Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Main Dua Kaki Bikin Keki ala Koalisi 02, dari Setengah Mati ke Setengah Hati

12 Februari 2019   15:00 Diperbarui: 12 Februari 2019   15:18 833 28 13

Koalisi 02 ini makin lama makin sulit bukan makin solid. Ribut di dalam dan kelahi sendiri lebih dominan. Apa sengaja untuk cari tenar? Sama sekali tidak. Awalan hanya kesamaan asal bukan Jokowi yang lebih kentara, dengan alasan dan kepentingan masing-masing.

Indikasi paling parah adalah alotnya DKI Jakarta dengan posisi wagub yang hingga sekian bulan masih saja jalan di tempat. Ini bukan soal ada atau tidaknya kader, namun saling sikut dan sikat untuk duduk di kursi empuk DKI-2 itu.  Sangat mungkin dan wajar hanya ribut karena kepentingan kursi dan kedudukan bukan soal pelayanan apalagi pengabdian.

Sekia partai politik yang masih bisa diandalkan untuk menjadi mesin pemilih yang relatif solid itu hanya Gerindra dengan seluruh komponen di sana, dan PKS. Hingga detik ini  hanya mereka yang masih relatif utuh. Sikap setengah matinya PKS dijawab dengan setengah hati Gerindra bisa menjadi bumerang.

Model PKS yang takut-takut nekat, ala ayam babon, dengan menyebut nama, berkali-kali gagal  itu diulang dalam drama DKI-2 ini. Penyebutan nama sebagai  bagian gertak sambal ala sembilan nama capres-cawapres lampau. Kini diulang dengan menyebut dua nama cawagub. Toh tidak akan jauh berbeda. Tidak pakai lama, pernyataan partai yang memiliki kuasa lebih telah mengatakan ini bukan benar atau salah, namun tidak etis melanggar fatsun berpolitik.  Main ancam ketika digertak bicara etis, haduh susah juga ini.

Permainan dua kaki memang belum dinyatakan oleh PAN. Partai penggembira ini sih tidak akan punya kuasa dan keberanian dengan sanderaan dugaan kardus, dan posisi sesepuh lupa umur, itu membuat mereka susah bergerak. Memang bisa dipercaya banyak juga tokoh dan elitnya yang membelot, namun tidak seterang-terangan Demokrat dan diikuti PKS. Pernyataan kalau capres mereka sangat tidak menguntungkan bagi partai pengusung dalam konteks ini tentu Demokrat dan PKS yang dinyatakan ketum dan presiden mereka.

Demokrat bahkan sampai mempersilakan kadernya untuk bebas memilih capres siapa saja. Partai dan ketua umum partai ini sih memang sudah gawan bayi main dua kaki. Telak dan cukup kurang ajar juga sebenarnya. Realistis tapi  jaga kepatutan juga lah di dalam berpolitik praktis.

PKS ikut-ikutan. Apalagi partai ini  paling sering dikadali oleh kebersamaan mereka. Sejak 2014, pilkada DKI 2017, dan pilpres kedua kalinya. Wajar jika mengatakan tidak menguntungkan mendukung koalisi ini, apalagi berkaca dengan DKI-2 yang alot tidak bermutu itu.

Berkarya bayi kemarin sore pun malah ikut-ikutan. Bagaimana wakil ketua Gerindra dulu, juga pendiri ini, kemudian menjadi ketua dewan kehormatan Partai Berkarya terang-terangan mendukung Jokowi. Dengan lugas juga mengatakan bahwa capres mereka tidak bisa berbuaat banyak untuk lima tahun ke depan. Jelas pukulan yang cukup kuat dan telak, di mana sedang perlu cukup banyak tenaga malah kehilangan dukungan yang cukup signifikan secara simbol.

Memang bahwa Partai milik Tommy ini paling-paling penggembira, namun toh secara simbolisasi cukup  besar dampaknya. Politik itu kesan dan pesan sangat membantu. Dan di sini jangan dianggap sepele perilaku main dua kaki, bahkan oleh partai kecil sekalipun.

Perilaku partai yang main dua kaki, ditingkahi para kader yang dominan pencaci dan pendengki di dalam bersikap dan menjawab persoalan dan isu terhangat hidup bersama. Termasuk partai Demokrat yang mengandalkan kesantunan ternyata juga mengirim pencaci kelas wahid di masa kampanye ini. efek bagi koalisi dan Demokrat sejatinya.

Sikap di dalam membela bak babi buta pada para pelanggar hukum yang sedang menghadapi proses hukum seperti Riieq Shihab, Ahmad Dani, Buni Yani, Bahar Smit, terbaru Slamet ketua 212. Sikap mereka keterlaluan dan sangat terbaca dengan gamblang mereka tidak mau tahu dan tidak berhitung bahwa itu merugikan.

Berkoar-koar dan menuding bahwa pemerintah ini dan itu, jelas bukan citra baik yang dibangun, namun memberikan gambaran dan lukisan suram di depan pemilih. Ingat partai dan mesin partai setengah hati saja. Belum lagi para simpatisan bisa enggan karena sikap buruk yang lebih kuat.

Merendahkan dan menganggap paling hebat. Padahal  mereka belum pernah melakukan apapun. Di dewan pun sama sekali belum bisa memberikan jaminan seperti apa kinerja mereka. Berbeda jika menjadi oposisi yang selalu bisa memberikan jawaban atas kondisi bangsa dengan lebih konkret dan menjawab keprihatinan. Selama ini hanya waton sulaya, bukan sebentuk harapan atas solusi.

Termasuk dalam  hal ini merendahkan profesi ini dan itu, mengatakan daerah ini begini dan begitu. Bagaimana bisa seorang pemimpin itu merendahkan rakyatnya sendiri, daerahnya sendiri. Apa iya simpati bisa diperoleh dengan sikap merendahkan, kadang juga menakut-nakuti dengan berbagai argumen dan perilaku mereka.

Perlu perbaikan kinerja dan komunikasi. Pemilu seyogyanya bukan sekadar mengejar kekuasaan, namun juga pendidikan demokrasi dan politik bagi seluruh elemen bangsa. Miris melihat kampanye hingga hari ini hanya diisi hiruk pikuk miskin esensi dan prestasi selain sensasi asal tenar semata.

Terima kasih dan salam