Mohon tunggu...
Paul Ama Tukan
Paul Ama Tukan Mohon Tunggu... Mahasiswa STFK Ledalero Maumere-Flores

Menulis adalah Bekerja Untuk Keabadian

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Puisi, Mengatakan Begini dengan Cara Begitu

1 Desember 2019   16:23 Diperbarui: 1 Desember 2019   16:29 0 1 0 Mohon Tunggu...
Puisi, Mengatakan Begini dengan Cara Begitu
onstellar.com by @iknowHEis

Puisi: Mengatakan Begini dengan Cara Begitu

Orang sering jatuh cinta pada puisi karena kekuatan kata. Bunyi kata dengan rima yang harmonis dan ritmis memancing orang untuk menikmati puisi secara sadar dan tentram. Mula-mula dari kata, selanjutnya mulai mengguratkannya sebagai ungkapan rasa dan kesan (lebih sering di dalam diari): jatuh cinta, sukses, galau, harapan, doa, syukur atau geliat euforia lain yang dialami.

Persis, pada konteks ini puisi dapat disederhanakan sebagai dunia "bongkar pasang" kata sampai mencapai puncak keindahan yang diinginkan. Realitas dan imajinasi terinternalisir di dalam puisi. Kalau demikian bagaimana dengan kata yang dipuisikan? Mungkinkah dalam keadaan apapun puisi dapat secara leluasa tercipta?

Mengatakan Begini dengan Cara Begitu

Banyak persepsi yang mengklaim puisi sebagai rajutan kata-kata abstrak yang mustahil dipahami secara pintas/sekali baca. Puisi terkadang menampilkan kesan 'ilmiah' yang harus dikupas dengan pisau analisis yang jeli.

Kalau demikian, puisi juga dapat dikatakan sebagai ulasan ilmiah yang dipadatkan, ikhtiar empiris yang mutlak melalui proses dialektis untuk memahaminya. Saya kira, persepsi yang demikian tidak dapat divonis sebagai opini yang keliru. Seni apapun pada akhirnya membawa kesan subjektif pada penikmatnya. Seni tidak dapat dibelenggu pada kerangkeng objektif sebagaimana diinginkan seniman.

Saya memandang puisi sebagai "mengatakan begini dengan cara begitu". Hal yang sama juga diafirmasi sebagai dunia kebebasan yang kreatif agar menciptkan suatu 'tampilan' yang 'menawan' di hadapan penikmat. Puisi memang memiliki sejumlah teori leksikal dan linguistik yang membuatnya mampu "diukur" oleh para pakar, akan tetapi teori yang demikian tidak mengatur secara ketat kata apa yang harus dimulai dalam puisi atau frasa apa yang harus mengakhiri puisi. Dengan demikian. Puisi adalah menulis kebebasan dengan kebebasan.

Substansi puisi bergerak sepenuhnya pada alam imajinasi penyair. Maka seni puisi juga adalah dunia tanpa sekat yang tidak memprioritaskan rasionalitas melainkan estetika, getaran efeksi ketimbang sistematika. Klaim-klaim yang timbul sebagai upaya re-branding puisi membuat saya terenyuh dengan permenungan yang dalam: " seni memang harus dipahami, agar ia dapat dikecap budi alih-alih orang jatuh cinta pada puisi bukan semata-mata karena paham tetapi karena tersentuh".

Lebih jauh sebagai sebuah seni, puisi pertama-tama menggugah nuansa rasa atau iklim kepekaan terdalam seseorang untuk sejenak melihat, bukan saja dengan indra yang 'telanjang' melainkan indra yang 'melampaui' sesuatu yang mainstream-cenderung biasa. Artinya tendensi untuk melihat, mengamati atau mendengar sesuatu secara biasa akan kolaps berhadapan dengan bunyi puisi yang padat dengan bahasa yang 'tidak biasa'.

Semua kita dapat dikatakan penulis puisi, andaikata realitas yang muncul di hadapan kita diolah dengan racikan yang impulsive atau busana baru yang memelekkan, tidak seperti adanya realitas itu. Oleh karena itu, dunia yang ada di dalam puisi adalah dunia hiperrealitas, boleh jadi beberapa tingkatan di atas realitas, yang memperlihatkan ada sesuatu yang tidak biasa.

Seni memang terkadang melampaui yang biasa. Sebab rasa estetik tidak suka yang biasa bahkan rasa terkadang tak mampu dipahami logika. Yang tidak biasa kerap menjadi 'lahan' garapan para seniman. Puisi adalah 'yang tidak biasa'. Saya boleh berkata pada seorang gadis itu "Aku jatuh cinta padamu", setelah kembali saya mengguratkannya sebagai sebuah puisi: "Berapa kecepatan cinta dari sudut mata ke dasar hati?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x