Mohon tunggu...
Pebrianov
Pebrianov Mohon Tunggu... Arsitek - Pembaca yang khusyuk dan penulis picisan. Dulu bercita-cita jadi Spiderman, tapi tak dibolehkan emak

Bersukarialah dengan huruf, kata dan kalimat. Namun jangan ambil yang jadi milik Tuhan, dan berikanlah yang jadi hak kaisar.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Membully Sesama Kompasianer yang Terpeleset

20 Desember 2014   17:36 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:52 5 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dunia bagai runtuh (bisa) menimpa seorang Kompasianer gara-gara tidak pas memberi komentar pada artikel Kompasianer lainnya. Pecahan reruntuhan itu menikam diri dari berbagai sisi. Ibarat hujan basah tubuh hilang baju tak bisalah berganti. Jadinya telanjang atau lebih tepatnya ditelanjangi situasi kemudian ditikam ramai-ramai dari berbagai arah. Matikah dia? Belum tentu tapi menggigil adalah keniscayaan.

Menurut Prof. Pebrianov Bangindowsky seorang ahli Kenthirlogi dari Institut Teknologi Heuheu : "Kompasiana adalah medan laga yang unik. Disini ada prinsip pertemanan dan saling berbagi sebagai motto ruang laga. Uniknya, dibalik itu ternyata ada juga pertentangan hasil dari turunan bilangan perbedaan pandangan beserta beragam variabel tetap dan tidak tetap berupa beda setting ideologi, keyakinan, visi, serta kerusakan mesin tabiat dan lain sebagainya. Darimana teori itu bermula?

Alkisah pada jaman kekinian di negeri Kompasiana ada dua Kompasianer Handal yang kaya raya. Sebut saja namanya Gatotswandeyev dan Erwinovick. Mereka berdua kaya akan tulisan dan penghargaan HL, TA, HI serta voted dari para rakyat Kompasiana yang mencintai mereka berdua. Bahkan profesor Pebrianov sendiri sangat sayang kepada mereka berdua karena kehandalannya itu. Tapi walau kaya mereka berdua tetap kalah ganteng dan kenthir dengan penulis artikel ini. Itu sisi lain realitas yang tak terbantah!

Suatu ketika di medan laga juragan Gatotswandeyev menembakkan tulisan yang berkaitan dengan issue seksi bikin horny tentang BUMN di negeri zamrut khatulistiwa. Tulisan itu ternyata menjadi kanon yang menggemparkan jagat negeri Kompasiana. Maka sebagai sosok yang juga handal, Juragan Erwinovick pun tak mau kalah pula. Dia kemudian menembakkan komentar mantap-surantap di langit artikel juragan Gatotswandeyev. Plak ! Jedeerrr ! Ahhaaiii !

Disinilah pangkal paha eh pangkal masalah itu bermula. Saat juragan Erwinovick melakukan tembakan komen itu ada sedikit kesalahan prosedur baku dan kekeliruan teknologi instrumentasi.Celakanya Kompasianer lain mengetahui hal tersebut secara murni dan konsekuen. Maka mereka dengan beragam setting modus beramai-ramai membully juragan Erwinovick.

Kanon juragan Gatotswandeyev yang semula ditembakkan untuk mencerahkan langit Kompasiana berubah menjadi medan Bully paling anyar, panas dan heboh! Sasarannya tentu saja Erwinovick dan beberapa rekannya yang coba membantu. Langit Kompasiana pun makin ramai nan heboh namun jadi gelap dan terasa lembab. Seperti terjebak di sekitar lelehan lendir. Ngeri-ngeri sedap pulak !

Juragan Erwinovick gelagapan dan kemudian hilang untuk relaksasi sambil refleksi diri. Ejakulasi masih tertahan di ujung perangkatnya, nafasnya megap-megap, jakunnya turun-naik, air liurnya menetes namun matanya tetap nanar. Ada keringat dingin menetes di sela-sela anunya.

Tak kalah yang dialami sang artikelator yakni Juragan Gatotswandeyev pun kaget campur horny. Secara kebetulan juragan Erwinovick adalah sesama pedagang namun berbeda merek dagangan. Jadi secara vulgar dan diam-diam sejak lama keduanya terlibat  persaingan usaha. Pasca momentum blunder Erwinovick itu taring dan tanduk Gatotswandeyev keluar berikut lidah apinya yang paling panas. Hal ini didukung bala Kompasianer satu asoasiasi dagang dengannya. Juragan Gatotswandeyev pun ibarat sekali genjot dua paha terlampaui yakni mempertahankan marwah artikelnya di puncak HI, TA dan HL. Sekaligus melucuti pakaian Erwinovick secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Langit Kompasiana gelap, penuh hiruk-pikuk yanyian campursari yang  membahana, sebagian orang tampak menari genjer-genjer bercampur goyang Inul dan Gangnam style. Dramaturgi tersaji sempurna. Ada menu nyiyir klasik, satire postmodern, alkapela religius, petikan sentimenal melanklolis dan bahkan hardcore threesome pada satu komen. Sungguh Ironi sekaligus paradok. Tak jelas titik klimaks komunalnya.

Melihat hal itu, Profesor Pebrianov Bagindowsky yang bijak dan ilmunya sudah sangat tinggi menjadi prihatin. Apalagi kedua juragan kaya tersebut adalah kawan baiknya. Dia tahu benar kekuatan, daya tahan dan ukuran panjang keduanya.

Untuk lebih valid dia kemudian melakukan penelitian singkat dengan metode Cocokgrafi. Locusnya adalah area rofil akun. Dari situ didapatkan banyak hal yang cukup membuat hati lega. Sangat luar biasa !

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan