Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Politik Tai Kucing Rasa Coklat

12 Oktober 2018   05:00 Diperbarui: 12 Oktober 2018   05:06 365 15 12

Menyaksikan perilaku politikus akhir-akhir ini jadi ingat lagu lamanya almarhum Gombloh, yang menyatakan, maaf tai kucing rasa coklat. Apa yang dimaknai oleh Alm. Gombloh itu, cinta itu hilang logika, semua hal bisa berbeda makna dan arti karena semua tertutup yang namanya cinta. Eh ternyata dalam berpolitik, politikus kita akhir-akhir ini kena sindrom ini, kalau politik melekat, tai kucing rasa coklat.

Beberapa indikasi boleh lah kita lihat bersama.

Pertama, Amien  Rais yang merasa menjadi korban Ratna Sarumpaet, namun enggan diperiksa polisi. Demi menyelamatkan nama diri dan kredibilitasnya menggigit Kapolri Tito Karnavian, usia upayanya melepaskan diri dengan dalih recehnya tidak mempan. Pun KPK juga hendak diadu domba dengan kepolisian.

Kedua, penolakan luar biasa dengan dalih macam-macam itu, eh sepulangnya dari pemeriksaan menjadi lunak, memuja muji polisi sebagai memberi penghormatan, memuliakan. Aneh dan ajaib seorang Amien Rais memuji pihak lain. Ingat, paginya masih meminta kepala yang akan memeriksanya dicopot lho.

Menarik mengapa bisa berubah sedemikian drastis, dari yang mengamuk bak babi buta, berubah cengengesan kayak anak-anak demikian. Indikasi ketakutan sendiri bahwa reputasinya akan remuk redam, sehingga ia berusaha untuk menjauhkan diri dari pemeriksaan. Urusan malu ketahuan belangnya juga berperan cukup signifikan.

Alasan lain bisa juga, bahwa polisi memiliki terlebih dahulu fakta kunci yang membuatnya akan makin malu dan hancur lebur jika masih bergaya sok-sokan sebagaimana sebelum masuk ruangan. Soal bukti yang dipegang  ini bisa bermacam-macam, ingat dia juga bukan malaikat yang bebas dari masalah yang bisa menjerat lho.

Mungkin juga masalah yang akan ia ungkit ternyata sudah ada dalam media. Mengenai KPK yang akan ia bongkar sudah lebih dulu dibahas media, jadi tidak ada kejutan yang cukup menyelamatkannya. Saling sandera yang dimaui ternyata telah layu sebelum sempat berkembang.

Ketiga, elit Demokrat yang tidak berjiwa Demokrat, malah klenik dan othak athik gathuk, bagaimana tidak ini asli tai, atau telek burung yang dikait-kaitan dengan nomor peserta pilpres. Tepok jidat dulu nampaknya menghadapi manusia model demikian.

Keempat, Fahri, ketika meminta soal kepalsuan Ratna Sarumpaet dianggap selesai, karena hanya kecil saja, lupa bahwa ia sudah menyatakan apa sebelumnya. Masalahnya tidak menjadi sederhana karena melibatkan elit kelompoknya yang masif, padahal ternyata ada indikasi mereka ini kena tipu, oleh siapa? Ya jelas rekan mereka sendiri.

Kelima, agak jauh sih, ibu sesepuh Demokrat yang hobi photografi itu menafsirkan awan di langit sebagai angka nomor undian Demokrat yang akan memberikan harapan cerah bagi partai Demokrat. Lha nyatanya malah makin jauh dari harapan.

Apa yang ditampilkan para elit ini kan kamuflase dari fakta yang seharusnya menjadi rujukan, acuan, dan pola pikir politikus. Politik dan politikus itu harusnya rasional, kalkulatif, dan bukan spekulatif. Benar bahwa dalam politik perlu namanya spekulasi, namun berdasarkan hitung-hitungan yang matang, bukan malah nglenik, dan othak-athik gathuk. Apa yang dilakukan cenderung tidak berdasar dan tidak nalar. Karena apa? Jelas karena  sudah kehabisa ide, gagasan, dan peluang untuk melangkah dengan gagah perkasa.

Kalkulasi mereka itu sudah berat, namun untuk mundur sudah kadung basah, pilih sekalian basah kuyup. Namun karena malu jika basah kuyup, kotor, dan bau, akhirnya menarik orang yang menonton, bersaing dengan baik di tepi kolom. Falsafat tiji tibeh menjadi andalan dan panglima.

Kampanye buruk, kampanye hitam, fitnah, menyembunyikan fakta, menyatakan diri seolah-olah benar, membelokan presepsi, dan keyakinan bisa menjadi kebanggaan semu yang dibangun. Menggerus potensi suara yang masih bisa diupayakan.

Demokrasi memang menggunakan kesepatan dari suara terbanyak, namun bukan pengerahan massa, gerudugan, dan model tekanan massa untuk membentuk opini dan kebenaran. Opini yang hendak dibentuk sesuai dengan keinginan bukan fakta yang telah ada. Rekam jejak sejak 2014  ini nampaknya masih saja menjadi andalan yang padahal jelas tidak menjamin kemenangan.

Kemasifan yang dilakukan, bersama-sama membanjiri media baik arus utama atau sosial dengan isi yang seragam, bersama oleh kelompok sepaham, seolah-olah itu kebenaran yang hakiki, pas ketahuan palsu, ngeles yang tidak jelas juntrungannya. Mosok yang demikian masih dipercaya untuk yang lebih besar dan penting lagi sih?

Emosional, sehingga tidak lagi berpedang pada yang rasional, lebih mengedepankan intuisi bahkan klenik, ini sangat berbahaya, karena apa yang faktual pun tidak dipercaya kalau hasilnya berbeda dengan yang dibayangkan. Ingat bukan sujud syukur, klaim kemenangan dan menuntut ke mana-mana. Jelas karena hitung-hitungan diabaikan.

Salah satu ciri demokrasi adalah damai. Pemilu Orde Baru yang abal-abal memberikan satu hal baik paling tidak dalam lagu, pesta demokrasi mengundang kita..... Pesta rakyat, kegembiraan, bukan ketakutan, intimidasi, dan kemarahan. Malah pilihan diksi perang, tentu jauh berbeda indikasi dan esensi demokrasi sebagai kegembiraan.

Kampanye dan pemilu damai perlu juga dibangun oleh para pelaku kampanye yang berhati dan berpikir damai. Jika hati dan pikirannya sudah rusuh ya sudah, kekacauan dan kekerasan akan hadir dengan sendirinya. Tentunya bukan ini yang kita kehendaki bukan?

Terima kasih dan salam