Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Luhut Ajarkan Oposan Bermartabat, Tidak Menista Agama, dan Elegan

3 Mei 2020   11:01 Diperbarui: 3 Mei 2020   10:54 1841 26 8 Mohon Tunggu...

Luhut Ajarkan Oposan Bermartabat, Tidak Menistakan Agama, dan Elegan

Esok adalah ajang pembuktian, ketika Said Didu datang ke kantor polisi. Ke mana dibawa pernyataan orang itu harus dipertanggungjawabkan. Selama ini, saling tuding dan menguap begitu saja. Ada yang kabur tidak tahu rimbanyanya usai berkicau, ada yang terdesak dan kemudian menggunakan jurus meterai Rp. 6.000,00 atau menjual derita dengan klaim akun atau alat komunikasinya dibajak. Semua itu basi.

Waktunya membuktikan bahwa yang dituduh berhak membela diri, pun yang menuduh bersikap ksatria dan ikuti proses hukumnya. Kalau yang menuding benar, bagus dan bawa ke ranah hukum selanjutnya. Pencemaran nama baik gugur atau memang melakukannya. Jangan malah melebar dan menebar ancaman ke mana-mana.

Kedua belah pihak patut menggunakan jalur hukum. Biar hakim yang  menggunakan konstitusi sebagai penengah, jangan kemudian di kepolisian dengan atas nama berdamai, cabut kasus, dan nantinya yakinlah mengulangi. Model yang ini sudah bosan menyaksikan. Jangan kaget, ketika makin banyak orang mencaci maki, mengatakan tuduhan, bahkan fitnah tanpa merasa bersalah dan ketika terpojok mengaku khilap, tidak bermaksud demikian.

Mirisnya, pola-pola ngawur dan waton sulaya ini dipakai oleh pihak-pihak yang mengaku oposan. Padahal secara tata negara dan sistem pemerintahan, tidak ada namanya oposisi karena sistem bernegara kita ini presidensial. Dewan secara keseluruhan itu pengawas pemerintah. Sebenarnya tidak ada oposan karena bukan sistem parlementer. Salah kaprah diperparah oleh ideologis yang ugal-ugalan.

Era 2004-2014 sistem bernegara kita cenderung waras, sebagaimana mestinya. Ada PDI-P bersama Gerindra menjadi pihak di luar pemerintahan. Mereka tidak mendukung SBY-JK karena kalah dalam pilpres. Pilihan bagus, waras, dan normal. Hal yang mereka lakukan selama sepuluh tahun. Tidak banyak mulut  bahkan juga hingga lahir fitnah dan ugal-ugalan. Pun masyarakat, SJW, atau elit lebih tertib.

PKS-Golkar malah lebih galak di dalam menyikapi kebijakan SBY-JK. Mereka memainkan dua kaki dalam banyak kasus. Mereka lebih "liar" dari  pada duet Gerindra-PDI-P. Hal yang terbaca dengan baik bagi massa pemilih. Mereka sukses luar biasa dalam dua pemilu berikutnya. Meninggalkan Demokrat, yang sempat berjaya. Ini bukan semata efek mereka memiliki calon presiden, namun membangun politik berkarakter.

Semua berubah ketika 2014 ada lahir gaya baru bernegara.  Caci maki bahkan kepada pemerintah, khususnya Jokowi, fitnah dengan segala cara. Pelakunya beraneka ragam, namun dengan satu frame, oposan. Sebenarnya berbeda latar belakang, hanya menggunkan satu kesamaan ideologi "oposan".

Barisan sakit hati. Ini dimotori elit Gerindra yang kecewa jagoannya kalah pilpres. Mereka ini sangat mudah dipahami karena memang demikian adanya. Siapa yang tidak kecewa sih, ada Fadli Zon dan kawan-kawan. Asli oposan apapun pemerintah salah, pilihan yang tidak benar juga. Belajar 10 tahun hilang sekejap karena kalah pemilu. Lebih ngawur lagi ketika menyandera keberadaan dewan. enah namanya, yang jelas politik ugal-ugalan dan waton sulaya.

Kelompok ini, mengembang dan makin banyak karena ada menteri dipecat, komisaris dipecat, dan banyak alasan berbeda dan kumpul menjadi satu. Ada pula gelandangan politik karena perbuatan masa lalu. Narasi mereka sama, pemerintah gagal.

Keberadaan kelompok sakit hati ada yang berubah, ketika Prabowo masuk kabinet. Toh sebagian masih sama saja. Ada yang memang tidak tahu politik, tetapi ada yang karena ideologi. Dukungan kepada Prabowo hanya semata kamuflase demi mendapatkan panggung perjuangan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x