Mohon tunggu...
Pebrianov
Pebrianov Mohon Tunggu... Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Peristiwa Sehari-hari dan Kedap-Kedip Realitas

16 September 2019   12:58 Diperbarui: 16 September 2019   13:32 0 8 5 Mohon Tunggu...
Peristiwa Sehari-hari dan Kedap-Kedip Realitas
sumber gambar: kompas.com

Belum redup hingar bingar berita kerusuhan di Papua, muncul perseteruan KPAI vs PB Djarum. Tak lama kemudian KPK pun geger. Padahal baru kemarin Timnas kita kalah dari Malaysia musuh abadi, lalu kita dibantai Thailand 3 gol tanpa balas. Ini bikin geram! "Jadi apa sih maunya kamu?"

Setiap waktu manusia masa kini dihadapkan pada realitas baru di kehidupan sehari-hari, sejak pagi bangun tidur sampai malam menjelang tidur. Bentuknya beragam lewat peristiwa mendengar, melihat, membaca dan terlibat langsung didalamnya.

Realitas seringkali menghadirkan kondisi hiruk-pikuk, turun naik, panas-dingin, atau sukses-gagal dalam ritme kehidupan pribadi dan kolektif. Kondisi tersebut menggugah beragam rasa: senang, bingung, cemas, kesal, marah dan lain-lain, yang seolah mempermainkan emosi dan menguras energi. Diajak ngobrol ndak nyambung, malah larut "ndelek-ndelek", tapi saat duduk sendiri di tepi jalan malah ngomong sendiri.  Semoga ini tidak terjadi pada anda. Heuheuehu...

sumber twitter.com/hariankompas
sumber twitter.com/hariankompas
Kita merupakan mahluk yang istimewa. Dengan dikarunia kelengkapan dan keunggulan fisik (anggota tubuh) dan non-fisik (akal pikiran dan cita rasa) menempatkan pada suatu kesadaran tentang keberadaan 'diri sendiri' dan yang diluar diri sendiri (lingkungan). Kesadaran tersebut merupakan kesadaran kritis, yakni kemampuan berpikir, bertanya, dan selalu ingin mencari jawaban tentang diri dan lingkungan yang melingkupi kehidupan.

Keberadaan diri manusia dan lingkungan adalah suatu realitas bagi manusia itu sendiri. Secara fisik, dengan pengertian sederhana : "Realitas adalah segala kondisi, situasi atau objek-objek yang dianggap benar-benar ada didalam dunia kehidupan (Piliang 2003:21). Didalam realitas fisik ini, semua yang nampak menjadi sebuah pengalaman baru didalam dunia nyata sehari-hari dengan keberagamannya.  Suka atau tidak suka, realitas itu harus dihadapi.

sumber gambar ; marketing.co.id
sumber gambar ; marketing.co.id
Teknologi informasi sebagai "Realitas"

Pada era teknologi komunikasi dan informasi sekarang ini kita dihadapkan pada realitas yang beragam, cepat berganti, dan penuh kejutan. Semua itu menghadirkan realitas satu ke realitas lain, membentuk jejaring realitas. Mana ujung dan pangkalnya tak lagi diketahui pasti.

Banyak tokoh-ahli-orang awam yang memberikan tanggapan terhadap suatu peristiwa. Muncul komentar tandingan dengan beragam sudut pandang, agenda dan kepentingan. Mereka seolah saling bersautan.

Pada situasi itu teknologi komunikasi dan informasi jadi 'aktor' penting menghadirkan realitas "baru". Teknologi informasi dan komunikasi seolah berpesta mendapatkan keuntungan dari realitas tersebut.

sumber gambar : indoprogres.com
sumber gambar : indoprogres.com
Sementara kita dibuat tenggelam di dalam hiruk pikuknya. Sikap tertarik atau skeptis bercampur baur. Antara menikmati atau menolak tak lagi jelas batasannya. Antara mengerti atau tidak mengerti tak lagi menjadi persoalan.
Semua realitas itu seolah tak mengenal ruang, jarak dan waktu karena kita seolah dibawa kedalam satu ruang dan waktu yang tanpa jarak dengan realitas tersebut. Ia begitu cepat berganti dan muncul bersamaan dalam ritme kehidupan. Satu realitas belum selesai dipahami logika, muncul realitas baru yang lebih dahsyat.

Tayangan realitas itu seperti berkedip-kedip karena begitu cepatnya berubah, penuh warna atau hitam putih. Dari terang ke gelap, atau sebaliknya.

Kedap-kedip realitas itu laksana lampu pesta, dimana kita seperti hadir bersuka cita melihat tontonan baru yang menghanyutkan dan menguras rasa sentimental, romantisme, emosi dan mungkin membuat jengah di benak kita.

"Apakah semua realitas yang dipertontonkan pada kita itu benar-benar suatu realitas yang sesungguhnya?" Seringkali pertanyaan ini muncul disaat sebuah realitas berada di panggung keseharian, tak lama kemudian muncul pula realitas turunannya dengan beragam versi, seolah-olah meniadakan realitas sebelumnya. Kita pun terperangah. Energi kita seperti dikuras tanpa bisa mengelak.

sumber gambar ; rumahfilsafat.com
sumber gambar ; rumahfilsafat.com
Kesadaran kritis

Dengan kesadaran kritis manusia mencoba mengerti setiap realitas. Pencarian makna realitas tidak berhenti pada pengalaman 'real' (yang langsung), melainkan realitas yang "jauh" dari pengalaman sehari-hari.  

