Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Badai 02 Belum Berlalu, Demokrat dan PAN Melanda

14 April 2019   15:00 Diperbarui: 14 April 2019   15:01 3615 33 16 Mohon Tunggu...

Debat semalam bukan menambah soliditas koalisi, potensi kemarahan Demokrat sangat mungkin. Hal yang dibuat sendiri, usai salah membangun koalisi. Suka atau tidak, keberadaan koalisi ini sangat rapuh.

Menit terakhir bahka harus sampai tim yang sowan ke Demokrat bukan sebaliknya, kepergian SBY pas deklarasi kampanye damai, melengkapi pedihnya Demokrat dan SBY atas aksi dugaan jenderal kardus. Usai tidak ada nama AHY sebagai pendamping capres di sana-sini, usai sudah Demokrat.

Posisi sulit ini seolah dibiarkan begitu saja, dan menjadi duri dalam daging yang sangat memedihkan. Pernyataan untuk membebaskan kader demi pileg jelas aroma  dan warna yang terang benderang betapa Demokrat tidak peduli pada keberadaan koalisi.

Sikap cueknya elit koalisi 02, ketika SBY datang dalam sebuah acara menjadi salah satu indikasi jelas anak yang tidak dibutuhkan menjadi status  partai penguasa era lalu itu.  Sangat wajar nama AHY tidak ada dalam nama-nama Kabinet Adil Makmur yang beredar.

Ketika dalam debat, capres mereka malah mendukung Jokowi dan menyalahkan presiden sebelumnya, ingat ada SBY di dua periode masa lalu, jelas termasuk di sana. Ada kesalahan yang ikut dalam gerbong mereka.

Badai lain juga ikut memberikan terpaan pada koalisi yang memang rapuh ini. Salah satu elit PAN, Bima Arya, juga pimpinan daerah menyeberang ke kubu Jokowi. Jelas alasannya pun sangat masuk akal. Platform PAN ada pada kubu Jokowi-KHMA, bukan sebaliknya. Isu soal kasus dugaan korupsi sangat tidak penting dan masuk akal.

Fokus merusak kandang banteng, Jawa Tengah dengan segala aksi hara kiri yang tidak ada dampaknya sama sekali.  Hanya sebuah perang urat syaraf namun dengan konsekuensi Jawa Barat jebol dan Jawa Timur akan makin parah sekarang.

Hal  yang seolah dianggap sepele. Dua badai cukup kuat, namun tidak ada waktu lagi untuk konsolidasi. Ini sangat serius dan langsung berdampak pada pemilih.  Jawa Barat dan Jawa timur itu lumbung cukup kuat melalui PAN dan Demokrat, selain kedua partai mereka sendiri, yang tidak cukup  meyakinkan untuk meraup suara dengan signifikan. Modal awal malah dilepaskan hanya demi dampak psikologis yang belum jelas.

Jawa Barat, basis PKS yang mereka kecewakan, elit mungkin masih bisa diberi harapan kardus dan DKI-2. Lha akar rumput, apalagi kemudi mereka bergeser, bukan lagi PKS. Susah berharap  untuk meningkat. Ada pula Demokrat yang cukup kuat di sana. Malah PAN dengan Bima Arya lepas malahan. Ingat dia seorang kepala daerah lho, bisa memiliki keuntungan tertentu yang merugikan bagi koalisi 02.

Jawa Timur ini juga lumbung, di mana Demokrat bisa menjadi salah satu penghasil suara sebenarnya. sumber pemilih terbesar ada di Jawa Timur. Demokrat cukup  kuat di sana, namun malah "dilukai" apalagi Madura sebagai pendulang awal era 2014, kini juga mulai bergeser dengan banyaknya elit sana yang berpindah haluan. Madura masih cukup mendengar kata elit mereka dari pada sekadar kampanye.

Jawa Tengah, pilihan lucu sebenarnya, Jawa Tengah adalah basis fanatis banteng. Susah mengubah itu dengan berbagai-bagai alasan. Pun keberadaan asal Jokowi, kesuksesan di Solo, susah menggoyahkan dominasi Jokowi dari provinsi yang cukup kuat juga suaranya.  Fokus di Jawa Tengah seolah menjadi sia-sia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN