Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pak Prabowo Anda Kesepian?

29 Mei 2019   08:14 Diperbarui: 29 Mei 2019   08:36 0 16 9 Mohon Tunggu...

Pak Prabowo Anda Kesepian?

Beberapa kali ada informasi, entah benar entah olok-olok, namun bisa cukup menjadi indikasi betapa sepinya hidup Pak Prabowo. Soal kucingnya yag demikian dekat dengannya, bobby,  dan berbicara dengan semut.  Mungkin saja hanya dengan kedua binatang ini yang mewakiliki sosok yang "mengertinya", tidak akan ada kucing menuntutnya menjadi presiden.

Atau semut yang memintanya tegar, lantang, dan juga mengejar-ngejarnya untuk Jumatan. Padahal pada sisi lain, Pak Jokowi hingar bingar photo dengan anak cucu, berjalan-jalan dengan keluarga besar, wawancara sambil menggendong cucu yang lagi gemes-gemesnya. Kondisi yang bertolak belakang, padahal sedang dalam kondisi untuk mencapai titik yang sama, dengan pendukung yang berbeda.

Pendukung dalam arti yang cukup berbeda, bukan politis, dan partai politik saja, namun nonteknis yang sangat berdampak dalam banyak hal. Dukungan orang terdekat, lingkungan, dan keluarga mungkin. Kita paham bagaimana keluarga Pak Prab yang posisi anak di luar negeri, mantan istri memang di sampingnya, namun posisi yang jauh berbeda.

Pulang, sarat makna, ada yang menyambut, ada keluarga yang menerimakedatangan. Membiara pun ada rekan sekomunitas yang akan menerima kedatangan itu. eits jadi ingat film Ave Maryam, ketika Maryam jatuh, ia mengendap masuk rumah pun disambut rekan sekomunitas dalam kehangatan.  

Pulang itu ada kehangatan. Maryam yang baru saja jatuh dalam skandal malah diterima, dipeluk, dan dirayakan ulang tahunnya. Mereka tidak mengingat "pelanggarannya" keluar biara, namun ulang tahun yang dirayakan. Ada kebersamaan, ada keluarga, ada kehangatan yang akan memberikannya energi positif dan kekuatan untuk melangkah.

Bisa membayangkan bagaimana Pak Prab pulang dalam keramaian namun hatinya sunyi, ribuan ternak itu kamuflase atas kesepian yang tidak ia sadari mungkin. Ingat sepi berbeda dengan kesepian, dan para pertapa padang gurun itu sepi namun tidak kesepian. Mereka memilih sepi, memilih  sendiri. Pilihan bebas memang bukan kondisi.

Teman atau penuntut, selama ini Pak Prab penuh dengan lingkungan yang riuh rendah dalam konteks politik, namun apakah benar mereka benar-benar tulus menjadi seorang sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah di balik tuntutan yang serba besar itu? Ini menjadi penting. Sekeras-kerasnya orang, searogan-arogannya orang, tetap perlu yang namanya rekan, sahabat, dan  kawan yang mau mendengarkan. Ingat mendengarkan.

Mungkin sulit bisa menasihati, namun mau mendengarkan, bukan semata mendengar. Banyak teman yang hanya menuntut untuk ini dan itu. Sepertinya itu yang terjadi, lihat saja aksi dan reaksi yang ada. Arogan dalam acara-acaranya kemungkinan adalah sebuah reaksi yang ingin ia sampaikan pada rekannya namun tidak tahu cara menyatakan dengan semestinya.

Acap kali berbeda apa yang ia lakukan dengan apa yang lingkungan ungkapkan. Relasinya dengan Pak Jokowi bagus kog, bisa berkuda bareng yang menyejukkan. Menghadiri pelantikan dengan ksatria, mengapa kini demikian jauh berbeda?

Teman ramai, media meliput, namun bukan rekan yang mau melihatnya sebagai pribdi utuh. Temannya hanya ramai dan menjadi akrab ketika ada kepentingan. Datang hanya karena perlu, ada manfaat yang diperoleh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2