Mohon tunggu...
Julian Reza
Julian Reza Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kelembagaan dan Perubahan Arah Sejarah

21 Agustus 2017   15:18 Diperbarui: 21 Agustus 2017   15:34 1113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Pada sekitar tahun 100 M, seorang penemu bernama Heron asal Iskandariyah, Mesir menemukan benda yang dapat bergerak sendiri dengan dorongan tenaga uap. Benda ciptaannya berbentuk bola bundar dengan cerobong kecil dibagian atas dan bawahnya, cerobong itu berhadapan ke arah yang berlawanan dan ketika diisi air dan dipanaskan, maka uap yang keluar dari dua cerobong dengan arah yang berbeda itu akan menggerakkan bola tersebut secara otomatis. Benda yang bergerak tanpa bantuan tenaga eksternal ( seperti manusia atau hewan ) itu merupakan salah satu momen pertama kalinya manusia menemukan mekanisme otomatis.

16 abad kemudian, pada tahun 1760 seorang penemu asal Inggris, James Watt menemukan sebuah mesin dengan sumber tenaga yang sama dengan temuan Heron, yakni tenaga uap. Mesin yang lalu dikenal dengan nama mesin uap itu mampu mengubah kegiatan usaha yang biasanya dijalankan manusia karena berbekal emsin tersebut, tenaga manusia dalam proses produksi mulai digantikan oleh tenaga mesin. Mekanisme kerja mesin uap Watt pada dasarnya sama saja dengan mekanisme kerja alat ciptaan Heron. 

Yang berbeda adalah dampaknya, alat ciptaan Heron tidak menghasilkan dampak signifikan dan selama 1600 tahun berikutnya, tenaga manusia dan hewan tetap menjadi sumber tenaga utama untuk melakukan berbagai kegiatan usaha. Adapun penemuan Watt berdampak besar karena memulai apa yang kemudian dinamakan sebagai Revolusi Industri dan kelak merubah jalannya sejarah dunia sampai saat ini. Revolusi Industri menciptaan banyak pabrik -- pabrik serta industri baru yang sebelumnya tidak terpikirkan,

 juga memunculkan kelas masyarakat baru seperti kelas buruh perkotaan yang kerja di pabrik -- pabrik, juga memunculkan Negara -- Negara industri baru, membutuhkan sumber bahan bakar baru yang memunculkan nafsu ekspansionisme atau kolonialisme ke banyak daerah baru serta juga memunculkan perseteruan antara ideologi yang tumbuh di era itu, yakni Komunisme dan Kapitalisme yang lalu mewarnai sejarah dunia sepanjang abad 20. Begitulah dampak dari penemuan sebuah alat yang bernama mesin uap, dampak yang begitu luas dan begitu lama terasa serta tidak dapat dihasilkan oleh Heron dengan penemuannya yang sesungguhnya sama saja prinsip dasarnya.

Dibelahan dunia lainnya, pada masa pemerintahan Raja Shri Kameshwara di kerajaan Kediri ( 1183 -- 1185 ), seorang pujangga menciptakan sebuah karya sastra dengan nama kidung Smaradhana. Dalam kidung itu berisi puji -- pujian terhadap Raja yang memerintah tanah Jawa dengan diiringi penggambaran yang indah. 

Dikatakan tanah Jawa berasal dari sebuah buku yang dilempar oleh Dewa ke Bumi hingga lalu berubah menjadi pulau yang indah dan berbentuk seperti lipung. Lipung adalah sebuah senjata genggam dalam dunia pewayangan yang berupa sebuah tombak pendek dengan dua mata tombak dikedua ujungnya, sementara bagian tengahnya dibuat lebih pipih sebagai pegangan ( Poerbatjaraka, 1992 ( terj ), Agastya di Nusantara, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia ). 

Penggambaran pulau Jawa di abad ke-12 yang dikatakan semacam lipung ini ternyata sesuai benar dengan wujud pulau Jawa yang dapat dilihat sekarang. Bagian mata tombak yang lebih tebal sekaligus lancip sesuai dengan wujud bagian Jawa Barat dan Banten ( Ujung Kulon ) disisi barat serta Jawa Timur disisi timurnya ( Semenanjung Blambangan di Banyuwangi ), 

sedangkan bagian tengah yang lebih pipih sesuai dengan penggambaran Jawa Tengah. Lalu muncul pertanyaan, bagaimanakah kemajuan ilmu kartografi yang dimiliki oleh nenek moyang orang Indonesia ini sehingga mampu menggambar peta yang sesuai benar dengan wujud sesungguhnya dari pulau Jawa, padahal penjelajah Spanyol dan Portugis sendiri 400 tahun kemudian menggambarkan pulau Jawa hanya dalam bentuk lonjong saja tanpa memiliki detail seperti diatas.

Namun penjelajah Spanyol dengan berbekal kemampuan kartografi yang lebih belakangan dan tidak semaju yang dilakukan oleh para kartografer Kediri itu ternyata mampu menjadikan peta mereka sebagai alat untuk menguasai setengah belahan dunia, dari Afrika hingga ke benua Amerika. Bagaimana bisa Kediri tidak memperoleh kemajuan dalam hal perluasan wilayah seperti halnya perluasan wilayah yang dialami oleh Portugal dan Spanyol?

Disinilah terlihat kelembagaan menjadi faktor pembeda yang sangat menentukan. Pada masa Heron dan kerjaaan Kediri, kelembagaan tidak mendukung pencapaian yang dihasilkan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi sebuah keuntungan jangka panjang dan kelak dapat merubah jalannya sejarah. Sedangkan pada masa James Watt maupun kerajaan Portugal dan Spanyol, kelembagaan yang dibangun memungkinkan setiap temuan atau kemajuan itu dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang menentukan keunggulan mereka secara jangka panjang. 

Pada masa Heron, penemuan seperti itu tidak didukung oleh pemerintah setempat untuk digunakan secara lebih luas. Pada saat itu perdagangan budak masih dominan dan penggantian budak dengan mesin tentu akan berdampak merugikan. Kelembagaan yang konservatif tentunya lebih memilih mempertahankan sistem perbudakan yang mendatangkan keuntungan jangka pendek ketimbang mesin uap untuk keuntungan jangka panjang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun