Mohon tunggu...
Peb
Peb Mohon Tunggu... Arsitek - Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Penulis Politik Katrok yang Loyal di Kompasiana

30 September 2021   22:24 Diperbarui: 30 September 2021   23:02 384
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber gambar kompas.com

Hampir setahun saya  tidak menulis di Kompasiana karena kesibukan bergaul dengan para tukang bangunan dan kerja studio disain. Sebagai arsitek, saya menikmati dunia pragmatis itu.

Beberapa Kompasianer menghubungi saya dan  mempertanyakan soal isu politik yang berkembang dan sedang seru-serunya saat itu. Tapi saya tidak bisa menjawabnya karena memang tidak mengikuti secara detail perkembangan politik. 

Waktu itu ada Kompasianer yang mengkritisi ketidakperdulian saya pada isu politik. Lebih lanjut dia mempertanyakan tanggungjawab saya yang militan jadi pendukung Jokowi di Kompasiana, namun setelah beliau terpilih kembali seolah tidak perduli, tidak kritis, dan seterusnya. 

Saat itu Jokowi diserang berbagai pihak terkait sejumlah kebijakannya yang dianggap kontroversial. Sedangkan saya sama sekali tidak menampakkan diri menulis politik di Kompasiana.

Usai Pilpres 2019, saya kok jadi capek kalo diajak mikir politik. Hahahahaha! Padahal dulu getol bingiits...

Setelah hampir setahun cuti menulis di Kompasiana, saya kemudian menulis lagi tapi bukan artikel politik, melainkan Humor dan Sepakbola. Saya suka humor, dan juga suka sepakbola. Dulu waktu muda, pernah jadi pemain inti yunior tingkat provinsi.

Kebetulan iklim artikel politik tidak begitu masif lagi di Kompasiana. Suasana Kompasiana sudah berubah. Artikel politik tidak lagi jadi panglima. Tidak lagi jadi idola. Dan, teman-teman penulis Politik pun sudah nganu entah kemana. 

Di sisi lain, saya tidak bernafsu pada politik. Kalau saya mendengar orang bicara politik, atau ndak sengaja nonton berita politik di televisi, apalagi debat politik saya tiba-tiba ingat wajah-wajah para tukang bangunan di proyek tempat saya nongkrong sehari hari. 

Mereka bekerja keras demi sesuap nasi, menghidupkan anak istrinya. Setiap hari Aabtu menerima gaji harian (7 hari). Kalau tidak masuk kerja satu hari, otomatis hitungan upah berkurang sehari.

Mengapa mendengar soal kisruh politik kemudian saya ingat wajah mereka? Why? Entahlah, embuh...tapi aku tetap rapopo.

Nah, kemarin saya mencoba bikin artikel politik lagi. Kebetulan saya mendadak nafsu setelah dikagetkan berita seorang tokoh politik Golkar yang dulu pernah saya kagumi soal performance politisnya. Si tokoh itu kini jadi tersangka korupsi dan ditahan KPK.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun