Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Gaya Hidup Itu Bisa "Membunuhmu"

11 Agustus 2018   09:20 Diperbarui: 11 Agustus 2018   15:01 1621 26 14
Gaya Hidup Itu Bisa "Membunuhmu"
Ilustrasi: www.brilio.net

Gaya hidup bisa membawa pada kematian dalam arti  tertentu. Ada tiga kisah yang benar-benar terjadi. Bagaimana orang lebih memilih kemudahan dan enak dari pada perjuangan dan usaha, yang bisa pada akhirnya menyalahkan pihak lain sebagai biang keladi, tanpa mau menelisik bahwa dirinya juga terlibat di dalam keadaan yang tidak enak tersebut. Hal yang sangat sederhana, terjadi sehari-hari, dan bisa menjadi bumerang kala itu dilakukan terus menerus dan menjadi sebentuk budaya.

Kisah satu, tetangga sangat dekat, memiliki anak tunggal, yang tidak pernah boleh bergaul, sekolah hanya sampai kelas lima, memiliki tanah cukup luas, ada barang setengah hektar, sebidang tanahnya yang dulu dijual 23 juta, baru saja terjuang 400 juta. 

Ukuran tanah sangat menggiurkan. Si ibu ini, ditinggal pergi suaminya. Si anak yang kini lebih dari seperempat abad, hanya diuja, sehari-hari hanya dengar radio dan main fb.

Ibunya jual jasa pijat dan kerik masuk angin yang kadang dapat orederan dan tidak. Padahal pulsa dan rokok si anak tidak pernah berhenti, selain makan dan  hidup sehari-hari. 

Hari ini si  anak masuk RSJ dibawa pihak desa karena menghajar ibunya hingga patah tulang. Ibunya pun dikelabui kalau anaknya dimasukan pondok pesantren. 

Anak ini sebenarnya waras, hanya karena ibunya over protektif dan tidak pernah bergaul jadi malah seperti gila. Minta menikah dan ceweknya harus seperti yang di fb. 

Kisah kedua, tetangga dekat rumah juga, buruh cuci tapi mencucikan bajunya ke jasa laundry. Sungguh ajaib benar memang. Bagaimana ia menjadi buruh menjadi orang jompo dan mencuci baju dan piring di rumah orang lain, ia sendiri mencucikan pakaiannya pada pihak lain. Paling tidak bayaran sekali datang untuk mencuci baju yang ia pakai untuk tiga empat hari. Padahal waktu juga ada untuk sekadar mencuci sendiri.

Kisah ketiga, seorang sopir angkot, pas ramai-ramainya dengan angkutan online, ia mengeluh makin sepi, jam sekolah yang jaya era 90-an itu pun tidak jauh berbeda, dapat penumpang anak sekolah penuh pun sudah bersyukur. Saat saya tanya, anaknya sekolah mengendarai motor, ia mengiyakan. Lha kan  dia sendiri mengeluh banyaknya motor, ia sendiri membelikan anaknya motor.

Gaya hidup, orang berkendaaran, mobil-motor, mencucikan ke jasa laundry, menggunakan hape, smartphone, media sosial lebih ke arah gaya hidup. 

Boleh mobil, motor, dan sebagainya itu kemajuan, memudahkan hidup manusia, namun ketika hanya sebatas gaya hidup, kemudian dengan berhutang, mencari pinjaman, bahkan membunuh mata pencariannya sendiri, apa itu tepat? 

Di sinilah peran pengetahuan terhadap kehidupan itu sendiri. Orang tidak diatur oleh teknologi dan kemajuan zaman, namun kemajuan itu digunakan untuk memudahkan hidup manusia.

Gadget, media sosial, itu bisa tidak semata gaya hidup, namun bisa juga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini manfaat kemajuan teknologi dan zaman. Bukan malah dilindas atau malah melindas diri sendiri atas nama dan kambing hitam teknologi. Orang yang di atas teknologi, bukan sebaliknya. Perbudakan telah dihapuskan, eh malah memilih diperbudak teknologi, salah sendiri.

Sekolah mengendarai motor kadang memang sudah kebutuhan karena sekolah negeri biasanya ada di pelosok yang susah angkutan umum. Sisi lain memang ini, namun berapa lama kendaraan itu hanya "nganggur" di parkiran sekolah, kalau si sopir itu tidak semata mengeluh sepi, kan bisa beralih menjadi pengemudi ojek online, yang jauh lebih menjanjikan, memang lebih mudah menuding. Kan gagah anaknya ke sekolah menggunakan kendaraan bermotor.

Teknologi itu tidak salah, kemajuan zaman juga tidak bisa dibendung, bagaimana sikap menghadapinya itu jauh lebih penting. Ada pilihan yang bisa dijadikan keputusan. 

Pertama melawan, sehingga akan dilindas karena pasti kalah. Menang hanya sesat dan nantinya toh kalah. Ini hukum alam, kalau pun bisa tidak akan tahan lama, terasing iya.

Kedua, menerima dengan kekalahan, salah satu ciri adalah mengeluhkan keadaan dan menghujat tidak karuan, tapi pada sisi lain ia menggunakannya tanpa sadar. 

Perilaku munafik yang sekaligus kasihan sebenarnya. Ciri lainnya adalah mencaci maki sebagai sebab kegagalan atau kesuraman hidupnya. Ketidakadilan menjadi narasi yang diulang-ulang atas ketidakmampuan menyesuaikan zaman dan keadaan.

Ketiga, menerima dengan kritis, batas-batas kemampuan untuk bisa mengikuti arus tanpa terbawa arus. Ini adalah kualitas. Sepanjang tidak mampu, ya biarkan mengalir, dan jika memang mampu dan membantu hidup lebih baik mengapa tidak. Hal bijaksana ini hal yang perlu menjadi perhatian bersama sehingga masyarakat bukan menjadi korban dan semata pemakai tanpa maksa.

Gaya hidup itu sah-sah saja sepanjang mampu dipenuhi dan bukan menjadi kewajiban dan menjadi beban. Apalagi dipenuhi dengan berhutang, korupsi, dan sejenisnya. Sepanjang memang mampu ya silakan saja. Namun bijak demikian itu tidak mudah.

Pendidikan sangat berperan penting. Mau jadi penonton, agen perubahan, atau mau menjadi korban. Bagaimana pendidikan dan tentunya literasi akan membantu orang untuk bisa menjadikan peluang sebagai sarana kebaikan bukan mengeluhkan keadaan yang makin memburuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2