lemah. "Seperti kucing saja."

"Kau masih memedulikan bahasaku di saat seperti ini?" Aku tersenyum. Itu memang kebiasaan khas Talia, mengoreksi penggunaan bahasa yang salah. Bahkan sampai menjelang ajalnya.

Talia menyandarkan kepala di bahuku. Aku bisa merasakan tulang tengkoraknya yang menonjol di kepalanya yang licin tak berambut. Kemoterapi telah merenggut rambutnya yang dulu halus dan berombak.

"Kamu lelah? Kita masuk saja sekarang."
Akhir-akhir ini ia sering pingsan kalau kelelahan. Gawat kalau ia pingsan di sini. Tidak ada yang bisa dimintai bantuan. Mana kuat aku membopongnya sendirian.

Talia menggeleng lemah.

"Ar... aku belum siap pergi."

Aku tahu maksudnya bukan pergi dari tempat ini, tapi pergi dari dunia ini. Namun aku tak bisa menjawab. Kata-kata hiburan menggumpal, menyangkut di tenggorokanku. Sejatinya aku tahu, tidak satupun kata itu bisa menghiburnya.

"Aku masih ingin sekolah, ingin kuliah, bekerja, dan hidup bersama orang yang kucintai. Aku baru lima belas tahun, Ar.... Ini sungguh tidak adil," ia mulai terisak di bahuku. Air matanya jatuh membasahi kaus yang kupakai.

"Kenapa orang lain diijinkan berumur panjang? Kenapa teman-temanku tidak ada yang menderita leukimia sepertiku? Kenapa orang lain bisa bahagia, sementara aku tidak? Kenapa?" Isakannya berubah menjadi kemarahan.

Nada Talia semakin meninggi, "Aku sungguh tidak paham dengan orang yang bunuh diri. Mereka dikaruniai hidup yang berharga dan mereka membuangnya begitu saja. Tentu saja mereka menjalani hidup yang sangat berat hingga memutuskan bunuh diri. Tetapi aku tetap tidak bisa menerima. Aku rela menukar hidupku dengan hidup mereka!"

"Talia, jangan begitu..."

Talia menegakkan kepala yang tadi disandarkannya pada bahuku, "Terus saja bela mereka! Kamu tidak pernah tahu rasanya menjadi diriku."

Hening. Aku memutuskan tidak menanggapi. Itu hanya akan menyulut kemarahan Talia semakin parah.

Mendadak Talia lemas kembali. Kepalanya yang tadi tegak kini kembali bersandar di bahuku. Kemarahan telah menguras energinya.

"Maafkan aku, Ar. Aku terbawa emosi. Seharusnya aku tidak bilang begitu. Toh aku tidak pernah menjalani hidup mereka. Siapa aku yang berani-beraninya menghakimi seperti itu." Suaranya lemah, hampir tak terdengar.

Aku melingkarkan lengan di bahunya yang kurus. Memeluknya.

"Besok adalah ulang tahunku," mendadak Talia mengubah topik, "Mungkin yang terakhir kali. Maukah kau memberiku hadiah yang istimewa? Setidaknya aku ingin menutup hidupku dengan indah."

"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku lembut

"Apa saja. Terserah kau."

"Aku punya hadiah yang istimewa, tetapi aku tidak yakin kau mau menerimanya."

Talia tersenyum, "Mengingat kau bisa jadi sangat usil kadang-kadang, memang belum tentu aku menerima hadiahmu."

"Kau pikir aku akan seperti itu di saat seperti ini?"

"Manusia sulit berubah, kan? Sudahlah, aku penasaran, apa hadiahnya?"

"Eits ini kan belum hari ulang tahunmu?"

"Tak apa. Siapa tahu besok aku sudah pergi. Nanti kau menyesal."

Aku diam sejenak. Mendadak badanku terasa panas dingin. Aku tidak yakin keputusanku ini benar. Bagaimana jika dia tidak menerimanya? Bagaimana jika ini hanya menyakiti hatinya?

"Baiklah kalau begitu.... Talia, maukah kau menjadi pacarku?"

(Bersambung)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
29 Agustus 2019