Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Raibnya Kemenangan Prabowo dan Manuver Demokrat

12 Juni 2019   08:30 Diperbarui: 12 Juni 2019   08:58 0 27 14 Mohon Tunggu...

Demokrat, usai meninggalnya Ibu Ani membuat banyak pergerakan politik yang demikian masif. Tentu tidak ada kaitan dengan wafatnya beliau. Hanya momentumnya saja yang pas dengan Lebaran dan kepulangan Ibu Ani. Cukup menarik karena dikaitkan dengan kemenangan yang raib, apakah sedemikian hebatnyakah Demokrat dan nasihatnya?

Ini hanya manufer politis semata, bukan sebentuk keyakinan, baik karena survey apalagi fakta. Mengapa demikian? Lihat saja  jauh ke belakang, dengan pilkada DKI yang cukup identik. Memang AHY belum tampak dan setenar sekarang ini, namun jika menilik banyak hal, toh tidak cukup membantu.

Jauh lebih tepat memilih Sandi yang kata Demokrat belum jelas dalam survey, di mana mereka adalah penganut survey dalam hitung-hitungan politik. Mereka abai Sandi cukup tenar karena sudah jadi wagub DKI dengan segala tingkah polahnya, selain itu jelas soal dana yang demikian kuat. Pertimbangan ini tidak mereka lihat.

Capaian Demokrat pun tidak cukup signifikan jika berbicara soal kemenangan. Bagaimana mungkin suara Demokrat yang kalah jauh dari Golkar apalagi PDI-P bisa menjadi jaminan kemenangan Prabowo kalau mau ikuti nasiatnya. Apa benar mereka tidak menghendaki AHY sebagai capres yang ditolak? Sangat kecil alasan lain.

PAN da PKS pun  sama ngototnya untuk mengisi slot satu posisi yang masih terbuka. Soal capres sudah harga mati. Pilihan Sandi ini jelas posisi yang paling aman dipilih dengan berbagai pertimbangan baik dan buruknya.

Demokrat yang selalu menglaim partai santun pun ikut ugal-ugalan kog, artinya mereka ikut arus, bukan memberikan solusi alternatif cerdas. Lihat narasi Andi Arief yang seolah bertugas untuk mendelegitimasi KPU dengan segala ciutan dan ide-idenya. Kecurangan, surat tercoblos, server, dan itu-itu saja. Mereka toh ikut di sana, mana bisa menglaim kekalahan karena tidak ikut nasihat mereka.

Nasihat pun biasanya telat, jelas tampak dalam memberikan nasihat mengenai kampanye di SUGBK, di mana mereka mengambil jarak dan menyatakan cara berkampanye mereka tidak patut. Mosok sudah menjelang kegiatan baru memberikan nasihat, apa mereka sama sekali tidak tahu atau tidak mau tahu jauh-jauh hari. Jelas sangat tidak mungkin.

Jauh sebelum itu, memberikan kebebasan politik pada elit dan kadernya untuk memilih dalam pilpres. Artinya mereka sudah mainkan politik dua kaki. Mana bisa memenangkan calon yang mereka usung dengan setengah hati. Upaya omong kosong.

Persoalan layat yang seolah dipolitisir pun sebenarnya juga sedikit banyak ada benarnya juga. Di mana mereka malah makin memojokan Prabowo. Benar memang Prab kurang pantas, namun sama juga kurang pantasnya kog reaksi yang ada. Artinya sama saja tidak patutnya. Di sisi lain puja dan puji diberikan kepada Jokowi dan keluarga.

Bagaimana pujian dari dua elit Demokrat di tengah narasi tidak positif dari warga net soal pakaian Kaesang, mereka jelas sudah memberikan perubahan arah. Kalau mau jelas lagi tilik saja melalui media dan rekaman jejak digital bagaimana perilaku mereka, konsisten atau berbalik arah.

Kondisi makin parah dengan kunjungan Idulfitri ke rumah Ibu Mega dan Pak Jokowi, namun sama sekali tidak ke rumah Pak Prabowo. Memang dalam adat timur bisa dinyatakan, toh ke Bu Mega sebagai kerabat yang jauh lebih sepuh itu harus. 

Dan ke Pak Jokowi sebagai pemimpin juga harus. Posisi Pak Prabowo sebagai sepantaran, tentu dengan konteks Pak Beye, tidak pun tidak apa-apa. jangan lupa, ia tetap pemimpin khusus, dalam koalisi. Koalisi belum patut dinyatakan selesai, karena prosesnya masih berjalan koq.

Masih banyak pernyataan-pernyataan Demokrat yang bertolak-belakang dengan esensi koalisi, apalagi akhir-akhir ini. Benar bahwa pilihan mereka boleh sudah berhenti pada pencoblosan yang lampau, semata adminitrasi, namun ingat ada ranah etik yang tidak patut yang dilakukan. Jangan lupa, ini juga menjadi catatan ke depan, rekam jejak politik yang tidak elok sudah dipampang.

Jangan hanya karena rekan susah dan salah jalan kemudian berakrab ria dengan calon rekan baru. Tampilan senyum cerah bersama Puan dan Bu Mega, pada sisi lain pastinya dibarengi senyum kecut dari Prabowo dan rekan-rekan yang masih berupaya terakhir ke MK.  Lagi-lagi ini ranah etik dan kepatutan.

Jalan  yang ditempuh Prab dan kawan-kawan mungkin bagi Demokrat salah, namun tentu tidak elok malah bersenang-senang dengan pihak rival. Ingat ini tentu bukan soal kebebasan dan kedewasaan berpolitik di mana perbedaan pilihan bukan memisahkan. Jauh dari itu. Nyatanya sikap pada Prabowo sebagai rekan seperjuangan sangat buruk kog. Jauh lebih elegan jika mereka, AHY dan EBY juga  berlebaran ke Pak Prabowo.

Pernyataan omong kosong semata, jika mengatakan kalau saja Prabowo mendengarkan Demokrat akan menang. Fakta ke sana sama sekali tidak ada. Salah satunya, mengenai politik waton sulaya, toh mereka ikut juga, politik santun, mereka juga tidak menampilkan itu. Politik identitas, mereka diam saja, program sama sekali tidak jelas mau apa, membebaskan pilihan presiden malah memberikan bukti bahwa mereka jelas tidak serius.

Demokrat beralih haluan boleh, namun tentu dengan lebih cerdas, bijaksana, dan elok, bukan seperti tampilan akhir-akhir ini. Sayang potensi besar  melayang karena salah memilih jalan.

Terima kasih dan salam