Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bangun Samudra Ustaz Lulusan Seminari "Akselarasi", antara Logika dan Kebenarannya

26 Juni 2019   19:53 Diperbarui: 26 Juni 2019   20:03 10441 10 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bangun Samudra Ustaz Lulusan Seminari "Akselarasi", antara Logika dan Kebenarannya
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bangun Samudra Lulusan Seminari Akselaris, antara Logika dan Kebohongan

Hati-hati, membaca, sehingga tidak malah menjadi salah tafsir, merasa tidak rela ada bagian Gereja yang menjadi penganut agama lain, namun kebenaran di mana ia memilih agama, bukan iman yang lain. Beda agama dan iman.

Agama masih bisa memisahkan dengan menjelekan yang ditinggalkan atau berpindah keyakinan, jika iman itu kaitannya dengan Ketuhanan dan kesatuan umat manusia, bisa saja agama berbeda. 

Jadi ingat almarhum Gus Dur menyebut almarhum  Rama Mangun itu seiman berbeda agama, namun dengan seorang tokoh masyarakat itu seagama namun tidak seiman.

Tadi sore mendapatkan kiriman teman film soal adanya Ustad Samudra bekas pastur yang sangat pintar, sekali lagi ini bukan soal bekas pastor atau apa, namun bagaimana kebenaran itu ada di sana, banyak hal yang harus diketahui K-ners dan juga pembaca, bahwa ada kebohongan yang sama sekali tidak benar untuk diluruskan.

Entah apa maksudnya berbuat demikian, namun toh ini benar-benar serius, karena audiens itu demikian terkesima.  Yang jelas pendidikan seminari itu ada standarisasi bahkan hingga Vatikan, di mana setingkat sekolah menengah itu empat tahun, masa awali satu atau dua tahun, seminari tinggi itu empat tahun plus masa tugas orientasi satu, dua atau tiga tahun, dan kemudian teologi dua tahun, dan kemudian masa diakonat setengah tahun hingga setahun.

Itu normatifnya, jauh lebih lama bisa, kalau cepat nampaknya belum ada. Akselerasi tidak dikenal di seminari manapun juga, sependek pengetahuan saya, karena entah karena Samudera jadi  berbeda. Beberapa hal yang layak dilihat adalah sebagai berikut:

Ia mengatakan SD, SMP, dan SMA di sekolah Katolik di Surabaya, kemudian masuk seminari menengah yang biasa disebut KPA Kelas Persiapan Atas, di mana lulusan SMA ada seperti matrikulasi, kalau Blitar, itu dua tahun. Akselerasi, gak mungkin menjadi satu tahun. Ini berbahaya, karena seolah ia orang sangat luar biasa dan pintar dan menjadi penganut agama lain. Alasan itu biar dia sendiri yang mempertaanggungjawabkan, namun pembelajaran untuk  pendengar perlu tahu tidak demikian adanya.

Ia mengaku karena pintar diselesaikan setahun. Mana mungkin jenjang pembinaan itu bukan soal kognisi semata namun juga kematangan emosi, psikologi, dan terutama kepribadian, dan iman yang makin mendalam bisa dipersingkat karena kepintaran intelektual.

Kelucuan berikut, tidak ada eksseminari menengah, apalagi KPA dua tahun ditaruh diumat, bahasanya, masih ke sekolah tinggi, dan ia kemudian mengaku sepuluh semester ditempuh tiga tahun.

Sistem  paket, bukan sistem SKS, susah melihat kebenaran bisa menyelesaikan lebih cepat. Jangan kaget mau IP 4 atau 2,75 selesainya juga sama. Jangan lagi-lagi kaget, IP 4 di jurusan demikian itu sangat biasa. Mana mungkin pembinaan kematangan holistik bisa diselesaikan dengan sistem akselerasi.

Lagi-lagi ada maaf bualan yang sama dengan poin atas. Susah dimengerti bagaimana hal ini bisa diyakini oleh para audien dengan gegap gempita demikian, kasihan para pengikutnya, bukan eks- pastornya yang menjadi keprihatinannya.

Dilantik, istilah yang sama sekali tidak lazim bagi imamat, pelantikan itu hanya pada lektor, pembacaan Kitab Suci, dan pelayanan altar, itu kelas tiga atau empat seminari tinggi. Jika maksudnya karya pelantikan, jelas ngibul dengan peristilahan tersebut.

Kelucuan berikutnya, sekembalinya dari Vatikan tugas belajar master, akan kembali menjadi guru seminari, pastor paroki, atau di keuskupan, tidak juga dosen, karena biasanya dosen itu lulusan doktoral. Ini malah lucu, melamar ke TVRI.

TVRI,  ke mana logikanya, belajar teologi Katolik namun melamar ke TVRI. Mengapa melamar kerja jika pekerjaan di keuskupan saja kekurangan tenaga? Aneh yang tidak diperhatikan para pendengarnya.

Maaf, mulai kelihatan wataknya ketika menjelek-jelekan kekatolikan dan alasannya pidah. Pertama soal enaknya menjadi pastor dengan perpuluhan. Ia nyatakan Mateus. 16 berbicara perpuluhan,  dan itu tidak ada sama sekali dalam Kitab Mateus itu berbicara mengenai perpuluhan.  Kutipan KS mengada-ada.

Kedua, Gereja katolik juga tidak mengenal dengan kaku perpuluhan bagi  persembahan umat kepada Gereja. Jadi kacau soal perpuluhan. Sepertinya bukan Gereja Katolik  yang menekankan hal demikian.

Pendeta, ia berkali-kali menyebut pendeta, kog Katolik, Vatikan lagi. Jika berbicara Gereja Katolik dan Vatikan, itu pastor, imam, rama, pater, bukan pendeta. Entah apa yang dimaksud dengan kekacauan penyebutan ini, jadi makin tidak yakin pernah menjadi orang Katolik atau Kristen sekalipun.

Berbicara soal enak lagi, ia mengatakan enam bulan sudah mendapatkan pajero misalnya. Karena laporan  sampai dewan gereja Indonesia, hingga Vatikan dan dapat mobil itu. Ini lagi-lagi keanehan, karena dewan gereja tidak ada, jika berbicara Vatikan berarti KWI, jika Kristen seharusnya PGI dan itu tidak ada kaitan dengan Vatikan.

Ambil gobloknya KWI karena ia mengaitkan dengan Vatikan, toh Vatikan tidak pernah mengurus mobil itu ecek-ecek. Jika benar ia benar pastor ia akan tahu bahwa Keuskupan, setingkat provinsi gerejani itu saja bisa, bahkan banyak paroki, setingkat kabupaten-kota, bahkan kecamatan mampu kog.

Hukum gereja malah mengatur, terutama Keuskupan Semarang itu sekelas kijang, ya level avansa, bukan pajero, jadi jelas ia tidak tahu sama sekali tentu gereja dan kebiasaan-kebiasaannya. Maunya membesar-besarkan hidup mewah namun tidak tepat.

Apa yang hendak saya sampaikan adalah, janganlah ketika berganti baju itu menjelek-jelekan dengan berlebihan. Kali ini juga dengan Dedy beralih agama. Itu haknya kog, tidak ada orang Katolik yang sewot.

Berkaitan dengan Samudra ini jika memang pernah Katolik, dan saya kog yakin belum kalau "dilantik" jadi pastor, jemaah, atau siapapun yang mau mendengarkan ceramahnya, paham ada yang tidak benar di sana. Sama sekali tidak penting bahwa ia bekas pastor, namun penting adalah apakah ia sebagai ulama itu bicara benar dalam kepercayaannya yang baru.

Kasihan jemaahnya yang ia jejali dengan informasi yang kurang mendasar. Sejatinya kan tidak penting apa yang menjadi "gaya hidup" agama lamanya, apalagi malah tidak benar.

Terima kasih dan salam

Artikel yang mengupas yang sama dibahas seorang pastor asli,

https://www.kompasiana.com/yswitopr/55c07e682223bd69128b7dfb/jangan-ajari-kami-toleransi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x