Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Artikel Utama

Belajar Menang dari Megawati dan Ahok

20 April 2017   18:39 Diperbarui: 20 April 2017   19:59 4446 33 43
Belajar Menang dari Megawati dan Ahok
Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri saat memberi pengarahan kepada para relawan pendukung calon gubernur dan wakil gubernur. Kompas.com

Kalah dan menang dalam kompetisi adalah hal yang wajar. Kecurangan dan tindak tidak sportif beda kasus. Bagi yang mau meledek tidak perlu datang karena sama juga pecundang yang justru bukan pemenang. Mau bersuka ria dan menuduh menghibur diri, silakan toh itu tidak penting juga.

Salah satu kemenangan yang paling sulit adalah mengalahkan diri. Mana ada yang mampu memanipulasi diri sendiri, mana ada yang bisa menyuap diri sendiri, mana ada yang dapat mengelabui diri sendiri dengan apapun. Kemenangan salah satu cirinya adalah mengakui kekalahan dengan sportif dan mengucapkan selamat kepada rival, dan tidak mencari-cari kambing hitam, apalagi menuduh ini itu.

Apa yang disampaikan Megawati, jauh sebelum pengumuman, bahkan saat usai menyoblos, berarti masih berjam-jam kemudian, salah satu bukti politisi yang sudah dewasa. Dalam salah satu wawancara televisi, beliau mengatakan, kalah dan menang itu sudah ada yang mengatur, Tuhan yang memberikan, Tuhan pula yang mengambil.Jika hari ini kalah, lima tahun lagi kembali berkompetisi.Artinya beliau memahami esensi bukan semata sensasi dan obsesi akan kuasa atau kursi itu sendiri.

Senada meskipun tidak sama. Pak Ahok yang berkompetisi menyatakan bahwa, kekalahan memang membuat kecewa, namun tidak perlu berkepanjangan dan berlebihan. Hal yang sama pernnah juga saya alami.

Pengalaman menang dan kalah adalah hal yang biasa, namun bagaimana itu dihayati. Pelajaran berharga bagi hidup berbangsa dan bernegara ditunjukkan mereka berdua. Bagaimana melihat kompetisi di dunia ini pun masih berkaitan yang Ilahiah. Beliau memberikan contoh religiusitas bukan semata pakaian, kata-kata, atau “ibadah”, namun esensi ada di sana. Bagaimana religiusitas itu dihidupi bukan semata dikatakan dan pakaian semata. Jangan sensi, ini hanya mau memperlihatkan kualitas keimanan, bagaimana jauh hari sudah ada yang mengatakan kalau pihak lawan menang pasti curang, dan akan ada ini itu jika kalah. Siapa yang lebih religius di sini? Ini bukan soal yang tahu hanya Tuhan, hidup beriman pun ditampakan dalam hidup sehari-hari.

Kedua, kekuasaan itu terbatas. Sabar menunggu lima tahun dan buktikan bisa kembali berkompetisi dengan lebih baik. Ada waktu untuk membuktikan dan mengusahakan perbaikan di sana-sini. Kekalahan bukan akhir segalanya, bagaimana yang menang pun harus bekerja bukan hanya menang dalam pemilihan semata, namun bagaimana membangun jauh lebih mendasar.

Ketiga, bagi yang kalah bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik, bukan menjadi duri dalam daging dan malah mengganggu dengan berbagai komentar yang tidak berguna. Hal ini selama ini paling santer terdengar. Kalah bukan berarti habis, namun bis amemberikan kontribusi yang baik.

Keempat, kebersamaan dan persatuan jauh lebih penting. Ini adalah azas demokrasi yang tidak boleh dilupakan. Model amuk, miris satu kata Bahasa Indonesia yang diserap Bahasa Inggris justru kata ini, amuk, saatnya ditinggalkan, di mana martabat bangsa ini, senggol bacok, bukan adat bangsa beradab namun bangsa biadab, bangsa terbelakang, ini sudah tahun 2000 lebih, namun mengapa masih budaya abad kegelapan saja yang dipakai.

Kelima, kuasa dan pengabdian, ketika orientasi adalah kuasa saja, tidak akan mampu menerima kekalahan karena yang penting kuasa, jika pengabdian, banyak yang bisa dilakukan. Bagaimana hal itu bisa diperoleh ketika kuasa itu bisa mengabdi dan melayani.

Keenam, melibatkan Tuhan itu tidak akan ada kekecewaan yang berlebihan. Bukan semata jargon atau kata-kata, namun hidup dan menjadi gaya hidup. Kembali bahwa ini kehendak Tuhan, entah apa rencana-Nya untuk ke depan, bisa ke mana saja, ketika Tuhan yang merencanakan. Hal ini jelas terlihat dari kedua tokoh tersebut.

Ketujuh, kuasa itu tidak ada yang abadi. Bagaimana caranya diambil atau diberikan itu Tuhan yang mengatur, namun manusia juga punya mekanisme, yaitu lima tahunan. Terbatas secara waktu , periodisasi, dan itu bisa saja apa saja terjadi selama waktu itu.

Kedelapan, kesaktian waktu tidak ada yang bisa mengalahkan. Waktu akan membuktikan, dan itu tidak ada yang bisa memenggalnya. Instan tidak berlaku di sini. Kepercayaan akan kebaikan bisa dilakukan semuanya. Jangan dulu curiga apalagi sudah menuduh.

Kesembilan, menang dan kalah itu natural, jika tidak berani kalah dan memastikan selalu menang, perlu belajar lagi lebih dalam. Perlu berkembang lebih dewasa dan bijaksana.

Bangsa ini perlu banyak pribadi dewasa yang sudah diawali Mas Agus Yudhoyono kala itu, kini mulai juga bertumbuh sikap ksatria dan dewasa. Demokrasi makin berkembang dan menunjukkan kualitas pribadi. Bangsa ini bangsa besar kog, hanya karena pemaksaan kehendak beberapa pihak dan ada kelompok yang mencari untung, jadinya bangsa yang kerdil. Harapan masih ada, dan masih ada hari esok.

Jayalah Indonesia

Salam