Mohon tunggu...
Pendeta Sederhana
Pendeta Sederhana Mohon Tunggu...

Sederhana itu adalah sikap hati. Hati adalah kita yang sesungguhnya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Indahnya Kabar Baik

6 Mei 2016   08:35 Diperbarui: 6 Mei 2016   08:42 108 3 0 Mohon Tunggu...

Setiap Kita Adalah Kabar Baik

Setiap orang percaya adalah pemberita Injil dengan kapasitas masing-masing. Dan sekarang ini, kesempatan  memberitakan Injil sudah lebih terbuka. Namun sayangnya, tidak seperti rasul Paulus, banyak orang tidak memiliki Injil itu di dalam hati dan pikirannya untuk diberitakan. Mereka hanya menyimpannya di rak buku atau di lemari, dan sesekali membukanya jika ada pertemuan di gereja. Setelah itu menyimpannya kembali karena takut menjadi rusak dan robek.

Mereka menganggap Alkitab itu merupakan sebuah buku sakral dan harus disimpan baik-baik. Karena tersimpan dengan baik maka isinya juga jarang dibaca. Apalagi memindahkan isinya dan menyimpannya di dalam hati, itu merupakan bagian orang-orang yang telah dikhususkan untuk pekerjaan demikian.

Karena apa yang keluar dari mulut berasal dari hati. Dan hati yang tidak menyimpan Firman, apa yang selalu diperkatakan pastilah bukan Firman. Tetapi apa yang selama ini telah diisi ke dalamnya, segala hal yang masuk ke pikiran dan dibiarkan lalu lalang dan berdiam di dalam pikiran dan akhirnya masuk ke dalam hati.

Memang tidak selalu mudah dan kondusif bagi setiap orang  percaya untuk dapat selalu dan leluasa memperkatakan Firman, menyadari realitas hidup kebersamaan dengan penganut keyakinan yang lain. Akan  tetapi Firman itu sebenarnya bukan hanya sebatas perkataan. Injil itu hidup di dalam diri orang percaya dan menjadi gaya hidup dan sikap hati yang dapat diberitakan kepada orang lain dengan bahasa kehidupan.

Inilah Injil yang sebenarnya, sederhana, mudah dimengerti, mudah dipahami dan disertai dengan pembuktian.  Ketika orang percaya  tidak menyakiti dan melukai, ketika orang percaya mau memberi  dan peduli kepada orang-orang yang sangat membutuhkan, walaupun ia kekurangan. Ketika orang percaya tidak mementingkan diri sendiri dan egois, ketika orang percaya tidak ikut melakukan perbuatan tercela, ketika orang percaya menolak kompromi untuk sesuatu hal yang melanggar hukum dan merugikan orang lain, maka sesungguhnya itu lah berita Injil.

Injil itu juga mencegah  orang percaya menjalani hidup dengan sembrono yang menyebabkan pemberitaan Injil ditolak, karena tidak terlihat dari sikap dan gaya hidupnya. Karena itu, adalah keharusan bagi setiap orang yang memberitakan Injil, sikap dan juga gaya hidupnya   harus berpadanan dengaan Injil  yang diberitakannya.

Tidak seperti apa yang kita dengar dan perhatikan sekarang ini, pemberitaan Injil telah menjadi mata pencaharian bagi beberapa orang sehingga berita Injil yang mereka sampaikan bukan lagi menjadi kabar baik, tetapi menjadi sumber  perpecahan, perselisihan dan percekcokan, karena disertai dengan maksud-maksud yang tidak murni dan berorientasi pada keuntungan dan kehormatan diri si pemberita.

Pemberita Injil juga perlu melatih dirinya,  sehingga dengan latihan yang memadai, Injil itu dapat diberitakan tepat mengenai sasaran. Tidak sembarangan, sehingga tidak menjadi barang murahan yang disebabkan oleh sikap dan penyampaian si pemberita Injil itu sendiri.

Dan yang tidak kurang penting adalah  bagaimana menguasai diri, sehingga tidak mudah terpancing dan bereaksi ketika diprovokasi. Menahan diri dari berbagai bentuk godaan, yang membuat pemberitaan Injil itu tidak memberi dampak, dan akhirnya orang menolaknya karena si pemberita sendiri gagal menghidupinya. Hidupnya tidak bisa menjadi kesaksian Injil dan menjadi teladan  bagi mereka yang mendengar.

Jika si pemberita Injil tidak diubahkan oleh Injil itu, bagaimana Injil itu akan mengubah orang lain seperti yang diinginkannya? Dengan demikian, hendaknya Injil yang diberitakan itu merupakan Injil yang benar-benar hidup dan berpadanan dengan hidup si pemberita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN