Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung selama 26 tahun dengan Harian Kompas sejak 1990 hingga 2016. Setelah menyatakan pensiun dini, hari-hari diisi dengan membaca, menulis, mengajar, dan bersosialisasi. Menulis adalah nafas kehidupan, sehingga baru akan berhenti menulis saat tidak ada lagi kehidupan. Bermimpi melahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal. Saat ini mengelola portal UGC politik https://PepNews.com dan portal UGC bahasa Sunda http://Nyunda.id Mengajar ilmu menulis baik offline di dalam dan luar negeri maupun mengajar online di Arkademi.com.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

[Serial Orba] Genteng Kuning

4 Desember 2018   17:15 Diperbarui: 5 Desember 2018   08:52 625 15 2
[Serial Orba] Genteng Kuning
ilustrasi (furnizing.com)

Naluri kekalahan yang telah semakin mendekatlah yang membuat Golongan Karya jelang Pemilu 1997 membuat gebrakan unik: meminta genteng rumah simpatisan Golkar dicat kuning, sesuai warna Golkar yang saat itu ogah disebut partai politik.

Yang memerintahkan tentu saja Ketua Umum Golkar, yaitu Harmoko, juga menjabat Menteri Penerangan yang dikenal dengan narasi legendarisnya, "Menurut petunjuk Bapak Presiden..."

Bapak Presiden di sini tentu saja Soeharto, penguasa Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun tanpa terputus. Golkar sendiri hasil kreasi Soeharto, kendaraan untuk dia berkuasa. Selain Golkar, kekuatan lainnya Militer dan Birokrasi. Tiga pilar ini dahsyat memang.

Riak gelombang perlawanan terhadap Orba sudah muncul dengan membangkangnya Megawati Soekarnoputri yang tidak mau tunduk di tangan Soeharto. PDI-nya direbut oleh "trio pirates" (bunyinya seperti triumvirat) Soerjadi-Fatimah Achmad-Buttu Hutapea. Megawati dan loyalisnya tersingkir sementara waktu.

Nah, pada Pemilu 1997 itu tanpa perintah genteng rumah harus dicat kuning pun Golkar sudah pasti menang, wong kekuatan PDI Megawati sudah tidak ada. Yang ada "PDI Boneka"-nya Soerjadi itu. Tetapi kekonyolan terjadi pada masa Orba itu, di mana genteng rumah milik simpatisan dan fungsionaris Golkar harus dicat warna kuning Golkar.

Galibnya warna genteng itu bercat merah bata, hijau lumut, atau bahkan hitam. Kuning? Jarang banget, tetapi itu menjadi kelucuan tersendiri.

Khususnya di Jawa Tengah yang basis Banteng, dari atas pesawat sebelum mendarat di Semarang atau Solo, misalnya, deretan genteng-genteng rumah warna kuning Golkar sudah terlihat. Bukan indah, malah bikin senyum kecut. Tetapi tidak bagi Hormoko, "Indah, kan?" katanya.

Tetapi begitulah Orba dengan Golkar sebagai salah satu instrumen kekuasannya, apapun bisa dilakukan, termasuk yang lucu-lucu.

Uniknya dua tahun kemudian, ketika Pemilu 1999 mendadak dipercepat, tidak ada fungsionaris dan simpatisan Golkar yang mengecat lagi genteng rumahnya dengan warna kuning mencolok. Mereka rupaya ketakutan sendiri telah datangnya kekuatan politik baru bernama PDI Perjuangan di bawah pimpinan Megawati.

Ya, anak biologis Soekarno itu telah "come back" setelah Soeharto menyatakan berhenti 21 Mei 1998.

Tetapi genteng rumah bercat kuning Golkar harus dicatat sebagai bagian dari kelucuan sejarah saja, ga penting untuk diingat kok.