Mohon tunggu...
Aam Permana S
Aam Permana S Mohon Tunggu... freelance

Menulis, jalan-jalan, merekam kejadian dan nonton sama istri. Mengalir, semuanya mengalir saja; patanjala

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Situs Benteng "Batre" di Sumedang, Peninggalan Siapa?

27 Agustus 2018   14:57 Diperbarui: 27 Agustus 2018   15:18 0 0 0 Mohon Tunggu...
Situs Benteng "Batre" di Sumedang, Peninggalan Siapa?
Meneliti Benteng Batere/dok penulis

Situs yang diduga peninggalan Belanda dan disebut warga setempat Benteng "Batre"  di  Desa Mekarjaya, Sumedang Utara, Kab. Sumedang, Jawa Barat, mulai diteliti Tim Arkeologi Wilayah Jabar, DKI dan Banten.  Hasil penelitian sementara, situs tersebut peninggalan Belanda pada abad 20.

"Untuk sementara kami menyimpulkan bahwa bangunan yang ditemukan warga  ini peninggalan Belanda, pada abad 20. Pendiriannya satu masa dengan pendirian  Benteng Gunung Kunci, yakni tahun 1917-1920," kata Oktaviandi, salahseorang arkeolog yang meneliti situs tersebut.

Namun bagaimana sebenarnya situs tersebut, Tim belum bisa memastikan. Apalagi karena kajian yang dilakukan tim sekarang  baru sebatas pengamatan fisik sekitar benteng untuk mencari  gambaran dari struktur bangunan. Kajian yang komprehensif atas situs tersebut, masih belum dilakukan.

"Kami masih akan terus melakukan penelitian dulu," kata peneliti lainnya.

Situs yang disebut warga Benteng "Batre: tersebut  ditemukan warga yang sedang menggali tanah di Blok Pangaduan Hayam, beberapa waktu lalu. Pihak desa yang antusias dengan penemuan tersebut,  kemudian melakukan penggalian situs. 

Menurut Kepala Desa Mekarjaya Dudung Suryana, pihaknya berinisiatif melakukan penggalian karena yakin, situs itu bisa memberi nilai tambah bagi desanya, jika dikemudian hari dikembangkan jadi ovyek wisata.

"Alasan lain karena instansi terkait di Sumedang kurang memberikan perhatian walau kami sudah melaporkan penemuan tersebut," ujarnya yang mengaku terpaksa menggunakan anggaran dana desa untuk biaya penggaliannya.

Situs tersebut, berada di ketinggian 750 mdpl dan berada di tanah kas Desa Mekarjaya seluas 20 hektar. Sementara luas situsnya sendiri, diperkirakan mencaia 1,5 hektar.

Dudung berharap, penelitian yang kini dilakukan bisa memberikan gambaran sebenarnya soal situs tersebut. "Selebihnya saya berharap, nanti bisa dikembangkan jadi obyek wisata dan bisa meningkatakan pendapatan desa," katanya. ***