Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Uji Nyali Jokowi dan Prabowo Menghadapi "Tantrum" SBY

14 September 2018   12:51 Diperbarui: 14 September 2018   21:48 3240 42 26
Uji Nyali Jokowi dan Prabowo Menghadapi "Tantrum" SBY
(nasional.kompas.com)

Tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika "tujuan" orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang - Wikipedia

Tantrum, biasa dikaitkan dengan anak-anak, namun bukan tidak mungkin orang tua itu juga ngambeg dan mogok, tidak mau berbuat apa yang seharusnya, demi mendapatkan tujuan yang diinginkan.  Menarik berkaitan dengan politik akhir-akhir ini, di mana SBY berlaku seolah-olah tantrum.

Sebenarnya sejak cukup lama melakukan hal ini, 2016 juga merajuk dengan cukup identik. Hanya Jokowi bisa melakukan penanganan dengan cukup tepat. Selengkapnya di sini.

Menghadapi anak tantrum itu sesuai dengan psikologi anak dan kata pakar, adalah mendiamkan, tidak perlu memberikan respons yang membuat anak diperhatikan, namun jangan pula mengabaikan sehingga anak membahayakan dirinya dan lingkungan, misalnya mengambil minyak, api, atau pisau. Memperhatikan dengan seksama namun bukan memberikan peluang anak mendapatkan maunya dengan cara demikian.

Orang tua yang oleh pakar disebut "tukang sapu", mengambil alih peran anak sehingga anak tidak boleh susah, akan memiliki kecenderungan yang berbeda. Tipekal orang tua demikian ini, akan bergegas merayu anak untuk diam, memaksa anak untuk tidak ngamuk dan ngambeg lagi, dan paling mudah adalah memberikan apa yang dimaui. Kemauan terpenuhi dan semua berjalan lancar lagi.

Ternyata dalam berpolitik Pak Beye memakai cara ini. Dan nampaknya sukses ketika Prabowo-Sandi sowan ke sana. Perilaku ngambeg ini sudah sejak awal ketika AHY terdepak dari kursi bakal calon wakil presiden sebenarnya. Dengan aneka polah tingkah via AA dengan isu jenderal kardus yang akhirnya tidak laku.

Puncak ngambeg ya jelas ketika nama ketua timses itu  lagi-lagi bukan AHY. Fakta yang ditunjukkan dengan tidak mau datang dalam pertemuan-pertemuan petinggi partai, dan paling parah ketika ulang tahun partai politik, Demokrat tidak mengundang rekan parpol dalam koalisi mereka. Melengkapi politik dispensasi, bahkan AHY sendiri menyatakan kader Demokrat bebas mau mendukung siapa untuk pilpres mendatang.

Implikasi jelas apa yang ditunjukkan Demokrat dan SBY ini bisa diikuti oleh PKS dan PAN, meskipun tidak ikut cukup lantang dan vulgar. Dua partai itu akan menahan diri dan cukup main-main dan tidak serius, itu saja. Yang pasti Demokrat telah memproklamirkan diri sebagai "setengah hati" meskipun mereka jelas membantah dan menolaknya.

Demokrat cenderung memilih main aman dengan berbagai tindakan tantrum agar mereka bisa eksis untuk pemilu mendatang. Pilpres bukan tujuan mereka, pilihan realistis mereka jelas pileg. Sangat bisa diterima akal sehat.

Prabowo-Sandi yang  sowan menghasilkan sikap dan normatif, SBY menjadi jurkam, dan AHY wakil ketua dewan pembina. Ini juga lucu, bagaimana tidak ada anak malah membina bapak yang presiden dua periode. Apa kata dunia, apa iya pembina itu di bawah jurkam? Entah apa dalih mereka lagi.

Prabowo-Sandi jelas takut, kalut melihat zig-zag ala SBY ini, padahal jika didiamkan Demokrat juga akan mati kutu. Mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi, dengan kondisi sekarang. Mau membangun lagi koalisi apapun sudah tidak mungkin. Mereka harus ikut gerbong dan paling mungkin jelas bersama Prabowo.

Keinginan SBY yang memaksakan AHY meskipun dalam rilis survey selalu unggul, toh belum cukup menjanjikan dan menjamin semuanya baik-baik saja. Catatan, pengalaman di dunia politik belum juga setahun penuh, pengalaman militer juga belum apa-apa. Artinya, masih terlalu tergesa-gesa untuk menjadi pimpinan nasional. Mereka jauh lebih butuh Prabowo sebenarnya. Tantrum sukses besar.

Hal ini akan menjadi pola berulang. Ingat tantrum itu mekanisme mencari perhatian, ketika itu bisa dipakai, besok lagi akan digunakan, diulang lagi dan lagi. Di sini kejelian Jokowi diuji, atau karena pengalaman menghadapi tiga anak mungkin.

Prabowo ternyata tidak tahan dengan rengekan, ngambeg, dan perilaku agresif lain. Memang seolah menyelesaikan masalah, padahal itu adalah menyembunyikan masalah dan potensi menjadi "penyakit" di dalam organisasi kebersamaan itu.

Kehendak SBY yang merasa diri lebih, merasa paling itu terfasilitasi ketika Prabowo-Sandi datang, sowan, dan menilai bahwa mereka yang butuh SBY. Ini bukan sikap mengalah untuk menang, memang kalah dan pihak lain memang dengan telak. Semua semu, kanak-kanak, dan jangan kaget potensi ledakan dasyat tinggal menunggu waktunya saja.

Sikap bijaksana itu tidak sekali jadi, perlu proses kematangan dalam banyak segi. Pengalaman, pendidikan, kehendak, dan jelas iman turut serta. Itu kualitas pembeda bagi masing-masing pribadi. Dan Jokowi dan Prabowo memperlihatkan perbedaan yang sangat jelas dan tegas.

Terima kasih dan salam