Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humor

Troya Demokrat atau Demokrat Troya?

27 Mei 2019   08:32 Diperbarui: 27 Mei 2019   09:10 0 27 7 Mohon Tunggu...

Troya Demokrat, atau Demokrat Troya?

Perang Troya banyak yang paha bukan, juga siasat di dalamnya. Iya Troya bukan Kroya ataupun Korea yang disukai dramanya itu. Nah siasat Troya ini seolah membantu dengan kedatangan kudu, namun penuh dengan pasukan terpilih yang menyusup. Dan selesailah perang itu. Pokoknya begitu, lengkapnya tanya Tante Wiki.

Pilpres dan pileg dalam Pemilu 2019  menuju tahap akhir, dengan sengketa pemilu di MK. Serius MK dengan menggandeng lima lembaga hukum untuk membantu menangani ratusan kasus sengketa pemilu, baik pilpres yang paling heboh hingga dewan daerah yang tidak boleh dianggap remeh. Keren MK.

Perjalanan panjang pemilu itu sejatinya lima tahun, tidak hanya tiba-tiba masa kampanye saja, atau mulai pendaftaran. Perlu kerja terus menerus dan berkesinambungan. Mengapa riuh rendah sekarang, beberapa karena perilaku SKS zaman sekolah masih dibawa. Mau berak baru buat jamban, ya geger. Lihat yang serius berkompetisi diam-diam saja.

Salah satu yang ramai dan panas itu dalam koalisi 02, selain berkelahi di dalam, mereka asyik menciptakan narasi dan opini yang dari ke hari malah makin tidak jelas muaranya. Mereka maunya kursi presiden titik. Mau demokratis atau tidak bukan yang utama. Usai menuntut ke MK baru kelihatan aslinya yang selama ini berputar-putar, pokoknya Jokowi didiskualifikasi dan Prabowo presiden.

Salah satu yang parah adalah keberadaan Demokrat. Di mana mereka sejak awal jelas seperti apa warnanya. Mendukung dalam detik terakhir dengan drama harus didatangi bukan datang untuk memberikan dukungan administratif juga moral. Ya sangat wajar karena posisi presiden keenam.

Usai drama dengan tudingan kardus yang menguap begitu saja, mereka juga cukup terbuka mengatakan bahwa kader dan elit bebas menentukan dukungan kepada paslon capres mana, karena fokusnya adalah pileg, karena katanya efek dari capres usungan mereka tidak cukup membantu. Aneh dan lucu.

Drama demi drama khusus 02 cukup panas. Persoalan cara berkampanye saja menjadi konsumsi publik yang sangat heboh. Lagi-lagi detik akhir, soal ibadah atau kampanye di GBK, sebagai penutupan masa kampanye. Boleh mengritik namun apa dampaknya? Telat dan jelas bagi keberadaannya sendiri bukan koalisi.

Masa krusial penghitungan jelas lagi-lagi sama saja. Koalisinya ngotot antiMK, mereka tetap mengatakan MK. Masih juga beberapa dengan narasi yang sama, antipemerintah, tapi juga tidak mendukung Prabowo. Meledek Prabowo tapi juga malu menyatakan selamat ke Jokowi. Lagi-lagi aneh.

Usai segala upaya Prabowo mentok, dan tanda-tanda KPU akan ketok palu, beberapa corong masif mereka ramai-ramai menarik diri karena rekan mereka sadis dan menjadikan alasan Bu Any yang dijadikan bahan candaan dengan gerah-nya. Lucu saja sebenarnya memang hanya baru kali ini mereka tidak manusiawi? Come on kata Pak Beye, dan mereka lagi-lagi menjual kelucuan.

Troya ini entah menjadi korban atau pelaku si Demokrat, namun beberapa kepentingan patut dicermati dengan lebih sungguh.

Kebiasaan Pak Beye  yang perfeksionis, merasa paling baik, suci, sempurna, dan paling berprestasi, bisa menjadi pembenar kalau ada isu yang mengatakan, jangan sampai ada dua presiden dari satu angkatan AMN. Sangat mungkin, toh sangat dini juga hanya dengan sedikit asumsi dan data yang ada. Kemungkinan itu tetap tidak bisa dikesampingkan.

Politik itu jelas kepentingan termasuk persaingan. Persaingan cukup sengit bisa tersaji dengan kondisi 2024. Jangan lupa, politik itu perjalanan panjan. Hitung-hitungan 2024 harus sudah dilakukan sejak sekarang. Demokrat banyak berhitung jika Prabowo menang, kondisi bagaimana. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi.

Prabowo naik lagi dengan AHY  menjadi wakil. Ini jelas sangat kecil karena mendepat Sandi bukan persoalan sederhana. karena Jelas Prabowo tidak akan mau turun. Nah posisi sulit buat AHY dan Demokrat.

Jika kalah, Prabowo bisa sudah habis, atau dipaksa habis dengan berbagai cara, akan tersisa Sandi dan dalam banyak hitungan bisa diatasi. Pilkada DKI memberikan pembelajaran  penting bagi Demokrat, dan mereka tahu kekalahannya karena apa. Dan Sandi relatif lemah jika kali ini kalah, dibandingkan jika ia menang dan menjadi RI-2.

Posisi AHY yang bisa masuk kabinet siapapun presidennya jauh lebih menguntungkan untuk melabeli diri menjadi minimal cawapres periode 24 dengan siapa saja. Cerdik dan apik pola permainan yang dikembangkan bagi kepentingan diri dan partainya tentunya. 

Menepikan Sandi bisa sambil lalu. Suka atau tidak tetap Sandi menjadi kandidat cukup kuat, Prabowo sudah selesai dengan unsur umur dan juga kesehatan tentunya. Belum lagi politik yang bisa menjadikannya habis lebih cepat.

Menggembosi dan mendukung sekaligus sangat membantu keberadaan mereka. Seolah tidak nampak, namun dari perilakunya dan juga komentar banyak elit partai ini kog kecenderungan ini ada benarnya. Di depan mendukung administratif, di dalam menelikung dengan cara mereka bersikap yang malah merugikan kebersamaan mereka.

Terima kasih dan salam