Mohon tunggu...
Aam Permana S
Aam Permana S Mohon Tunggu... freelance

Menulis, jalan-jalan, merekam kejadian dan nonton sama istri. Mengalir, semuanya mengalir saja; patanjala

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pengamalan Sila Pertama Pancasila terhadap Adanya Pandemi Covid-19

2 Juni 2020   10:15 Diperbarui: 2 Juni 2020   10:06 13 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengamalan Sila Pertama Pancasila terhadap Adanya Pandemi Covid-19
wartakota.tribunnews.com

Judul tulisan ini barangkali berlebihan. Tapi fakta pendukungnya saat Covid19 jadi pandemi termasuk di Indonesia, demikian nyata.


Bagi penulis,  fakta itu seakan menguatkan bahwa sila pertama Pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa, hanya susunan kata semata!

Inilah penjelasannya.

Penulis meyakini, Covid19 adalah virus ciptaan Tuhan yang sengaja diturunkan. Tuhan menurunkannya tentu dengan alasan tertentu, yang mudah dimengerti oleh ahli hikmah dan tafsir dari berbagai agama yang ada.

Walau penulis bukan penganut Islam yang patuh, tapi penulis yakin, Covid19 adalah virus yang diturunkan Tuhan dengan membawa pesan tersembunyi.

Penulis yakin demikian, karena dalam Al Quran banyak ayat yang memberi pesan bahwa di semua yang lahir dan ada di dunia, selalu ada Tangan Tuhan.

Sejatinya, kita semua sadar akan hal itu.

Dengan demikian, ketika Covid 19 merebak, kita tidak berlebihan menyikapinya. Covid19 tidak perlu dianggap virus jahanam pembawa kematian.

Nyatanya, ini yang membuat penulis sesak, virus kiriman Tuhan yang dihadirkan membawa sejumlah pesan itu, malah dilawan.

Berbagai tagline perlawanan terhadap Covid19 bermunculan. Covid19 kemudian dianggap musuh bersama.

Awalnya, penulis berharap Indonesia sebagai negara beragama dan penganut Pancasila yang salahsatunya memiliki sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak latah. Indonesia tidak mengekor cara negara lain saat Covid19 jadi pandemi.

Kenyataannya Indonesia latah. Pembatasan berskala besar dilakukan dalam berbagai segi kehidupan. Masjid dan tempat beribadah lain ditutup, pasar dibatasi jam operasionalnya, demikian pula pusat perbelanjaan.

Imbasnya, pemerintah harus menggelontorkan anggaran di luar yang direncanakan sebelumnya, dengan angka fantastis, untuk menyelamatkan mereka yang mendadak kehilangan matapencaharian sementara.

Sesak, ya penulis sesak mencermatinya.

Padahal, Covid19 semestinya bukan untuk dilawan. Manusia harus "bersahabat" dengan virus itu, sebagaimana hal kita bersahabat dengan virus lainnya.

Untunglah, belakangan dunia sadar yang kemudian lagi-lagi ditiru Indonesia,  bahwa Covid19 tidak untuk dilawan. Manusia kini diharuskan  terbiasa hidup bersama Covid19 yang tidak kelihatan wujudnya oleh mata telanjang.

Penulis tidak tahu, apakah munculnya strategi hidup baru yang disebut new normal sebagai wujud "takluknya" manusia kepada Covid19, atau karena muncul kesadaran bahwa Covid19 ciptaan Tuhan yang tidak perlu dilawan?

Hanya, bagaimanapun, menurut hemat penulis, penerapan new normal termasuk di Indonesia kini sudah tepat dan sudah berada dalam jalur sebagai negara Pancasila yang memercayai adanya Tuhan dan ciptaan-ciptaannya.

Jadi, sila pertama tidak perlu dihapus, karena kita sudah mengamalkannya. ***

VIDEO PILIHAN