Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Fadli Zon, Hati-hati Jangan Sampai Kejadian RS Menjadi RS Jilid 2!

9 November 2018   05:00 Diperbarui: 9 November 2018   11:08 0 26 20 Mohon Tunggu...

Sangat menarik apa yang disampaikan Fadli Zon yang demikian reaktif ketika ada persitiwa, isu, dan wacana yang sekiranya menyudutkan pemerintah. Belum juga reda kisah Ratna Sarumpaet, masuk pengadilan pun belum, bisa-bisa ini, kasus, kisah Rizieq Shihab di Arab sana bisa menjadi kisah RS jilid 2, di mana mereka akan malu dan merasa jadi korban lagi, dan tuduhan pada pihak pemerintah sebagai khilaf lagi.

Sedikit melihat kisah atau kejadian Ratna Sarumpaet, di mana ada fakta muka bengkak, yang diklaim sebagai karena penganiayaan orang di dekat bandara Bandung. Tanpa ba bi bu banyak pemberitaan, ulasan via media sosial, dan bahkan ada konferensi pres mengenai penganiayaan oleh orang pada nenek-nenek, ini biadab, dan ujung-ujungnya adalah pemerintah.

Tidak mau tahu pokoknya adalah pemerintah bisa terkondisikan, tersudut, dan pada posisi buruk karena tidak mampu melindungi salah satu warga negaranya yang dinilai aktivis, seelevel dengan RA Kartini atau Cut Nyak Dhin.

Tiba-tiba ada pengakuan bengkak itu karena operasi plastik. Langsung para pembela itu menyatakan diri sebagai korban. Beramai-ramai meninggalkan dan tidak ada lagi yang mengingatnya, bahkan "dipecat" dari tim pemenangan mereka.

Kisah RS model lain, Rizieq, salah satu elit mereka juga menyatakan soal intelijen yang bermain. Cukup menarik dan bahkan maaf sebenarnya untuk sekelah pimpinan dewan berkomentar demikian ya memalukan. Mengapa demikian?

Pertama, apa iya intelijen Indonesia, dalam arti luas pemerintah mau membuka perseteruan secara terbuka pada Arab Saudi? Hanya intelijen gila yang main sekasar itu hanya demi seorang RS, apa sebanding dengan relasi pemerintahan Indonesia dan Arab Saudi yang selama ini sangat baik?

Kedua, apa sebanding jika benar intelijen bekerja hanya menjatuhkan RS namun risikonya bisa ke mana-mana. Ingat TKI yang antri dihukum  mati di sana tidak sedikit. Jauh lebih mudah "menghabisi" di sini bukan di negeri lain.

Ketiga, apa sepenting itu posisi RS sehingga pemerintah harus mempermalukan negara di depan dunia internasional. Beda lebvel Khasogi dan RS, di mana idealisme dan pernyataan Khasogi itu berisi, beda dengan RS yang hanya asal bicara tanpa dasar.

Keempat, apa iya levelRS yang melarikan diri itu harus diurus oleh intelijen hanya untuk mempermalukan bangsa dan pemerintah di Indonesia? Sangat tidak sebanding. Bagaimana kerugian yang ia ciptakan jauh lebih banyak, toh kementerian luar negeri toh masih diseret-seret.

Jauh lebih logis, jauh lebih berkelas jika Fadli Zon itu berbicara mengenai TKI yang dihukum mati dan akan dihukum mati. Jelas itu pejuang-pejuang bermartabat, bukan pelarian atas kasus yang masih belum beranjak, namun sudah ketakutan terlebih dahulu. Mana lebih berkualitas TKI yang bekerja membanting tulang dan terkena masalah hukum di negeri orang, atau pelarian atas dugaan kasus mesum?

Jika memang Rizieq itu pribadi yang bertanggung jawab ya datang ke kepolisian, apalagi sudah banyak yang di-SP3-kan, mengapa masih ketakutan seperti tikus got disergap kucing begitu?  Teriak-teriak di negeri orang dan ketika mendapat masalah hukum, ngemis kepada negeri dan pemerintahan yang ia ludahi terus menerus itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2