bahrul ulum
bahrul ulum Kompasianer Brebes

" Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu "

Selanjutnya

Tutup

Bahasa

Menulis Kompasiana dengan Bahasa Ibu

2 Juni 2018   13:07 Diperbarui: 2 Juni 2018   13:14 287 3 2
Menulis Kompasiana dengan Bahasa Ibu
Lokalitas Bahasa/Doc Fb Ismail Fuad

Bolehkah menulis artikel di kompasiana dengan bahasa lokal yang tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia ? 

Akan semakin keren bila memang diperbolehkan oleh admin kompasiana, dengan catatan bahasa lokal ditulis dulu lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Seperti halnya bila admin kompasiana membolehkan font arab bisa compatible di kolom naskah, maka akan semakin keren. 

Berulang kali ketika penulis coba menulis font arab apa dari sumber asli lalu di copy paste arabicnya dengan mengutip sumber darimana copy datanya, terkadang tidak compatible, akhirnya font arab harus di tulis latin, wah dua kali pekerjaan.

Sekian kalinya memang penulis belum melihat muatan bahasa lokal di dalam penulisan artikel. Kalau boleh alangkah indahnya. Seperti halnya dengan cara radar tegal mengakomodasi bahasa lokal ke dalam tulisan di media cetaknya. 

Sepertinya keren, jika model tulisan lokalitas bahasa menjadi spesifikasi kompasiana, sehingga ada nuansa yang berbeda tentunya, namun itu hanya angan-angan penulis saja, bisa diakomodir atau tidak hanya admin kompasiana yang bisa menjawabnya. 

Penulis belum berani menulis artikel atau berita dengan bahasa lokalitas, karena dalam aturannya belum diinfokan, sehingha bahasa indonesia lah sebagai bahasa penulisan yang dipublish selama ini. 

Penulis yakin, bahwa dari sekian banyak penulis di kompasiana juga ada yang bisa menulis arab lalu membacakan dalam bahasa lokalnya arti dari setiap huruf arabnya dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa indonesia, jika ini diakomodir maka semakin beragam juga khasanah ilmu pengetahuan pembaca. 

Misalnya bahasa lokal " Enyong" Saya ini bisa menjadi bahasa yang enak dibaca bila pembacanya adalah asli orang yang pernah tinggal di Brebes atau memang asli domisili brebes, tegal, banyumasan. Mereka akan merasa terkontak batin dengan membaca bahasa ibunya, termasuk bila orang sunda pun (urang sunda), mereka juga bisa merasakan ada aura bahasa ibu yang melekat dalam khasanah kompasiana. Tapi ide ini bisa terwujud jika admin kompsiana juga mengakomodirnya, jika tidak boleh ya berarti bahasa Ibu dipakai di komunitas lain. 

Secuplik bahasa ibu penulis, karena asli Brebes, perihal woro-woro ngaji bahasa ngoko  " Monggo sedulur kabeh,  saben dina nang jerone wulan ramadhan, saben bada ashar jam 16.00 WIB-17.00 WIb mung sa jam,  ana pengajian sing sifate umum, kabeh umur olih teka nang pengajian mau, ngajine olih gawa kitab, gawa buku, gawa handphone, jiping, sing penting teka tur istiqomah, kitab sing di waca arane kitab Irsyadul Ibad, sing maca Rois Syuriah PBNU jenenge KH. Subhan Makmun, ngajine nglemprakan, monggo hadir ben olih berkah lan barokah," Ujarku.