Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Jurnalistik untuk Eksekutif

2 Desember 2018   08:07 Diperbarui: 2 Desember 2018   08:59 228 7 3
Jurnalistik untuk Eksekutif
Dokumentasi Pribadi

Membaca buku babon jurnalistik "News Reporting and Writing" seperti membaca buku panduan atau kamus, harus diulang-ulang karena di sana ada panduan penting menulis berita. Kegiatan membaca ini rutin saya lakukan agar keilmuan dan pengetahuan saya tidak cepat menguap.

Namun demikian sekarang ini bukan lagi bagaimana saya menulis berita, melainkan bagaimana mengajarkan teknik penulisan khusus ini kepada publik, siapapun mereka yang berminat.

Sungguh di luar dugaan dan fenomena baru bahwa para eksekutif, CEO, sampai pejabat berbagai departemen saat ini ingin mahir menulis berita peristiwa layaknya seorang jurnalis.

Kepada mereka setidaknya saya mengajarkan hal penting yang selama ini mungkin belum mereka ketahui, yaitu "How to think like a journalist". Saya membalik logika, bukan perlunya mereka, para eksekutif itu jadi wartawan, tetapi bagaimana mereka punya kepekaan terhadap berita (nose for nose) dan nilai berita (news value) dalam lingkup pekerjaan mereka sebagaimana wartawan memainkan insting jurnalisnya.

Pada satu sesi, mereka harus belajar bertanya dalam bentuk wawancara sekaligus bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang relevan dengan ide yang dikembangkan.

Di lingkup pekerjaan masing-masing, para CEO atau eksekutif itu mungkin hanya terbiasa mewawancarai orang atau bertanya. Menjawab pertanyaan, itu persoalan lain yang memang ada seninya dalam ilmu jurnalistik. Di sini mereka perlunya belajar bagaimana cara jurnalis berpikir dan bekerja.

Uniknya, para eksekutif itu tunduk saja ketika pada satu sesi ia harus menulis berita dan feature yang saya ajarkan di sesi sebelumnya. Pun ia juga harus bertindak sebagai pewawancara maupun yang diwawancarai.

Lalu sebagai tutor saya harus bagaimana?

Imperatif dan otoriter!

Ga peduli mereka membayar profesionalisme saya, tetaplah saya menempatkan diri sebagai "ordinat", bukan "subordinat" mereka. Saya harus mengatasi mereka.

Tentu saja dengan satu catatan penting; kepala harus penuh dengan pengetahuan dan informasi yang update. Jika kepala kopong, sama saja dengan bunuh diri.

Tidak ada waktu berbaik-baik jika sudah menghadapi mereka, bahkan senyum pun bisa menguap seketika.

Kejam memang.