Pepih Nugraha
Pepih Nugraha profesional

Gemar catur dan mengoleksi papan/bidak catur. Bergabung dengan Harian Kompas sejak 1990, hari-hari diisi membaca, menulis, dan bersosialisasi. Selain sharing menulis offline maupun online di funpage Facebook "Nulis bareng Pepih" dan situs pribadi http://pepnews.com, mempraktikkan dan mengobarkan citizen journalism dan hybrid journalism. Bermimpi lahirkan para jurnalis/penulis kreatif yang andal sebagai sebuah obsesi. Upaya dan langkah untuk mewujudkan obsesi itu dengan mengajar dan memberi pelatihan menulis/jurnalistik di dalam dan luar negeri, serta menjadi juri berbagai lomba menulis.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Mengapa Saya Hengkang dari Palmerah ke Kemang?

2 Januari 2017   22:53 Diperbarui: 4 Januari 2017   09:55 11360 72 68
Mengapa Saya Hengkang dari Palmerah ke Kemang?
Ilustrasi. TransplantBuddies.com

Ada seorang teman yang memberi kiasan dengan tepat, sampai-sampai saya terhenyak, tertegun sesaat untuk mencerna kalimatnya yang sederhana, lalu dada seperti sesak sendiri, seakan-akan ada beban yang mengimpit. Dia mengibaratkan saya telah melahirkan anak bernama Kompasiana dan mengurusnya sampai delapan tahun. Namun kemudian, secara tidak terduga saya meninggalkan anak yang telah saya besarkan itu mulai 1 Januari 2017 ini.

Tentu saja usia itu relatif. Delapan tahun usia anak manusia berbeda dengan delapan tahun blog sosial Kompasiana. Delapan tahun anak manusia itu belumlah dewasa, masih kanak-kanak dan tidak mungkin saya tega meninggalkan anak yang masih membutuhkan pertolongan itu, anak yang masih sangat bergantung kepada orangtua. Berbeda dengan delapan tahun usia Kompasiana. Bagi saya, ia telah tumbuh menjadi "media sosial dewasa" dengan segenap keunikannya, dengan kehebatannya mempersatukan banyak penulis untuk menjalin persaudaraan. 

Saat saya berketetapan hati meninggalkan "anak" yang saya lahirkan dan besarkan, bukan tanpa alasan. Beban ada, tentu saja. Tetapi ketika saya cek performa bisnis Kompasiana, predikatnya "growth" dibanding tahun lalu. Kompasiana sudah secara mandiri bisa menghidupi SDM, supporting man power dari unit lain, menyewa AWS sebagai penyimpan data di awan yang mahal, dan belanja lainnya. Memang revenue yang dihasilkannya tidaklah besar dibanding Kompas.com atau bahkan Harian Kompas. Debulah, barangkali. Akan tetapi, performa "growth" dengan penanda biru itu sesuatu yang diidamkan unit-unit bisnis lain di lingkungan Kompas Gramedia. Dan, Kompasiana tetap menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Demikian juga saat meninggalkan Kompasiana. Jabatan saya tergolong tinggi, COO Kompasiana, yang pada beberapa tahun silam saat Taufik Mihardja masih ada, bersama PSDM menjanjikan  akan mengubah satu huruf tengah COO menjadi CEO Kompasiana. Kenyataan itu tidak pernah terjadi meski saya bukanlah orang yang gila pangkat, mengejar status supaya terlihat gagah.  SDM punya penilaian sendiri dan secara performa saya belum pantas menuju ke sana. Saya bahkan risih sendiri dengan predikat COO yang melekat di depan nama saya, apalagi menyandang CEO. Wow!

Niat untuk selesai dari Harian Kompas sudah terbersit sejak dua tahun lalu saat usia memasuki 50. Bahkan istri saya "mengejek" niat saya itu sebagai main-main yang tidak mungkin saya lakukan. Bukan apa-apa, saya sudah tergolong nyaman dan mapan dengan gaji yang saya peroleh setiap bulannya. Sebab, meskipun saya mengerjakan Kompasiana, status saya tetaplah wartawan Kompas, bagian dari Redaksi Kompas, yang di kalangan KG sebagai unit kerja "idaman" dengan limpahan fasilitas yang di atas rata-rata. Akan tetpi ketika dua tahun kemudian saya menyatakan niat saya dua atau tiga bulan sebelum one month notice, tak urung istri saya kaget juga. "Sudah dipikir masak-masak?" katanya dengan nada tanya.

Wajar kalau istri bertanya seperti itu. Tidak jauh-jauh dari urusan keberlangsungan ngebulnya dapur. Tiga tahun sebelumnya istri yang juga resign dari Kompas, eh, sekarang malah saya ikut-ikutan pensiun. Dari mana saya bisa menghidupi keluarga setiap bulannya? Saat itu saya berpikir; saya bisa mengembangkan diri dalam bidang kepenulisan, mengajar ilmu menulis dan jurnalistik, dan menulis secara bebas di manapun saya suka. Sama sekali tidak terpikir untuk membuat bisnis rintisan seperti sekarang ini.

Tentu keputusan saya "hijrah" dari Palmerah ke Kemang, tempat di mana usaha rintisan saya berkantor, bukan didasari kekecewaan, ketidakadilan, kemarahan, dan energi negatif lainnya. Ibarat meloncat dari bibir sungai menuju titian kayu, saya sudah punya ancang-ancang dan memperthitungkannya dengan baik. Tidak serta merta begitu. Keputusan saya berhenti dan membangun pltaform baru bukan semata-mata karena uang atau materi. Kalau persoalan itu, sudah saja saya menunggu dengan tenang sampai delapan tahun berikutnya, sampai masa pensiun saya tiba. Lalu pulang ke kampung menikmati uang pensiun yang besarnya 75 persen dari gaji pokok terakhir. Nyaman, bukan?

Jujur, keputusan saya mendirikan platform web baru bersama teman-teman lebih karena suatu ihtiar atau upaya dalam melawan informasi hoax dan fitnah di media sosial yang sudah dianggap kebenaran. Selain itu, adanya keresahan yang bersemayam dalam diri saya di mana sekian ide, gagasan dan inovasi di kepala ternyata tidak bisa saya laksanakan di kelompok bisnis KG yang sudah di-branding-kan sebagai bisnis media itu. Di sisi lain, yang saya ingin bangun adalah sebuah produk yang BUKAN MEDIA, yakni sebuah platform web berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan yang sepenuhnya diserahkan kepada performa mesin. 

Berbicara mesin digital, saya harus memalingkan wajah kepada orang-orang IT sekaligus mengubah paradigma dari perusahaan media ke perusahaan digital. Di perusahaan digital, IT adalah tulang punggungnya yang berbeda dengan bisnis media di mana IT "hanyalah" berpredikat sebagai "supporting". Bahkan yang paling mengejutkan, anak-anak IT Kompas.com yang "dipinjam" oleh Kompasiana sebagai "supporting" menganggap penempatannya di Kompasiana sebagai KUTUKAN. Lemas lutut saya mendengarnya!

So, kenapa saya bicara terus-terang begini? Karena saya ingin memberi masukan yang baik buat raksasa bisnis bernama Kompas-Gramedia yang demikian melegenda dalam bisnis media itu. Kasarnya saya ingin mengatakan, bisnis media itu sudah memasuki "senjakala", apapun jenis medianya, bukan hanya media cetak. Tersebab, sekarang dan dalam waktu yang tidak lama lagi, semua informasi yang ada di koran cetak, online, elektronik (tv dan radio), sudah bisa dilihat di telapak tangan lewat ponsel masing-masing. Apa yang mereka lihat? Aplikasi! Sekali lagi APLIKASI! 

