Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

#2019GantiPresiden dan "Nganu" Politik ala Mardani Ali Sera

7 Mei 2018   15:20 Diperbarui: 7 Mei 2018   15:48 2052 17 11
#2019GantiPresiden dan "Nganu" Politik ala Mardani Ali Sera
(sumber: medan.tribunnews.com)

#2019gantipresiden dan "nganu" politik ala Mardani Ali Sera, entah apa yang ada di benak salah satu elit PKS ini, ketika menggelorakan #2019gantipresiden, namun juga bisa saja mendukung Jokowi. Jika demikian, apa beda dengan "nganu" andalan Kompasianer Pebrianov itu. "Nganu" yang banyak diasumsikan sebagai sebuah aktivitas, belum tentu juga demikian. lha ketika  gantipresiden, ternyata juga bisa terbuka mendukung presiden yang ada, apa bedanya dengan nganu, yang bisa ditafsirkan sesukanya.

Gerakan ini masih terbuka termasuk mendukung Presiden  Jokowidodo,lho, apa tidak melongo, mendengar pernyataannya ini. Sepanjang memperjuangkan Pancasila bukan hanya lip service, dan menjadi lebih baik, akan didukung, bisa Prabowo, Joko Widodo, Gatot Nurmantyo, atau Shohibul Imam.

Makin membuat kacau logika berpikir yang masih cukup  normal dengan adanya kampanye #gantipresiden, wong  pasti akan terjadi pemilu dan di sana siapapun boleh menjadi presiden dengan syarat-syarat tentunya. Pertama dicalonkan oleh parpol dengan kursi sejumlah 112 atau jumlah suara nasional 25%, karena partai tidak ada yang mencapai nilai itu, gabungan partai. Itu baru pertama sebagai kendaraan. Kedua tentu dipilih rakyat. Siapa yang menang ditentukan rakyat. Tentu akan ganti presiden, karena ada pemilu.

Ganti itu akan ada pelantikan, karena memang baru. Artinya, siapapun bisa menggantikan presiden sepanjang dua syarat di atas terpenuhi, dilantik di gedung kura-kura, sah. Tidak perlu adanya "kampanye khusus" dengan #gantipresiden. Kampanye ada waktunya nanti.

Hal ini saja belum jelas, bahkan ada insiden, malah ditambah lagi siapa yang memperjuangkan Pancasila. Lha jelaslah semua memperjuangkan Pancasila. Jika tidak berarti melawan dasar negara. Sangat aneh logika berpikirnya. Apalagi ketika menyatakan bisa saja dukungan untuk Jokowi.

Apa yang dilakukan, nampaknya sebentuk upaya memperkenalkan diri kepada khalayak ramai, siapa dirinya. Mengapa, salah satu kandidat yang direkomendasikan PKS adalah pribadi ini. dan dari sembilan, sosok inilah yang paling getol memperkenalkan diri, tentu dengan cara yang sama-sama dipahami.

Menjadi lebih menarik adalah, jika gerakan #2019gantipresiden ini memang meyakinkan jumlah pemilih toh tidak memiliki hak untuk meyalonkan presiden atau wapres. Mereka bukan partai politik ataupun gabungan partai politik, apalagi tidak ada capres independen.

Sebentuk tekanan pada partai politik untuk melirik dengan "reputasi" yang sedang hendak dibangun ini.  Nampaknya susah sendiri karena adanya kepentingan yang masih malu-malu kucing dilakukan ini. Awalnya sangat kentara akan menggantikan presiden Jokowi, ketika banyak pertanyaan siapa sosok itu, bingung. Ada apa Prabowo, pun bukan.

Ketika dua suara cukup siginifikan kuat ini, pun seolah tidak  bagi mereka, mungkin ada alternatif. Pun tidak nyaring terdengar. AHY dengan parpol relatif kuat, pun bukan. Lha kemudian siapa?

Melihat apa yang dilakukan, nampaknya Ali Sera sendiri yang ingin. Namun jelas dengan melihat keadaannya, ia tahu diri. Survey belum pernah memberikan rilis menyebut namanya yang cukup membuat guncangan dunia perpolitikan.

Keterpilihan pun  tidak jauh berbeda dari apa yang dirilissurvey selama ini. Di antara sembilan nama internal PKS sendiri tidak termasuk yang terpopuler, apalagi potensi terpilih.  Jadi ini adalah upaya Mardani untuk mempopulerkan dirinya.

Melihat bahkan semua kandidat bisa dijadikan dukungan, makin memperkuat dugaan ini. Bagaimana arti #gantipresiden itu sesuai kepentingan. Tidak beda dengan "nganu."

Pemilih harus jelas dan belajar banyak, bagaimana orang politik atau polikus bermanufer. Ada yang antipancasila tiba-tiba paling Pancasilais, ada yang dulu berteriak lantang antikorupsi eh melakukan korupsi dengan gagah perkasa.  Apa yang diperlukan pemilih adalah, mencermarti perilaku mereka.

Rekam jejak tidak bisa dilupakan, apalagi mau disembunyikan. Lihat siapa yang pernah menjelek-jelekan Pancasila, namun tiba-tiba menjadi pendukung utama. Atau kebersamaan dengan perilaku yang jauh dari Pancasila namun kini malah menjadi pemuja Pancasila.

Perilaku mereka bukan hanya menjelang hajatan saja. Biasanya politikus haus kuasa akan berubah alim, merasa Bhineka Tunggal Ika, padahal di dalam keseharian jauh dari itu semua. Demi menyenangkan pemilih yang diingat sesaat itu.

Lihat juga perilakunya bukan hanya wacana dan omongannya. Orang bisa menulis merah padahal hitam yang dimaksud, namun tentu tidak akan bisa mengelabui dalam keseharian, dalam waktu yang lama. Ingat bukan yang tiba-tiba masuk pasar dan diphoto. Pun dalam ideologi dan kepercayaan.

Dalam alam demokrasi sah-sah saja mau menjadi apapun juga, mau menyalonkan diri juga boleh, asal tentu saja taat norma hukum. Tidak boleh dilupakan tentunya norma susila, moral, dan hukum tidak tertulis.

Selama ini prosedural semata-mata yang menjadi acuan, dan sering menghianati jati dirinya bukan menjadi persoalan. Apa iya model politikus demikian, akan bisa memegang kepercayaan sebesar menjadi RI-1 atau RI-2?

Lebih baik menjadi diri sendiri, tidak perlu menghianati keyakinan sendiri, selain juga menghormati rival sebagaimana diri sendiri mau diperlakukan. Jika demikian, layak menjadi pemimpin yang tepercaya.

Salam