Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menanti "Gertakan" Edi Pras untuk Anies Baswedan, Bukan Sekadar Sosok Ini

16 Desember 2020   11:25 Diperbarui: 16 Desember 2020   11:38 533 15 2 Mohon Tunggu...

Menanti "Gertakan" Edi Pras untuk Anies Baswedan Bukan Sekadar Sosok ini

Entah apa yang ada di dalam benak si guru, sehingga membuat soal Anies sering diolok Mega. Dua nama yang sangat lekat politis dan juga ada pada kutub yang seolah berseberangan. Padahal belum tentu juga demikian yang namanya kawan dan rival politik itu. Kadang miris ketika kalangan akar rumput bertikai berdarah-darah, padahal elitnya berpelukan sambil makan enak. Ini fakta empiris yang memang harus dihadapi dengan kepala dingin.

Guru yang entah lugu, entah partisan, atau motivasi apa lagi, toh di hadapan dewan pastinya jerih, ngeper, dibentak lagi. Kelas ketua DPRD-I itu ya kawil, bukan kelas guru yang harusnya di hadapi. Guru ya kepala kantor kecamatan paling tinggi ya kepala tingkat kota. Ya sudahlah, dari pada tidak ada aksinya.

Aneh dan lucu sebenarnya, apakah karena ada kata dan nama Mega? Sangat mungkin demikian. Takut pada Mega bukan pada rakyat. Lihat bagaimana ugal-ugalannya Anies menebangi taman di monas dengan pohon puluhan tahun dan ratusan batang. Bayangkan berapa harga itu semua dan ke mana kini  ujungnya?

Anies Baswedan ini bukan semata guru SMP, ingat bukan meremehkan guru, namun kedudukannya, Anies itu jauh di atas seorang guru, lha mantan Mendikbud kog. Pastinya kalau "melanggar" yo tidak akan sesederhana si guru yang lugu itu. Tuntutan hukum akan sangat sulit, karena toh banyak tim ahlinya yang juga berupaya untuk mengamankan bahwa itu pelanggaran hukum.

Banyak pihak meminta bahwa Anies dihukum soal dana untuk formula E atau banyak anggaran yang disia-siakan untuk aneka gawe tak berguna. Patung bambu, monumen batu, atau pakaian untuk kali. Hukum mungkin tidak mampu menyentuh karena memang sangat mungkin itu sudah diperhitungkan dengan sangat masak.

Nah inilah kerja dewan, pengawasan, bagaimana mereka mengawasi jalannya uang daerah itu untuk kebaikan daerah tersebut. Apa indikasinya? Ya sederhana bandingkan saja pada periode sebelumnya. Sesederhana itu. Masalahnya adalah apa mau? Jelas tidaklah.

Belum pernah terdengar gertakan atau Edi membentak Anies mengenai anggaran yang ngaco, mengapa demikian?  Tidak usah dijawab. Semua sudah tahu kog. Perlu disegarkan ingatan bersama bagaimana makian Ahok dengan nenek lu, pemahaman nenek lu, dan sejenisnya mengenai anggaran yang dipermainkan dewan. Kini  dewan santai kog mengapa susah-susah mengusik eksekutif. Kekeringan lama kini mulai basah, mosok mau dikuras lagi.

Di saat yang relatif sama ada drama meninggalkan gedung ketika PSI menyatakan pendapatnya mengenai kenaikan gaji dewan. Mereka semua kompak  tidak mau tahu apa pendapat PSI karena membuat mereka tidak akan enak. Padahal di tengah keprihatinan bangsa, negara, dan bahkan dunia. eh mereka mau berpesta pora.

Era Ahok hampir setiap kebijakan menjadi polemik, KPK, BPK saja ikut dilibatkan dan dikait-kaitkan. Pelaporan ke mana-mana. Interpelasi, gubernur akan kami undang, atau istilah intimidatif lainnya hampir setiap saat terdengar. Benar bukan Edi yang bicara, kala itu ada namanya Lulung yang selalu ribut dan ribet. Kini senyap.

Padahal selama Anies ini bukan hanya kebijakan, malah kebijakan dan eksekusi ngaco. Trotoar, pengecatan jalan, dan anggaran yang kacau balau pun laju saja, tanpa ada ribut-ribut. Wajar rakyat akhirnya yang berteriak sangat kencang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x