Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Otentiknya Fadli Zon, Falsafah Bus Kota

25 November 2019   12:27 Diperbarui: 25 November 2019   12:52 742 13 3 Mohon Tunggu...

Otentiknya Fadli Zon, Falsafah Bus Kota Tidak Boleh Saling Mendahului

Politikus paling jujur itu Fadli Zon. Lihat saja usai diam seribu twit-an usai Prabowo masuk kabinet Jokowi, begitu Ahok naik kelas, ia keluar sarang. Demikian juga dengan pengangkatan staffsus yang berusia muda, ia juga bereaksi. Apa yang diungkapkan sih tidak penting, sama tidak pentingnya dia selama lima tahun yang lewat.

Ahok ini memang fenomenal. Baru  isu saja gelombang penolakan sudah datang. Eh Zon yang mendadak alim itupun turun gunung, meskipun ia lupa posisi, kini bukan pimpinan, yang bisa komentar semua bidang. Kini ada dalam komisi yang terbatas. Toh tahu sendiri dia seperti apa, tetap saja nyerocos.

Komentarnya Ahok mana prestasinya. Bagus dan keren memang pernyataannya. Bagaimana tidak, berapa banyak komisaris dan direktur BUMN yang ada, selama ia juga menjabat pimpinan dewan yang tidak ada hasil, nol besar itu. Dia komentar? Tidak bukan. BPJS yang amburadul. Mana komentarnya? Mengapa dia diam saja?

Ingat Zon sangat jujur dengan capaian dia sendiri. Kan aneh, ketika ia mengritik Komut atau pun jajaran direksi yang kinerjanya buruk ia kritik. Malah yang biasa bekerja ia nyinyiri, Ahok ini bukan satu-satunya, ada Jokowi, Susi, dan juga Sri Mulyani. Ia sungguh jujur mengakui dia gak bisa bekerja sebagaimana nama-nama itu.

Pun gubernur, ketika Ahok menjabat berapa kali ia menghasilkan masterpiece, pantun ataupun puisi. Anehnya lagi-lagi ini jujur kog ya, Anies dengan segala kelucuannya dia diam seribu bahasa. Padahal apa beda Anies dan Ahok coba. Ya ding, Ahok kan pekerja, kalau dia kritik atau nyinyiri Anies malah lucu. Salah kodrat.

Kembali juga ia berceloteh mengenai staf khusus presiden yang ia ledek. Ini juga bentu kejujura Zon yang hendak ia nyatakan. Bagaimana ia melihat staff presiden kan banyak, bukan hanya yang akan bertugas ini, mengapa ia bereaksi? Ingat ia juga dulu adalah anggota MPR tunjukan Soeharto era Orba. Ia kembali mengatakan kalau dulu ia tidak juga bisa bekerja. Makanya ia menakar anak-anak ini tidak akan bisa bekerja.

Mengapa diam saja termasuk kepada Moeldoko, atau pembantu presiden yang bisa melakukan kinerjanya dengan baik. Jelas ia mau  jujur dan mengaku kalau ia tidak bisa bekerja. Kan lucu kalau meledek sesama yang sama-sama tidak bisa bekerja.

Coba mana pernah ia nyinyir atau bolehlah memakai bahasa ia mengritik kabinet yang tidak menghasilkan apa-apa seperti Menteri Kehutanan yang kebakaran terus. Ingat malah ia meledek Jokowi, bukan Siti Nurbaya, termasuk ketika Jokowi turun ke lapangan. Ia malah mengatakan wisata kebakaran. Mengapa bukan Siti yang ia ledek?

Demikian juga ketika Susi Pudjiastuti yang sampai berdebat di media sosial. Toh ia merasa baik-baik saja, mengapa? Ya karena memang ia tidak bisa bekerja, yang ia serang yang bekerja. Kan bener. Coba kalau ia menyorot yang tidak bisa bekerja, kan meledek dia sendiri.

Pernah tidak ia menghina dewan dengan pimpinannya yang tidak pernah menghasilkan sesuatu itu? jelas tidak. Ia sedang mencoba jujur dan mengakui kualitas dirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x