Keistimewaan manusia pada pikiran dan perasaan menempatkannya pada pemikiran lain yang jauh dari sekedar apa yang dialami secara fisik semata.

Konteks setting realitas yang tadinya bersifat fisik kemudian berkembang ke arah non-fisik, yakni alam pikiran atau kesadaran berpikir. Daya pikir mengarahkan nalar. Dengan nalar diharapkan mampu membuka 'rahasia' realitas sesungguhnya, dan menjelaskan realitas tersebut pada dunia 'Ide' yang sarat akan 'Idealisme dan Kesejatian'. Apa patokannya? Banyak! Nilai-nilai spiritual, universal, budaya dan lain-lain. Jadinya malah sangat relatif. Namun setidaknya, setiap orang "menjadi adem" dengan patokan nilai yang dimilikinya.

Pada jaman sekarang, keberadaan nalar ternyata juga dipertanyakan. Dari pandangan filusuf Marx, Freud, Nietzsche terdapat perspektif yang senada dalam mengkritis nalar. Bagi mereka nalar tidak 'dapat dipercaya' karena tidak murni mampu menghadirkan makna realitas.

Nalar dikatakannya bisa dipengaruhi faktor luar seperti kepentingan sosial, ekonomi, kehendak berkuasa, dan bahkan tidak berada pada tingkat kesadaran. Padahal modernitas terbangun ditunjang kemajuan daya nalar manusia! Lalu, apakah semakin majunya nalar manusia justru akan semakin sulit menemukan makna Realitas ?

Bisa jadi memang nalar modern sulit menemukan makna realitas. Kemajuan nalar manusia, justru membuat manusia terpuruk oleh tekanan dan kepentingan kenikmatan modernitas yang membuat lumpuh sebagian nalar. Lihat saja para elit politik itu, secara akademik pintar, namun karena kenikmatan kekuasaan, kepentingan kelompok dan pribadi lebih dominan, sehingga banyak orang jadi terpuruk karena saat pengambilan keputusan publik, nalar para elit tercemar faktor luar yang tumpang tindih.

Kelumpuhan nalar modern menjauhkan mereka pada realitas publik itu sendiri. Bila demikian maka diperlukan perangkat lain yang bukan nalar untuk mencari makna realitas. Perangkat itu merupakan 'sesuatu banget' yang tidak mudah diintervensi oleh kepentingan-kepentingan tersembunyi dan hal-hal dibawah kesadaran manusia.

Adapun 'mahluk sesuatu banget'  itu adalah hati nurani yang seringkali terlupakan oleh kemajuan nalar. Hati nurani sering juga disebut "kesadaran moral" atau "pengetahuan moral."

Hati nurani bereaksi saat tindakan, perbuatan dan perkataan seseorang sesuai, atau bertentangan dengan, sebuah standar mengenai benar dan salah.

Hati nurani merupakan bagian dari jiwa manusia yang menyebabkan penderitaan mental atau perasaan bersalah saat kita menentangnya dan perasaan senang dan damai sejahtera saat tindakan, pikiran dan perkataan kita sesuai dengan sistem nilai yang kita anut.

Kembali pada realitas  beragam berita heboh yang cepat berganti, apakah wajar bila kita geram, kesal, marah sementara semua itu jaraknya jauh dari realitas keseharian kita?

Papua jauh dari Kalimantan. Polemik KPK di Jakarta, tak ada urusan langsung dengan orang di kampung yang hidupnya adem. KPAI tak banyak dikenal, baik orang dan kiprahnya lembaganya. Banyak anak di kampung dan area miskin kota setiap hari banting tulang untuk bisa makan. So ?

Di dalam badan dan jiwa yang sehat tersembunyi potensi geram. Kalaua kita masih bisa geram, berarti kita manusia sehat di jaman teknologi informasi seperti sekarang ini.

Ingat kata pepatah; "Garam di lautan, Asam di gunung. Keduanya bertemu di media informasi." Lho, kok bisa? Ya bisa saja Garam dan Asam kenalan lewat internet. Heu heu heu...atau mereka awalnya tak saling kenal, tiba-tiba diadu domba dan berantem di dalam kuali, kemudian jadi pemberitaan hebat dan jadi viral di berbagai media informasi. Kalau tidak ada teknologi informasi, tentunya kita tidak tahu, bukan? Silahkan geram, beib...Heu heu heu!

Seandainya kamu tiba-tiba diomelin pacar pada malam Minggu gara-gara dia tahu kamu dapat K-Rewards gede tapi tidak pernah traktir makan soto dan nonton filem Gundala, itu adalah realitas mu. Terimalah dengan tabah dan penuh sukacita. Heu heu heu!

Apapun kedap-kedip realitas mu, jauh atau dekat. Langsung atau tidak langsung, maka jangan sekali-sekali berhenti berpikir kritis agar nalarmu tetap hidup yang bikin hidup lebih hidup.

Silahkan terus berpikir, beib. Aku sih rapopo.


---
Peb16/09/2019