Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Anies, Komunis, dan Pilihan Politik demi 2024

10 Oktober 2019   10:54 Diperbarui: 10 Oktober 2019   11:37 0 14 7 Mohon Tunggu...

Beberapa waktu lalu, Gubernur Anies mengingatkan bahaya Komunisme itu nyata. Setuju, sepakat, toh saya juga masih mengalami cukup lama imbas masalah itu. Pro dan kontra masih demikian kuat mengenai hal ini. Ada yang  mengatakan itu mainan penguasa, atau juga kampanye sekelompok orang.

Yang jelas masih cukup segar bagaimana orang demikian ketakutan dengan cap OT. Betapa susah bergerak baarang siapa yang berkaitan dengan mereka itu. Hal yang sangat mudah bisa ditemui dalam kisah novel-novel. Itu faktual. Dalam kisah nyata pun demikian. berseliweran kisah tragis itu.

Waspada itu boleh dan harus malah, namun paranoid jangan sampai. Begini saja, jika memperingati Kesaktian Pancasila, bukan membahas kualitas dan kekuatan jiwa dari Pancasila, malah membahas pihak yang dikalahkan oleh Pancasila, itu normal atau tidak?

Begini, el classico di mana Madrid dipecundangi barca di Madrid. Pasti yang akan dibahas adalah keperkasaan Barca, bukan soal keberadaan Madrid. Atau bagaimana sebaliknya, ketika di Barca, Barcelona dikalahkan tim kecil. Akan dibahaslah tim kecil yang luar biasa itu. kemarin M. City kalah di kandang oleh tim tidak level. Mereka dikupas bagaimana pemain yang dibuang pelatih Pep malah mempermalukan, ekspelatih yang telah menjualnya. City tidak lagi menjadi fokus.

Ada apa Anies membahas Komunisme bukan malah mengupas Pancasila yang tetap jaya di hadapan komunisme. Ingat ini pun masih kontroversial sebenarnya. Paling tidak secara normatif ya memang demikian adanya.

Menjadi sebuah indikasi kalau Anies memiliki kecenderungan berpihak pada kelompok yang bukan Pancasilais, tampaknya bisa demikian.   Beberapa kali menjadi pembicaraan bagaimana pilihannya yang cenderung populis ngawur itu adalah upaya demi 2024.

Awal mula bersikap demikian secara publik jelas pilkada DKI 2017. Bagaimana ia menjadi bagian utuh atas perilaku ugal-ugalan berpolitik identitas. Kapitalisasi atas suku dan agama Ahok sebagai petahanan paling menjanjikan. Ayat dan mayat menjadi komoditas yang demikian vulgar terjadi. sangat wajar ketika itu hanya dalam masa kampanye, namun terus menerus ternyata dipakai.

Mei, ketika ada kerusuhan ekses hasil dari  pilpres dengan berbagai kepentingan. Keberadaannya yang tidak ada di tempat. Dan tiba-tiba malah mengusung keranda korban yang sebagian pihak mengatakan itu adalah perusuh. Kondisi yang identik dengan rusuh ala Timur Tengah dengan memainkan rasa heroisme, korban siapapun dia pokoknya ada dalam keranda yang bisa menaikan tensi politik.

Kemarin, demo tidak jelas lagi, lagi dan lagi, dibanding gubernur lain, ia paling aneh dan lucu. Mengunjungi  "korban" dan menawarkannya ASN jalur khusus. Lagi dan lagi keberpihakan yang aneh dan lucu, di tengah permasalahan yang sangat sumir, bahkan tidak ada urgensinya ada korban seperti yang ia kunjungi.

Ramadhan yang lalu, ia mengundang ulama Palestina. Jelas konteks ini adalah konteks politis, di mana orang bersimpati pada Palestina. Sejatinya Palestina bukan soal agama, murni politik. Namun demi ketenaran ia mengundang mereka, mengenakan syal Palestina.

Tidak jarang ia juga berkumpul untuk sembahyang atau sholat yang tidak pada tempatnya. Mengapa demikian? Jelas permainan dan mengaduk-aduk  perasaan pemilih, adanya pemimpin religius, agamis, dan menjanjikan karena keaktifannya beribadah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2