Mohon tunggu...
M U Ginting
M U Ginting Mohon Tunggu... -

penggemar dan pembaca Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Komunisme Moskow, Kapitalisme New York, dan NKRI

30 Maret 2019   23:36 Diperbarui: 30 Maret 2019   23:45 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

"Berbeda dengan pemaknaan dari epistomologi dari sektor akademisi yang dimana akademisi barat mempuyai makna bahwa hoax adalah kabar berita bohong yang sengaja di buat dengan bertujuan ada unsur kejahatan. " dari artikel kompasiana

"UU Terorisme Bukan Jawaban Membasmi Hoaks" oleh Fadhilsyah

Terorisme juga memang bertujuan jahat, tetapi secara hakiki tidak sama dengan hoax. Hoax dan terorisme dan banyak model kejahatan lainnya seperti narkoba, pedofil, gerakan LGBT, feminisme, membangun keluarga dengan ibu-bapanya sejenis dengan anak-anaknya tanpa kelamin, gerakan homo, sex/child trafficking, korupsi, perusakan kultur/budaya, famili/keluarga, adu domba agama, 24/7 entertainment dll dsb adalah ramuan penting bagi neolib/NWO merusak dan membohongi manusia dalam rangka menguasai nation-nation dunia menuju tyrani globalnya. 

Tidak mungkin ada maksud baik didalam semua kegiatan ini. Terutama hoax itu, jelas punya tujuan jangka panjang maupun pendek untuk mempengaruhi massa untuk mempercayai sesuatu yang tidak benar, karena ada tujuan jahat tadi. Tujuan jahat disini ialah membangun tyrani global NWO.  

Salah satu hoax yang sangat tepat dengan definisi diatas ialah hoax 'komunisme'. Kita bangsa Indonesia punya pengalaman pahit dalam soal komunisme ini pada tahun 1965. Sebagian percaya bahwa komunisme adalah baik dan adil serta berjuang untuk kepentingan kemanusiaan masa depan (brainwashing dan mind control). 

Bagian lain menganggap komunisme jahat (politik adu domba divide and conquer) yang dijalankan sangat lihai dan berpengalaman. Dan sebagai akibatnya kita saling bunuh . . . dan sim sallabim . . . triliunan dolar SDA negeri ini dekeruk tanpa suara, dolarnya mengalir ke pundi-pundi perusahaan globalis NWO selama hampir setengah abad.

Faktor kenyataan lainnya ialah bahwa pengarang komunisme itu sendiri yaitu Marx  adalah orang yang disewa oleh bankir/rentenir internasional neolib Rothschild untuk ngarang marxisme (komunisme) untuk menipu rakyat dunia. Komunisme, yang sekarang di era internet sudah dikenal sebagai hoax terbesar dalam sejarah kemanusiaan, tidak laku lagi dipakai sebagai alat pecah belah dan alat brainwashing/mind control bagi NWO. 

Dan bahwa komunisme sudah sempat menarik minat dan perhatian sebagian besar masyarakat (brainwashing dan politik adu domba tadi), kita sudah saksikan dengan terpecahnya dunia jadi dua bagian pada abad lalu (blok komunis dan blok demokrasi), termasuk di Indonesia sendiri dimana PKI adalah partai besar pada jamannya. 

Jadi bukan sedikit peminat komunisme, bukan sedikit yang tertipu, terutama juga karena janji-janjinya yang akan bikin sejahtera rakyat dunia, keadilan dan persamaan. 

Dan bukan sedikit juga yang jadi korban terbunuh karena penipuan hoax satu ini, dalam banyak perang/perpecahan seperti di Kambodja dan juga Indonesia sendiri 3 juta dibantai pada tahun 1965 itu. 

Tidak ada orang Indonesia yang bersalah dalam soal ini, tetapi pengarang, perencana dan penghasut hoax itulah yang bersalah dan bertanggung jawab. Bangsa Indonesia ditipu mentah-mentah. Pengetahuan kita belum sampai kesitu, ke hoax komunisme ketika itu. Internet datangnya 'telambat' dikit . . .

Hoax pengganti komunisme sekarng ialah hoax radikalisme, terorisme, dalam kemasan khilafah ISIS/HTI, terutama terlihat giat dalam tahun politik sekarang ini, moment tepat untuk mengacau nation NKRI. Tetapi sekarang ini, kita sudah punya cukup informasi dan pengetahuan, sehingga tidak perlu lagi membantai 3 juta orang sesama kita seperti 1965.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun