bahrul ulum
bahrul ulum Kompasianer Brebes

" Apa yang ditulis akan abadi, apa yang akan dihafal akan terlepas, ilmu adalah buruan, pengikatnya adalah tulisan, ikatlah dengan kuat buruan mu itu "

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Pemberitaan Media Mampu Merubah Kebijakan Pendidikan Dasar

9 Maret 2018   08:12 Diperbarui: 9 Maret 2018   08:40 860 0 0
Pemberitaan Media Mampu Merubah Kebijakan Pendidikan Dasar
Alat Tulis Sekolah/Doc Pribadi

Pemberitaan media yang berimbang, didasari dengan data yang akurat, sumber yang terpercaya, analisis yang tajam, dan ada penyajian dengan model grafis disertai foto ilustrasi bergambar dengan indept berita yang holistik akan mampu mendongkrak popularitas medianya dan bisa merubah kebijakan di level daerah. 

Saluran komunikasi aparatur yang paling cepat selain dipemberitaan media sosial, media mainstream, media cetak maupun elektronik bisa menambah referensi bagi para pengambil kebijakan untuk mencari solusi atas informasi yang terpublikasi. 

Mereka akan mencari akar masalah yang sebenarnya, mencarikan solusi lewat pertemuan koordinasi, membuat formulasi kebijakan dan akhirnya muncul kebijakan yang bisa berdampak pada nasib terbaik bagi anak ataupun bagi rakyatnya. 

Dinamika informasi menjadi sangat penting, berbagai sumber informasi menambag khasanah kebijakan, dampaknya dalam pengambilan kebijakan tidak instan, atau populis, ataupun politis. Kebijakan yang dihasilkan akan mampu menjadi angin segar bagi obyek sasaran dan dampaknya ada peningkatan human development indeks. 

Contoh yang bisa penulis sajikan, pemberitaan terkait anak tidak sekolah dengan di sajikan secara menyeluruh, lewat sajian grafis, ada alasan, ada sebaran dan juga ada kebijakan, dan dimuat dalam kolom utama di radar tegal jaringan koran nasional jawa pos mampu membukakan mata batin para pengambil kebijakan, agar nasib anak ini bisa terpecahkan secara bertahap. 

Pemberitaan di Radar Tegal/Doc Pribadi
Pemberitaan di Radar Tegal/Doc Pribadi
Secara ringkas dapat dijelaskan, pemerintah Kabupaten Brebes Jawa Tengah mempunyai komitmen bersama civil society membuat gerakan untuk mengembalikan anak tidak sekolah (ATS) kembali ke sekolah. Tahun 2017 tercatat di data baseline ATS adalah 7.727 anak yang tersebar di desa, baru dikembalikan 1.212 anak melalui jenjang formal, non formal, pondok pesantren. Anggaran awal adalah swadaya masyarakat dan donasi dari CSR yang peduli pendidikan. 

Setelah ada komitmen yang kuat antara pemkab dengan civil society dan juga peran media maka di tahun 2018 ini, Pemkab Brebes mengalokasikan dana Rp 5,7 milyar, anggaran ini akan diberikan kepada ATS yang kembali ke sekolah. 

Data sementara yang masuk di awal maret 2018 adalah 16.000 anak sebagai data baseline, tapi data ini diambil dari laporan masing-masing kepala UPTD Pendidikan, dengan pola pendataan menugaskan semua guru SD dan SMP serta pamong desa untuk mendata semua anak di desanya. 

Dukungan pemberitaan media pun bisa memberikan informasi kepada dunia usaha untuk peduli pada nasib anak ini. Muncul komitmen dunia perbankan untuk peduli ada dari Bank Puspa Kencana Bank milik pemerintah daerah, ada dari Bank Mandiri melalui Yayasan Mandiri Amal Insani, dan juga ada beberapa perusahan asing yang beroperasi di Brebes tapi peduli kepada karyawannya dengan membuat kebijakan karyawan harus sekolah di kejar paket dan dibiayai oleh perusahaannya. 

Bahkan komitmen anggaran desa pun ada amanat yang terdokumentasikan bahwa desa harus mengalokasikan anggaran untuk pelayanan dasar, salah satu dalam layanan dasar adalah pendidikan, dalam persoalan pendidikan selain ada dana beasiswa bagi keluarga miskin yang berprestasi, juga ada dukungan dana untuk gerakan pengembalian anak ke sekolah. Minimal dalam amanat perbup per desa adalah 10 anak yang dikembalikan ke sekolah.