Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Cerpen] Cinta Terlarang

28 April 2018   07:55 Diperbarui: 28 April 2018   09:02 0 28 20 Mohon Tunggu...
[Cerpen] Cinta Terlarang
ilustrasi: www.sousou-diysign.de

Ritual harianku, sebelum bekerja, aku biasa meditasi alam, di taman kecil depan Balai Pengobatan. Sebuah pohon beringin, yang sangat unik, bentukan Pak Man, karyawan kami paling senior. Sebenarnya bukan bonsai, namun karena ketelatenannya memangkas, jadi kerdil dan indah. Meski di tanah, beringin itu tidak menjadi besar. Aku suka, dan menjadikan itu sumber inspirasiku setiap  pagi.

Ada saja yang menarik dan menjadi inspirasi, suatu pagi, aku mendapatkan sebentuk kristal air embun yang begitu indah, membelakangi matahari sehingga ada berkas cahaya kemilau pelangi super mini, dan seolah hanya untuk ku. Lain pagi, aku mendapati sepasang burung pipit yang sedang mulai membuat sarang. Pikirku aneh juga pohon serendah itu dibuat sarang, dan kini keluarga kecil itu sedang sibuk merawat dua baby emprit yang amat mungil. Riuh lapar dan sibuk dua induk yang menyuapi.

Selalu lima belas menit sebelum jam kerja aku luangkan waktu di taman itu. Hampir setahun aku di komunitas ini, dan berkarya sebagai bagian keuangan Balai Pengobatan. Nama yang sangat kuno, meski kini sering berganti menjadi klinik, toh kami, juga para pengunjung tetap mengenalnya dengan BP. Lebih bernuansa kebersamaan dan ada ikatan emosional kata beberapa pasien dan keluarga yang kerap mengunjungi kami untuk berobat.

Pagi ini, aku sedikit kaget, tempat favoritku menimba inspirasi sedang menjadi obyek photo seorang pemuda gagah, dan belum pernah aku melihatnya, apakah dokter baru dari pulau seberang sebagaimana piko* ungkapkan, di mana saja dalam kebersamaan kami. Yang katanya muda, idealis, pinter, dan puja puji yang sudah hapal di luar kepala itu. Emang sih soal tampilan luar aku setuju.

"Pagi Suster....." katanya sangat-sangat normatif, tanpa ada embel-embel lain, tetap sibuk dengan smartphone nya untuk mengambil gambar sana sini, dan tidak ada pengabadian profilnya. Hampir seluruh taman kecil dan lingkungan ia abadikan.

"Pagi....ini Dokter Paul, ya? Saya Suster Magda, kapan datang?" basa-basi standar.

"Kemarin, dan hari ini mulai kerja...maaf saya mau lihat-lihat sekeliling dulu...."pamitnya.

Pagi yang indah, cicit anak emprit yang tidak lagi menggoda dan menginspirasi. Perilaku dokter itu yang luar biasa, biasanya, awam, apapun itu, mau dokter, mau dosen, mau petani, kalau melihat suster itu akan selalu menghormati yang kadang membuat sungkan, eh ini, diajak bicara, pamit begitu saja. Bukannya aku gila hormat, tidak sama sekali, aneh saja, ada yang begitu saja ngacir bukannya bincang ada kesempatan. Jangan salah lho, banyak yang mau ajak berakrab ria, di waktu begini ini, tapi setelah tahu "ritual" meditasi" alam saya, mereka sangat menghormati keadaanku yang bersama Tuhan melalui alam ciptaan ini.

Pagi ini, ada pertemuan, mendadak karena tih tidak ada agenda yang mendesak, ternyata memperkenalkan dokter Paul, yang baru datang. Ia akan menjadi dokter tetap di BP kami, setelah sekian lama, hanya dengan perawat dan manteri yang menginjak usia senja. Ada dokter "comotan" kalau praktek di rumah sepi, bantu-bantu di sini, umat juga sih. Hanya perkenalan singkat, asal dan sedikit masa lalu. Oh eksim ternyata, pantes, secuek itu hadapi biarawati.

"Dia itu dulu, usai seminari menengah mau ke  biara, ibunya menghendaki ia di praja saja, biar bisa menengoknya dengan mudah, dalih ibunya. Dan daripada ribet, ia memutuskan mundur saja begitulah akhirnya masuk kedokteran. Dan ke sini."

Paul selain di klinik, juga aktivis di paroki, ia suka anak-anak, makanya dia memilih menjadi guru di sekolah Minggu. Aneh juga dokter, muda, eh ngajar sekolah Minggu. Jarang lho yang mau begitu.  Tidak aneh dia begitu cepat menjadi populer dan sangat akrab dengan banyak kalangan. Apalagi muda mudinya, mana tidak, ada dokter, muda, bujang, cakep lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2