Mohon tunggu...
Pebrianov
Pebrianov Mohon Tunggu... Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Salaman Kompasianival 2018 dan Habitus Baru dalam Kepenulisan

9 Desember 2018   07:54 Diperbarui: 9 Desember 2018   08:57 0 33 28 Mohon Tunggu...
Salaman Kompasianival 2018 dan Habitus Baru dalam Kepenulisan
sumber gambar : kompasiana.com

Ajang Kompasianival merupakan momen "Lebaran" -nya para Kompasianer, demikian yang ditulis oleh Pepih Nugraha, pendiri Kompasiana. Pada momentum itu, semua penulis di Kompasiana diajak untuk merayakan pesta  blogger kompasiana. Ada momen "bersalam-salaman" sebagai tanda persahabatan "perkenalan darat"  dan "reuni again" dalam suasana kegembiraan.

Kompasianival atau Lebaran Kompasianer tak hanya dirasakan para kompasianer yang hadir secara nyata di acara Kompasianival dalam temu darat, namun juga bagi kompasianer yang tak bisa hadir, yang tersebar di seluruh penjuru mata angin di bumi ini. Jumlahnya jauh lebih besar dari yang bisa hadir di gedung pesta Kompasianival.

Gedung penyelenggaraan Lebaran Kompasianer hanyalah sebuah "Tempat" (place) acara bagi yang bisa hadir kopi darat, tapi sejatinya "Ruang" (space) berlebaran berada di hati dan pikiran setiap kompasianer yang hadir dan tidak bisa hadir di "Tempat" acara.

Itulah mengapa, saat kegembiraan Kompasianival dilakukan di gedung itu, mata dan hati para kompasianer yang tak bisa hadir ikut tertuju di momen "salam-salaman Lebaran Kompasianer". Karena salam-salaman tak cuma sentuhan fisik semata, namun juga sentuhan hati dan rasa/jiwa. 

Seperti halnya imaginasi kala membuat tulisan, bukan sekedar menyusun kata dan kalimat, namun juga menjadi "Narasi yang hidup". Narasi yang mampu menghadirkan "nyata" di depan setiap kompasianer  di masing-masing posisi mata anginnya, didalam jarak yang tak terhitung  angka ke gedung Kompasianival. 

Imaginasi dalam menulis tak pernah mempermasalahkan jarak dunia nyata, karena ada narasi hidup tercipta dan tak kalah dahsyatnya mendekatkan, sehingga jarak itu tak lebih deret angka semata. Bukan penghalang terbangunnya "salam-salaman Lebaran Kompasianer". 

Begitulah blogger, para pemilik kata dan kalimat dalam "membunuh" jarak angka. Begitulah blogger, ketika bersalaman dalam satu kebersamaan momen lebaran-nya.

Seperti halnya Lebaran nyata, atau hari raya agama apa pun, salam-salaman adalah satu bagian dari suatu bagian lain yang lebih besar, yaitu membangun kembali marwah diri dalam kepenulisan. Karena eksistensi kepenulisn tak pernah berhenti di satu titik tertentu. Tak pernah terhenti di Kompasianival tahun lalu,  tahun ini, atau pun tahun depan. 

Eksistensi kepenulisan selalu menuntut pergerakan, tentunya pergerakan ke arah yang lebih baik. Pergerakan menuju "Habitus Baru". Pergerakan bagi setiap kompasianer dimanapun berada di dlam relatifitas dirinya. Dalam hal tersebut, Kompasianival atau Lebaran Kompasianer bisa dijadikan titik benchmark atau patokan setiap kompasianer dalam melihat perjalanan kepenulisan yang sudah pernah ditempuhnya, dan akan menjadi titik tolak pergerakan menuju Habitus baru kepenulisan. Lebaran kompasianer itu telah menjadi benchmark Habitus Baru bagi setiap kompasianer di bentang alam kompasiana. Untuk kemudian juga, menjadi beyond blogging bagi semua aspek kehidupan di luar bentang alam kompasiana.

Selamat untuk seluruh pemenang Kompasiana Award2018 ;

Best in Specific Interest : Posma Siahaan
Best in Opinion : Krisna Pabhicara
Best in Fiction : Wahyu Sapta
Best in Citizen Journalism : Mbah Ukik
People's Choice : Mbah Ukik
Lifetime achievement : Pepih Nugraha
Kompasianer of The Year 2018 : Giri Lukmanto

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x