Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memunggungi Tradisi dan Menghianati Jati Diri

11 Maret 2018   17:20 Diperbarui: 11 Maret 2018   17:37 515 21 8
Memunggungi Tradisi dan Menghianati Jati Diri
Tribun Pontianak - Tribunnews.com

Memunggungi tradisi dan menghianati jati diri, nampaknya menjadi salah satu penyebab susahnya bangsa ini beranjak lebih jauh. Pengalaman mengusir penjajah di Asia Tenggara ini tidak ada yang lebih heroik dan membuat bangga. Kekayaan budaya dan tradisi tidak kurang-kurang. Mulai tari Saman hingga tradisi bakar batu. Punya rambu solo, ngaben, tari serimpi, memiliki karapan sapi, batik, wayang, reog, dan begitu kaya dan banyak jika dideret. Masih ada poco-poco,musyawarah, gugur gunung, atau kerja bakti.

Tengok sejenak, ke Singapura atau Malaysia, mereka punya apa coba, karena Melayu pun Riau menjadi lebih pusat. Mereka pintar menggunakan kekayaan mereka yang ada. Etnis yang ada dikembangkan dan dijadikan kebanggaan. Majapahit dengan cetbang,Sumpah Palapa, dan armada yang menjelajah hingga Benua Asia. Negara jiran belum mampu berbuat yang demikian.

Kini, semua tinggal kenangan. Mengapa demikian? Lebih suka memperbesar dan memperlebar perbedaan. Perselisihan diciptakan untuk kekuasaan dan kursi atau tahta. Sejarah panjang saling tikam, saling serang, yang besar menerkam yang kecil. Si kuat merangsek si lemah, dan ujung-ujungnya kekuasaan. Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram, dan begitu banyak sejarah panjang bangsa ini. Dan ironisnya bangsa modern, bernama republik ini  nampaknya masih dihinggapi model kuno itu.

Sikap mau unggul sendiri, memaksakan kehendak karena mayoritas dan pihak lain dipandang sebagai minoritas tidak mau melihat bahwa yang kecil pun memiliki keunggulan. (tak perlu sensi bicara agama, hanya bagian kecil agama di sini, kalau mau ribut buat artikel sendiri).Thailand masih bisa berbangga dengan hurufnya. Jepang, Korea, dan China pun demikian. Memang ada pemersatu bahasa Indonesia, namun tentu tidak ada salahnya yang lain juga tetap hidupp dan lestari. Anak Jawa masih bisa baca tulis Jawa pun yang Sunda dan sebaginya. Hal ini bukan berkaitan dengan udik dan ketinggalan zaman.

Rendah untuk taat azas dan komitmen bersama. Kita sudah usai dengan sistem dan tata negara, pun masih saja ribut dengan hal yang itu lagi itu lagi. Kekayaan bangsa ini justru malah menumpulkan kemajuan. Mundur dan mundur karena lemahnya komitmen. Sistem itu hanya sarana bukan tujuan. Ribut soal cara abai malah dengan tujuan berbangsa. Rebutan kuasa dan merasa unggul yang kait mengait dan akhirnya ya itu, mandeg.

Minder dan tinggi hati yang tercipta oleh sejarah panjang sebagai bagian atas budaya kelas, hingga kini pun gaya itu masih saja melekat dan kuat. Merasa mudah tersinggung hanya soal gelar tidak pas, atau sambutan kurang meriah. Penjagaan luar biasa seperti ratu atau raja penjajah di tanah jajahan. Gila gelar dan ijazah namun kualitas nol besar.  Sombongnya pejabat bangsa ini sebenarnya kontaminasi atas watak mindernya. Menutupi rendah diri dengan sombong dan congkak. Jauh dari kualitas yang seharusnya.

Birokrasi panjang dan prosedural. Gaya feodalistis yang demikian kuat dan mengakar. Kalau bisa susah mengapa dibuat gampang? Kalau bisa mendapat bagian mengapa harus dilepaskan? Hal-hal ini yang membuat tidak beranjak. Sistem kerja menjadi lelet, lamban, dan sangat tidak efisien. Prosedural seolah menjadi raja di raja yang tidak bisa dipangkas dan diperbaiki. Sisi lain, potong kompas dan mental terabas juga sangat kuat. Bagaimana dua hal yang merongrong kemajuan bangsa ini bisa sangat dinikmati, terutama oleh elit negeri ini.

Bangga dan gila yang berbau asing. Kembali, pada model Jepang, Korea, dan sejenisnya. Mereka tetap modern dengan berpijak pada jati diri dan tradisi mereka. Tidak usah dilupakan, tidak perlu digantikan, ada penyelarasan, sinergi atas yang baru dan yang lama.  Asing bisa saja baik, bisa saja memang menjanjikan, namun kalau bangsa sendiri punya dan tidak kalah, mengapa tidak?

Khas dan berdasar setempat, local jenius, kearifan lokal, dan yang berasal dan berakar setempat tentu memiliki jiwa, spirit, dan falsafahnya sendiri. Mengapa harus silau dan silap dengan K-Pop,Hollywood, dan sejenisnya. Tidak ada yang murni memang dengan apa yang ada di dunia, namun mengubah mentah-mentah yang ada dengan yang asing, mendatangkan, dan merasa kalau asing baik Barat atau Timur dengan meniadakan yang sudah ada, apa itu arif dan cerdas?

Identitas malah menguat ketika gelaran pemilu, justru seharusnya bukan di sana dibangun dan dikembangkan. Ketika bicara bangsa dan negara adalah Indonesia, namun berangkat dengan apa yang menjadi identitas dan jati diri pribadi. Kebolak-balik apa yang dihayati selama ini. Indoensia ketika merajalela dan merampok, namun ketika mau jadi pejabat mengedepankan baju masing-masing.

Apakah mau demikian terus? Berbangga di dalam perpecahan dan perselisihan, dan ada yang diuntungkan, yaitu orang dan pihak yang mau menguasai kekayaan bangsa ini.

Salam