Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Koalisi 01 atau 02 yang Bohong Soal Takut Debat?

9 Januari 2019   12:09 Diperbarui: 9 Januari 2019   12:23 0 20 13 Mohon Tunggu...

Pemilu baik pileg atau pilpres makin dekat, cukup naik tensi dan temperatur menjelang pelaksanaan. Salah satu rangkaian itu adalah debat capres dan cawapres. Dalam satu bagian itu menjadi riuh rendah ternyata ada saling tuding siapa yang "takut" untuk debat. Dimulai dari tim 02 yang mengatakan kalau Jokowi ternyata takut debat.

Pembelaan jelas dilakukan oleh tim 01 yang mengatakan bahwa pihak 02 yang sebenarnya meminta tidak ada debat saja. Aneh dan ajaib memang bangsa ini, kebenaran yang satu itu bisa dikatakan oleh keduanya sama-sama merasa benar dan merasa pernyataan mereka yang lebih betul.

Melihat model pendekatan yang terus demikian, lebih jauh perlu dilihat bagaimana perilaku mereka di dalam mendekati kebenaran dan mana yang lebih bohong dan salah di dalam pernyataanya.

Lihat saja rekam jejak mereka di dalam berdebat, dan bisa sukses mengantar mereka menuju kemenangan. Jokowi telah mengalami debat untuk cawali dua kali, cagub sekali, capres sekali. Nah apakah benar takut debat, apalagi ini yang kedua. Tidak cukup bisa dinalar karena pengalaman yang sudah dilalui selama ini.

Memang Prabowo dan juga Sandi pernah merasakan debat, Sandi sekalinya sukses mengantar menjadi gubernur (toh bisa dikaji lebih jauh soal jadi gubernurnya), toh boleh lah dinilai sebagai kesuksesannya. Prabowo lebih tragis maju berkali-kali dan belum pernah merasakan capaian yang sebenarnya.

Jenjang karir Prabowo tidak didahului dengan debat, hanya ada sistem komando dan evaluasi tertutup. Dunia militer itu segaris dari atas ke bawah tidak ada model debat dan "berebut" pengaruh. Bandingkan dengan Jokowi yang memang memberikan janji dalam debat dan sukses menarik pemilih dalam pemilihan wali kota dua kali dengan pemilih 90% di periode ketiga. Pilkada DKI pun mengalahkan Foke sang ahli yang diusung partai pemerintah waktu itu.

Fakta ini meragukan jika kubu Jokowi enggan berdebat. Bagaimana mungkin orang yang lebih berpengalaman justru menolak apa yang sangat ia kuasai. Apakah tidak lebih mendekati kebenaran itu, jika yang enggan berdebat yang belum pernah merasakan manisnya debat?

Melihat dari sisi di mana yang biasa melakukan kebohongan. Beberapa saja lah daripada artikel penuh dengan daftar kebohongan, paling tidak yang fenomenal, sensasional, dan sangat mudah dipatahkan dengan argumen sepele saja.

Paling besar dan heboh jelas soal kisah kekerasan yang hendak menyasar pemerintah, eh ternyata itu operasi plastik. Hal yang memperlihatkan ke mana-mana berkaitan dengan kualitas kepemimpinannya. Melupakan rekan yang dulu sempat dianggap potensial menjadi pahlawan. Hal yang sama juga akan terjadi dengan kisah surat suara tujuh kontainer tercoblos. Pengingkaran kalau kenal sudah mulai didengungkan.

Biasa membuat berita palsu dan kemudian menjadikan viral, ketika terkuak mengingkari kalau kenal dengan pihak tersebut. Ini  berkali-kali, apalagi jika berbicara sejak 2014 lampau. Biasa berdusta.

Bicara soal harga nasi di luar negeri lebih murah. Hal yang juga berulang, ini bukan soal ngapusi, semata, namun juga ngwur, asal bicara. Ternyata mengenai ngawur ini juga pengulangan yang identik terus menerus. Keberadaan tempe yang setipis kartu ATM, dibantah dengan data pun hanya cengengesan tidak merasa bersalah apalagi berdosa. Kemudian mengeluarkan jurus bohongan lagi dengan belanja Rp. 100.000, 00 tidak cukup untuk kebutuhan berkeluarga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3