Mohon tunggu...
Lingkungan Pilihan

Galakan "Zero Sampah", Dukung Program HPSN

10 Mei 2019   12:12 Diperbarui: 10 Mei 2019   12:18 0 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh: Penny Charity Lumbanraja

"Kalau dari ketidakpedulian ini salah satu ukurannya masalah sampah, di angka indeks itu angka tidak pedulinya 0,72. Itu artinya, kita harus terus-menerus bersama-sama dengan masyarakat, pemerintah, para aktivis, dan semua elemen untuk mengikis angka ketidakpedulian itu, terkhusus pada sampah," tegas Siti Nurbaya, Menteri LHK yang memberi sambutan pada puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Pantai Sendang Sikucing, Kendal, Jawa Tengah pada Bulan Februari lalu.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik, menurutnya,  angka ketidakpedulian masyarakat terhadap sampah masih cukup tinggi. Oleh sebab itu, Siti dengan tegas menggenjot masyarakat untuk lebih peduli menyingkirkan sampah. Hal ini dilakukannya untuk menjadikan Indonesia bebas dari sampah.

Mengapa Hari Peduli Sampah Nasional ditetapkan pada tanggal 21 Februari?
HPSN pertama kali ditetapkan pada tahun 2005. Hari itu ditetapkan tepat setelah terjadinya tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada tanggal 21 Februari. Peristiwa naas tersebut terjadi  akibat curah hujan yang tinggi dan ledakan gas metana pada tumpukan sampah.

Tumpukan sampah tersebut jika terkena air hujan terus-menerus akan menghasilkan gas metana. Permukaan sampah plastik yang tidak berpori sehingga gas metana yang dihasilkan terkukung di dalam tumpukkan. Akibatnya, gas metana yang terjebak bisa menjelma menjadi percikan api hingga ledakan. 157 jiwa melayang dan dua kampung (Cilimus dan pojok) hilang dari peta karena tergulung longsoran sampah yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah setelah sebelumnya 137 rumah terkubur.

Tragedi ini memicu dicanangkannya HPSN yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi. Dengan adanya Hari Peduli Sampah Nasional, tentu akan menjadi momentum bersejarah bagi kita dan membuat masyarakat untuk merekam peristiwa itu bahwa ketidakpedulian kita terhadap sampah dapat merenggut nyawa sesama kita. Tentunya diharapkan kepedulian besar dari masyarakat Indonesia terhadap sampah yang semakin meningkat.

Masalah sampah tidak pernah habis-habisnya. National Geographic melaporkan bahwa masing-masing kota di dunia setidaknya menghasilkan sampah hingga 1,3 miliar ton setiap tahunnya. Diperkirakan oleh Bank Dunia, pada tahun 2025 tepat di masa bonus demografi di Indonesia, tentu jumlah ini akan terus meningkat. Diperkirakan  jumlah ini akan bertambah hingga 2,2 miliar ton.

"Sampah ini paling banyak datang dari rumah tangga. Jadi kalau sekarang baru bisa dikurangi 2-3 persen paling banyak. Jadi, artinya oleh kita-kita, termasuk rumah saya juga dan di rumah kita juga, bahwa sampah itu sampah aja. Nah, ini harus semakin kita kurangi, artinya kita pilah dengan baik mana yang bisa digunakan ulang, lalu mana yang bisa jadi produk yang lain kalau diolah," tambah Siti.

Riset terbaru Sustainable Waste Indonesia (SWI) tahun 2018 mengungkapkan sebanyak 24 persen sampah di Indonesia masih tidak terkelola. Itu artinya dari sekitar 15 juta ton sampah, mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak dikelola. Sementara hanya 69 persen sampah yang berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Sinta Kaniawati, perwakilan dari PRAISE (Packaging and Recycling Alliance for Indonesia Sustainable) mengungkapkan bahwa sejauh ini hanya sekitar 7 persen sampah yang berhasil untuk didaur ulang dan tentunya masalah sampah harus digerakkan dari kesadaran masyarakat dimulai dari sekarang.

Dengan adanya perubahan sikap dari masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah, hal ini dapat mendorong tumbuhnya circular economy yang komprehensif seperti collecting system yang dapat menciptakan circular economy (perputaran ekonomi).

Strategi dan Kebijakan

Novrizal, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan rincian penggunaan rata-rata sampah rumah tangga masyarakat. Secara nasional sebanyak 0,7 kilogram per hari sampah digunakan per setiap masyarakat. Seperti terdengar ringan, tetapi jika diakumulasikan dengan seluruh penduduk di Indonesia, diperkirakan satu orang Indonesia dalam satu hari memproduksi sampah hingga mencapai 65,7 ton. Bagaimana jika masyarakat belum juga sadar apalagi peningkatan jumlah penduduk di tahun 2025 akan meningkat secara signifikan, di era bonus demografi.

