Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja htttps://susyharyawan.com

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

SARA, Jalan Mendaki Taufik, dan Makin Terjal bagi PKS

26 September 2018   05:00 Diperbarui: 26 September 2018   05:24 744 27 18 Mohon Tunggu...

Tarik ulur soal wagub DKI menemukan  intrik baru lagi. Kader sayap Gerindra menyodorkan nama Rahayu Saraswati, keponakan sang ketua umum Gerindra Prabowo. Cukup kuat juga arus dukungannya, yang membuat M. Taufik tidak lagi hanya sendirian menahan serbuan masih PKS yang ngotot meminta "jatah" belas kasihan atas kursi DKI-2 ini. Posisi sebagai  kader perempuan, dan ini menjadi kesempatan pertama Jakarta tampil dengan wakil gubernur perempuan.

Posisi M. Taufik yang lekat dengan label eksnapi korupsi jelas membuat gerah Prabowo dan jajaran. Tidak heran hingga sekarang belum juga keluar surat rekomendasi dari Prabowo Subianto, meskipun M. Taufik begitu percaya diri atas keberadaannya. Prabowo juga paham, kinerja M. Taufik tidak moncer-moncer amat, jika memang keren, jelas kemarin, 2017 dia yang diajukan, bukan dua nama yang hingga sekarang juga tidak menambah apapun bagi Gerindra tersebut. Posisi Taufik makin tidak mudah.

Kepedeannya menghadapi PKS dan gubernur mungkin masihlah bisa diperhitungan, memimpin cukup jauh, pun berhadapan dengan partai politik di dewan. Posisi yang ia yakini cukup menjual bagi dirinya, ketika berhadapan dengan kader-kader PKS. Namun begitu ada nama baru yang cukup menjanjikan, susah juga.

Prabowo tentu akan lebih yakin dengan keponakan sendiri, baik untuk 2024, ataupun "mengawasi gerak-gerik Anies yang seolah memelihara ular itu. Ini juga yang menjadi pertimbangan kuat mengapa demikian lama menentukan satu saja nama untuk wagub DKI.

PKS sudah tidak lagi memiliki harapan yang lebih baik, ketika nama ini mencuat. Bagaimana reputasi PKS yang miskin prestasi, selain klaim agama dan gebar-gembor yang sering tidak penting dalam isu-isu krusial. Tentu menjadi beban tidak penting bagi Prabowo. Nama yang disodorkan pun tidak cukup menjual citra baik bagi pilpres ke depan. Posisi yang penting bagi pilpres, bukan sembarangan, apalagi selama ini sepak terjang partai ataupun politikus mereka sering kontraproduksi.

Posisi Sara lebih positif dibandingkan Taufik dan kader lain dari PKS. Beberap  hal positif yang ada pada kader ini,

Perempuan. Sangat menjanjikan bagi ekspresi politis yang lebih memberikan ruang bagi femininisme. Emansipasi yang memang masih belum begitu kuat apalagi posisi setinggi dan sestrategis wakil gubernur, Jakarta lagi. Sangat menjanjikan dan menjual

Muda, jelas jauh lebih muda, segar, dan memberikan harapan, dari pada itu lagi-itu lagi. Capaian yang ada, cukup bisa memberikan harapan baik bagi daerah dan bangsa ke depan. Di tengah pandangan terhadap Gerindra dan PKS, ada nuansa baru dan memberikan harapan.

Relatif bersih dari korupsi. Jelas menang dibandingkan eksnapi dan kelompok yang berkutat dengan korupsi dan kubangan yang susah ditinggalkan itu. Taufik jelas tidak bisa mencuci labelnya ekskoruptor, meskipun tantangan dan tuntutan ke mana-mananya bisa mengantarnya menjadi salah satu caleg, toh tetap tidak menghapus ia bekas pelaku korupsi.

Modal kapital tidak main-main, pun modal jaringan juga kuat, tentu banyak keuntungan yang diperoleh dengan mengusung nama ini. Apa yang dibutuhkan partai bisa diatasi dengan keberadaan dua modal penting tersebut.

Kelemahan yang cukup kuat adalah posisinya sebagai keponakan Prabowo. Bagaimana bisa partai yang lahir era reformasi ternyata mengusung kerabat sendiri. Memang tidak ada yang salah, sepanjang ia mampu dan memang kapasitasnya telah teruji, namun ketika itu juga menyingkirkan kader lain yang lebih bersih dari ikatan nepotis mengapa tidak lebih baik diberikan pada kader lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN