Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight

Inikah yang Engkau Kehendaki, Ibu Kartini?

21 April 2017   07:31 Diperbarui: 21 April 2017   07:39 314 22 11

Inikah yang Engkau Kehendaki Ibu Kartini?

Pagi-pagi, saat bebersih halaman, melihat beberapa peristiwa menarik berkaitan dengan perayaan Hari Kartini. Ada tiga kisah yang menarik saya lihat dan dengarkan.

Kisah pertama, keluarga, anak kelas dua sekolah dasar dibonceng di depannya, bapak dan ibunya mengantar ke tukang rias untuk persiapan penttas tari pagi ini. pukul 5.30, padahal bapaknya adalah kyai, bisa dibayangkan repotnya, adiknya masih belum sekolah.

Kisah kedua, anak SMK yang  mengenakan seragam perkumpulan RT ibunya. Jelas saja ini demi perayaan Hari Kartini. Tentu tidak ringan bagi anak dan keluarga ini jika harus menyewa atau membeli baju yang mau dipakai hari ini.

Kisah ketiga, pembicaraan bapak dan ibu yang masih berkaitan dengan beaya untuk make up,untuk Kartinian, sekian rupiah untuk cewek dan sekian untuk cowok, kisaran senam kali iipat untuk cewek. Dalam arti banyak yang merasa terbebani.

Apakah sepenggal kisah tersebut yang seharusnya terjadi sebagaimana pemikiran, cita-cita, dan harapan R.A Kartini?

Sepakat dan bahkan memang baik adanya untuk mengadakan upacara, peringatan, dan perayaan dengan berbagai cara dan kreatifitas. Namun apakah cukup hanya dengan cara berpakaian, lomba memasak bapak-bapak yang cenderung malah menghambur-hamburkan uang dan bukan mengedepankan esensi?

Tentu Ibu Kartini mengajak bangsa ini berubah menjadi bangsa yang maju, mengerti ketimpangan sosial dan ekonomi, bukan semata meniru gaya berbusana beliau, mengedepankan emansipasi bukan berarti bahwa mengenakan baju adat masing-masing pada hari Kartini.

Memang baik dan menyenangkan gerak ekonomi kreatif bisa tercipta dengan salon, perias, baju atau perancang pakaian, penjahit, dan lini yang terkait dengan itu. Tidak ada yang salah, namun apakah itu sudah menyentuh hal yang esensial?

Apakah tidak lebih baik jika:

Mendiskusikan surat Kartini, atau salah satu penggalan kisah hidup Ibu Kartini dan keluarga.

Kaya akan makna kehidupan Ibu Kartini dengan pemikirannya, termasuk keluarga yang secara tidak langsung terlibat dan membentuk kepribadian dan pemikiran Ibu Kartini. Hal ini tentu jauh lebih menyentuh yang mendasar dan juga tidak terlalu membebani dan merepotkan siswa dan keluarga.

Menggerakkan anak lebih kratif dan cerdas dengan hal-hal yang tidak perlu mahal.

Pemikiran itu tidak perlu materi berlebihan dan merepotkan untuk mendapatkannya. Salah satu inspirasi dari film Kartini adalah, beliau menggerakan ekonomi desa yang ada di sana dengan adanya pesananan ukiran yang sempat lesu. Hal ini bisa dilakukan dengan kontekstualisai waktu dan tempat. Misalnya sekolah di kampung nelayan, bagaimana meningkatkan kesejahteraan di sana dengan membuat inovasi masakan berbahan dasar ikan.

Diskusi, seminar, atau sarasehan mengenai pemikiran Kartini dan kekinian.

Hal ini bukan semata seremoni atau menghabiskan dana proyek, namun benar-benar bermanfaat termasuk di sekolah atau kantor-kantor. Soal emansipasi sudah tidak lagi perlu diperbincangkan, namun bagaimana sikap batin Ibu Kartini tercermin dalam perilaku hidup bangsa ini.

Emansipasi bukan soal baju, tapi mengenai sikap batin

Perayaan ini itu, pakaian begini begitu, hanya sebuah bentuk peringatan, namun lebih dalam lagi bagaimana bangsa ini mengerti, memahami, dan menjalankan demokrasi, ingat soal emansipasi perempuan juga soal demokrasi. Berani menyatakan kebenaran meskipun belum zamannya. Berani melawan arus dan aliran massa yang sedang bergolak sekalipun.

Berani di dalam melawan kejahatan dan mengedepankan kebenaran

Lahir pada zaman dan konteks masing-masing. Kartini kini tentu berbeda dengan masa lalu yang berkutat dengan menuntut hak, kini tentu berbeda. Contoh di kabinet ada dua Kartini sangat menonjol dengan Bu Susi yang menggebrak soal maling ikan, dan Bu Sri Mulyani yang menghentak dengan soal pendapatan negara. Tentu dua kisah yang berbeda, dua tuntutan yang berbeda bukan?

Apa yang kontekstual kini?

Soal korupsi dan terorisme tentu sangat mendesak, apalagi perempuan mulai jadi pengantin entah dapat bidadara atau apa. Korupsi juga melibatkan perempuan. Perempuan memegang peran penting di dalam hal ini, pendidikan dalam keluarga, membicarakan hal ini tentu bisa membantu pemerintah menanggulangi peristiwa dan kondisi kekinian yang sangat mendesak.

Soal kebangsaan yang sedang diperebutkan antara nasionalis atau mau sektarian. Hal ini bisa dikaji di dalam peringatan Ibu Kartini. Lihat bagaimana Ibu Kartini bicara soal kebangsaan, bukan primordial Jawa dan dirinya saja.

Soal pendidikan, ha ini jelas Kartini banget, bagaimana beliau menghendaki pendidikan setara, kini pendidikan elitis, bagus berarti mahal, lah ini jelas banget ide Kartini yang perlu diperjuangkan. Tidak identik, namun masih berkutat hal yang sama.

Hari Kartini, tidak mesti masak bagi bapak, suami dandani  istri, atau pakaian tradisional, itu baik namun banyak hal yang bisa dilakukan dan dikaji lebih mendalam lagi.

Jayalah Indonesia

Salam