Bagaimana saya yang bukan siapa-siapa di perusahaan raksasa ini dengan gagah mengatakan, "Hai, Bro, please jadikanlah IT sebagai tulang punggung bisnismu jika kamu berniat memasuki bisnis digital!" Ah, siapa elo, Pep! Demikianlah kira-kira. Tetapi saya punya keyakinan, memasuki bisnis digital dengan hanya menempatkan IT sebagai "supporting" itu sebuah kesia-siaan. Jika masih mengandalkan kekuatan redaksi/admin sebagai ujung tombak, di kala setiap orang adalah media itu sendiri yang memproduksi kontennya sendiri-sendiri di media sosial, maka "senjakala" itu semakin merona di ufuk barat.

Tetapi saya sesungguhnya ingin mengatakan; bisnis media tetap bisa jalan tetapi cara penyebaran sekaligus jualan kontennya itu yang harus diperbaiki. Dan saat media shifting perlahan-lahan dilakukan, maka ujung tombaknya adalah bisnis aplikasi digital di belantara Internet. Tidak usah menangisi turunnya cetak, toh saya punya keyakinan seturun-turunnya oplah cetak, dia tidak akan mati begitu saja. Buku cetak saja masih ada kendati sudah ada buku digital, bukan? Persoalannya adalah, bagaimana melakukan media shifting itu dengan baik di saat bersamaan tetap memelihara pembaca cetak. Ini sebenarnya yang ingin saya sampaikan; "Ubahlah paradigma dengan menjadikan IT sebagai backbone kalau berniat masuk ke bisnis media digital, apalagi platform untuk jualan konten!

Dalam bisnis digital, akuisi pengguna (users acquisition) adalah katakuncinya. Kalau punya media dan sekian juta orang membaca media itu, berarti ia belum melakukan users acquisition. Boleh jadi masih menarik perhatian pemasang iklan. Tetapi jutaan pembaca bisa beralih karena sejatinya mereka adalah swinging reader, pembaca yang mudah berayun tanpa ikatan apa-apa, beralih ke lain hat bernama media sosial. 

Bolehlah saya katakan, "sehina-hina"-nya Kompasiana di mata para nyinyiers, dia secara organik dan tersistem sudah melakukan akuisi penggunanya. Valuasinya adalah 350.000 penulis dengan 15-20 juta pengunjung setiap bulannya, plus 50 juta halaman yang dibaca! 

Silakan bikin media baru, lalu tanya pada diri sendiri; apa kira-kira valuasinya? Seberapa berharganya media itu? Bagaimana cara melakukan akuisisi penggunanya? Dan yang lebih penting lagi; apakah yang dibuat itu media atau aplikasi!? Jika belum siap menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana ini, urungkan saja niat bikin media atau paling tidak tunda dulu peluncuran produk media itu sebelum sempurna benar. Coba balik paradigma bahwa yang dibuat itu adalah aplikasi, bukan media. Membuat aplikasi, IT yang maju menjadi tulang punggung. Bahkan saya berani mengatakan, jika platform web sudah sedemikian sempurna dengan mengakuisisi penggunanya secara tidak terbatas (scalable) macam Facebook dan Google, admin/redaksi tidak diperlukan lagi!

Apa yang saya dan kawan-kawan bikin, yakni platform berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan bernama Selasar, bisa saja keliru dan gagal meski dalam menerapkan akuisisi pengguna secara tidak terbatas. Tetapi saya yakin, membangun platform itu tidak sekali jadi. Lihatlah Facebook yang memiliki akun 1,3 miliar itu, sampai saat ini dia belum berhenti berinovasi. Selalu ada penyempurnaan setiap ada perkembangan.

Meskipun gagal dan jatuh, namanya usaha hanya memiliki dua kemungkinan; gagal atau berhasil. Tetapi jika Selasar berhasil karena memiliki keunikan tersendiri, karakteristiknya yang mengakuisisi pengguna secara tidak terbatas, dan bermanfaat bagi para penggunanya, maka keputusan itulah yang membuat saya meninggalkan Kompasiana yang sudah besar dan mandiri untuk kemudian mengasuh serta membesarkan Selasar yang sebagian darinya adalah milik saya sendiri. 

Untuk itulah mengapa saya berpindah dan hengkang dari Palmerah ke Kemang setelah 26 tahun mengabdi.

***

Bintaro, 1 Januari 2017