Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Minggu Pagi, 13 Mei, Dua Keluarga Mempersiapkan Diri Menuju Surga

16 Mei 2018   19:40 Diperbarui: 16 Mei 2018   19:55 756 33 18

"Pa...bangun, ayo sudah siang....telat nanti...." rengek Ignas pada papanya yang masih pulas tidur.

"Bentar Dik, semalam Papa lihat  bola, bentar lagi ya...."sambil berat menahan kantuk.

"Ayo Pa, kasihan Kak Frans, kan tugas, perlu persiapan....."

Melihat Papanya jatuh tertidur lagi, ia putar alarm kesayangan papanya, ia biasa ia buat mainan itu.....

"Adiiiiiiiiiiiiiik..." rutuk papanya gemas juga jengkel karena kantuk.

"Papa, kan menang taruhan nasi goreng dengan Om Bayu kan, ayo Pa cepet bangun," teriak Frans dari luar.

"Kakak, Adik, masih ada waktu kog, biar Papa, sepuluh menit lagi, ayo maem dulu, "  aku dengar bidadari satu-satunya di rumah itu bisa menjadi jembatan apik di antara ketiga jagoan ini, dan aku benar-benar pulas sejenak.

"Ayo Bunda pasangin yang bener ya....sudah tidak sabar mau ke surga. Indah, semua tersedia, dan tidak ada sakit dan kesulitan ya Ayah?" tanya manja Rani pada Ayahnya yang tersenyum sangat manis, dan iya kaget juga, biasanya mana pernah ayahnya tersenyum.

"Bun, jangan lupa, kenakan pakaian terbaik pada Rani dan Rini ya, perjalanan spiritual yang purna."

"Iya, Ayah, jangan khawatir.

Rano mengernyitkan dahi, tumben Ayah Bundanya yang biasanya berteriak untuk memerintahkan ini  dan itu, pagi ini begitu lembut dan halus pilihan katanya. Biasanya rotan siap menghajar kami kalau terlambat sedikit saja.

"Sesuai rencana, nanti Bunda dan Rani-Rini Ayah drop ya, jalan sebentar dan semua selesai, kita sampai surga....." kata Ayah yang demikian berbeda, penampilan pun sangat berbeda dengan hidup harian kami.

"Rani, Rini, kita mau ke mana? " tanya Bunda dengan lembut sambil membetulkan "sabuk" di pinggang Rani.

"Surga, Bunda...."

""Iya Bunda, surga yang bebas untuk bermain sepuas hati...."

Hari masih cukup pagi, parkiran gereja St. Paulus masih cukup lengang, Papa leluasa memilih parkiran. Baru saja mobil berhenti, Kak Paul sudah membuka pintu dna lari, menuju sakristi untuk memilih baju misdinar favoritnya. Ia berlari secepat kilat, diikuti Ignas dengan kecerian anak-anak di Minggu pagi.

"Selamat jalan Sayang, sampai bertemu di surga, sambil membuka kunci mobil, Ayah melepas Bunda, Rani, dan Rini. Usai menyium tangan Ayah, mereka bergandengan tangan dengan ceria. Berlari-lari kecil. Aneh juga biasanya mereka merasa berdosa menuju gereja, berbeda dengan pagi ini. mereka menuju parkiran gereja dengan langkah bahagia, ringan, dan seolah melayang.

Pada sisi yang tidak terlalu jauh, kakak-beradik, Ignas dan Paul juga berlari seolah terbang, dan tiba-tiba, buummmmmmmmmmmm

Begitu banyak badan melayang dan motor, mobil, dan dahan, berhamburan.

"Kakak,....." rintih lemah Ignas....

Ignas tergeletak dan tidak bergerak lima meter jauhnya dari titik terakhir ia melayang dalam larinya.

Dan, "Kakak, Adik...."jatuhnya Mama, Papa yang masih di dalam mobil hanya diam, tidak berdaya melihat anak-anak dan istrinya tumbang, tanpa tahu apa yang terjadi.

"Kaka, Rani, kita sampai surga....." kata Rini dengan terbata-bata, dengan menggandeng separo lengan Bundanya, sedang badan sang bunda sudah entah ke mana. Pun yang dia kira Rani kakaknya, entah apa hanya terlihat seonggok barang yang tidak jelas apa.

Di kejauhan raungan sirine ambulan dan mobil polisi bersaut-sautan. Timbul tenggelam dengan aneka perintah dari entah siapa. Lari tunggang langgang tidak karuan, jerit tangis, minta tolong, dan berbagai ungkapan tidak lagi jelas. Semua dengan emosi dan perasaan masing-masing.

Anak-anak tidak berdosa yang tidak tahu apa-apa, di dalam kegembiraan pagi itu, menjelang maut, mereka masih berpikir khas anak-anak. Mereka melayang di dalam kedasyatan bom itu, melayang dan mereka pikir itulah perjalanan ke surga.

Mereka bergandengan tangan dengan keluarga masing-masing. Ignas menggandeng Mama dan Kak Paulnya, pun Rini masih menggandeng Rani dan Bunda dengan cara yang sama. Pakaian yang dikenakan juga demikian. Sikap yang sama, ceria, gembira, seneng, dan bersuka ria.

"Kak, itu malaikat, menyambut kita, iya Bunda, kita sampai surga...."

"Mereka juga sampai ya Bunda, tanpa melihat ekspresi kecut Sang Bunda......"

Ringan langkah Paul, Ignas, dan Mamanya. Tanpa Papa. Merasa ringan, ceria, dan tidak terbebani dengan khas anak-anak.

"Selamat datang Anak-Anakku....." sapa malaikat dengan ramahnya.

"Ayah mana Bunda...." rengek Rina...

"Ayahmu masih ada urusan "administrasi, belum bisa berjumpa kalian, kata malaikat.

Di seberang kota, polisi menggepung rumah Ayah Rani-Rina, mereka menemukan Rano yang disekap di dalam kamar gelap. Kurus kering dan seperti anak tidak waras. Melihat polisi dia malah berteriak syukur dan menyatakan minta tolong jangan ditambak, banyak bahan peledak yang akan menghancurkan dirinya dan polisi.

Di depan wartawan dan media, kapolda membawa Rano yang kurus kering dan menerangkan apa yang terjadi pagi itu. Korban enam orang di satu tempat, di tempat lain seorang laki-laki tengah baya hancur lebur karena bom mobil.

Rano disekap dan jarang diberi makan karena tidak mau menerima pengajaran bapaknya, ia dirotan, dihajar, tetap tidak mau tunduk, dan risikonya, ia dikunci di dalam kamar. Idenya jika polisi gegabah, rumah itu akan hancur dengan tubuh Rano dan polisi yang tidak akan dikenali lagi. Ternyata ada kuasa lebih besar yang mengubah seluruh rencana.

Terinspirasi bom Surabaya, semoga berisitirahat dengan tenang siapa saja yang telah menjaid korban. Tuhan tahu dengan baik siapa yang perlu mendapatkan surga dan mana yang tidak. Manusia yang menilai hanya sepihak, dan belum tentu benar. Belas kasih Tuhan belum tentu sama persis dengan logika pemahaman manusia, ke mana muara jiwa, hanya Tuhan yang tahu. 

Salam