Pemerintah sudah mulai menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah nasional (JAKSTRANAS). Diharapkan dengan adanya kebijakan ini dapat mengurangi sampah sebesar 30 persen di tahun 2025 dan dapat menekan tumpukan sampah sebesar 70 persen. Hal ini menjadi upaya seluruh masyarakat untuk menggalakkan program ini.

Menteri LHK menyebutkan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah merumuskan strategi dan kebijakan dalam pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan terutama pelibatan pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Salah satu program yang dicanangkannya adalah TBBS. Siti Nurbaya Bakar mengatakan, TBBS, "Tiga Bulan Bersih Sampah", selain merupakan salah satu langkah mewujudkan pengurangan sampah. Pengurangan ini sampai 30 persen dan penanganan sampah sampai 70 persen pada 2025 sesuai Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah. Ia juga berharap dengan adanya program ini dapat mewujudkan masyarakat yang semakin peduli lingkungan.

Berbagai kegiatan akan dilaksanakan pada TBBS antara lain gerakan kebersihan di perkantoran, pelabuhan, bandara, stasiun, terminal, car free day, sungai, pasar, kawasan permukiman, gunung, pesisir dan laut. Selain itu, gerakan prinsip 3R. 3R (reduce, reuse dan recycle) sudah lama diterapkan dalam pengelolaan sampah. Namun, jika hanya dominan dilakukan oleh petugas pengelolaan sampah tanpa adanya tindakan pengurangan penggunaan sampah di masyarakat, hal ini tidak akan membawa perubahan mengurangi penggunaan sampah bagi masyarakat. Kita ibarat gasing yang hanya berputar-putar dan tidak menemukan penanganan bersama.

Gerakan kebersihan tersebut akan dilakukan berbagai komunitas peduli sampah dan keagamaan. Peranan bidang keagamaan sangat besar pula untuk menggalak pengurangan penggunaan sampah bagi masyarakat. Salah satunya melalui tempat ibadah.

Aktor utama pada kegiatan ini yaitu masyarakat, aktivis, komunitas, maupun LSM di bidang lingkungan, hingga tokoh-tokoh yang peduli pada sampah, termasuk tokoh agama. Masyarakat tentunya akan berhimpun bersama di tempat ibadahnya masing-masing. Dengan adanya sosialisasi dari program yang menyangkut pengurangan sampah secara langsung kepada masyarakatnya melalui tempat-tempat ibadah diharapkan membawa pengaruh signifikan untuk masyarakat menggerakkan kepeduliannya.

Pengurangan sampah yang dimaksud dapat dilakukan dengan menerapkan budaya mengurangi penggunaan sampah plastik. Botol plastik, cangkir, plastik dapat dikurangi penggunaannya dengan banyak cara. Contohnya, penggunaan tas kain berbahan kain perca dapat digunakan oleh ibu-ibu sebagai pengganti plastik. Tas kain itu dapat digunakan saat berbelanja. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS, Maret 2017, rumah tangga yang tidak pernah membawa tas belanja sendiri sebesar 53,98 persen, dan yang selalu membawa tas belanja sendiri sebesar 9,29 persen.

Sampah menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Sudah sepatutnya masyarakat dari setiap kalangan bersinergis dan mengambil langkah untuk berubah. Dengan adanya kesadaran kolektif, seluruh masyarakat di Indonesia dapat mendukung Pemerintah Indonesia sendiri yang menargetkan negara Indonesia akan bebas sampah (zero sampah) pada tahun 2020.

Kita semua memproduksi sampah, tidak ada yang tidak. Kita semua berada pada lingkungan hidup yang sama, menghirup udara yang sama, dan memiliki tujuan yang sama, dapat hidup dengan lingkungan yang sehat, bersih untuk kehidupan masing-masing. Marilah kita menumbuhkan kepedulian akan pengurangan sampah dan menggerakkan kepedulian itu untuk meraih kehidupan sehat yang lebih baik.

Lingkungan hidup yang sehat merupakan aset milik kita bersama. Aset yang berharga ini tentunya akan menjadi warisan untuk generasi bangsa selanjutnya. Semua orang dapat berkontribusi nyata untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kegiatan sehari-hari. Ayo kita galakkan bersama, dimulai dari diri sendiri.

(*) Penulis bergiat di PERKAMEN (Perhimpunan Suka Menulis)