Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Amien Rais: Kalau Saya, Jokowi Kasih Kartu Merah

9 Februari 2018   05:20 Diperbarui: 9 Februari 2018   05:25 1287 30 24

Amien Rais, kalau saya, presiden saya kasih kartu merah, menarik apa yang ia ucapkan, iyalah kan lebih senior. Mahasiswa beri kartu kuning, profesor memberi kartu merah. Emang ini zaman Gus Dur yang ia kartu merah langsung itu? Zaman beda Mbah, nyadar suara 7% gak bisa di-mark upjadi 70 %, ini bukan anggaran dan proyek.

Kartu Merah ala Amien Rais. Biasa sih kalau Pak Sepuh ini omong asal, kan anggota luar biasa kata si besan. Jadi mau apa saja boleh. Maunya presiden itu ganti seperti ganti baju, sepanjang tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan ganti. Anehnya, kog semua presiden digitukan, hanya Pak Beye nampaknya ayem saja beliau ini. padahal jauh sebelum pilpres memuji Pak Jokowi yang dipanggilnya Mas lho. Ketika tawaran itu tidak diiyakan balik kanan dan jadi "pengamat" paling jeli dan jempolan. Senyampang ada anak muda yang mengartu kuning, beliau ikut-ikutan dengan kartu merah, ini paham kasepuhan.

Menghebohkan, semoga kaum atau barisan muda PAN yang memberikan kartu hijau untuk Pak Jokowi. Kartu untuk melanjutkan periode mendatang. Beda dan bertolak belakang dengan ketua kehormatan sekaligus sang bidan.

Kembali ke Pak Amien, yang jelas menilai gagal total Pak Jokowi makanya mau mengartu merah beliau. Posisi terkuat kandidat calon presiden sudah dieliminir, bakal calon terkuat kedua, nampaknya masj Pak Bowo, eh beliau juga mengatakan belum tentu. Apa kira-kira yang dimaui Pak Amien.

Apakah mau maju sendiri? Nampaknya tidak. Toh kemarin pun memberikan kepada Pak Hatta Rajasa untuk maju dengan Pak Bowo. Kali ini jauh lebih sepuh dan banyak belibet denga kata dan ksus tentu tahu diri untuk tidak. Kemungkinan terbesar mendorong sang besan untuk maju. Cukup menarik jika benar demikian.

Mengapa menarik? Pertama, suara PAN relatif kecil, kisaran 7 persen, perlu dua atau tiga partai sama-saa kecil. Partai besar ada Gerindra sudah jelas, Golkar dan PDI-P pun nampaknya tidak berubah. Potensial bersama mereka hanya ada pada PKS, nampaknya pun tidak semudah bayangan dan hitung-hitungan, karena kebersamaan PKS dengan Gerindra jauh lebih kuat.

Kedua,selain suara kecil, reputasi PAN sedang babak belur dengan hattrictgubernurnya. Hal yang tidak mudah untuk mengembalikan suara kecewa. Ingat bagaimana PKS yang cukup menjanjikan dulu bisa hancur dengan badai korupsi itu. Makin susah mencari kendaraan untuk melaju ke kontes, maju saja belum apalagi ikut kontestasinya.

Ketiga,blundermenjelang tahun politik dengan berbagai dagelantidak berkelasnya. Soal "pembelaan" pada Zumi Zola yang bisa dibaca mengaburkan persepsi masyarakat soal korupsi. Selain itu menciptakan "friksi" dengan PKS soal anjurannya untuk sholat agar suaranya tidak diambil PKS. Mosok mau jadi presiden pola pikirnya seperti itu. Selain kekanak-kanakan juga maaf tidak bermutu sama sekali. Jauh lebih bijak dengan normatif, ikuti proses hukum saja. Tidak kalah naifnya mengatakan OTT bisa membuat habis pejabat Indonesia.

Keempat, nampaknya masih mau mencoba terus dengan barisan tengah yang dua kali sukses merusak demokrasi yang patut itu. Mengandalkan banyak saja bukan demokrasi, namun egologi mereka. Peristiwa 99 dan pilkada Jakarta, nampaknya mau dipakai lagi.

Membaca hal ini, apa ada kemungkinan yang cukup kuat untuk PAN bisa sekadar membuat poros tengah seperti yang dibanggakan itu? Beda masa dan beda kasus. Meskipun politik itu cair, toh hitung-hitungan di atas kertas masih ada.

Rekan mereka untuk "membelot" dari kedua kubu nampaknya sangat kecil. Kalau ada pun tidak cukup kuat untuk bisa menjadi PT yang mencukupi. Beda dengan 99 ketika mereka merupakan partai besar, memecah sediit suara saja bisa membuat mereka sukses.

Di Jakarta mereka ada Gerindra yang cukup kuat, plus pecahan Golkar, tidak solidnya PDI-P, dan  permainan SARA yang sukses. Kalau kali ini belum ada momentum yang akan bisa membuat suara PAN 7% bisa mencapai minimal 20%. Mark up bagaimana, toh semua isu strategis dan seksi yang dimainkan juga tidak berkembang menjadi bagus bagi suara PAN.

Pembelaan mereka pada KPK bak berteriak di padang guru, tidak ada gaungnya karena bersamaan dengan kasus demi kasus yang membelit mereka sendiri. Pembelaan mereka seolah dipatahkan dan dinegasi secara angsung tanpa lama oleh perilaku kader dan elit mereka sendiri. Paling banter mereka mau bersaing dengan PKS untuk menjadi pendamping Pak Prabowo, kalau menjadi rekan Pak Jokowi nampaknya susah karena Simbah sudah antipati nampaknya. Aneh juga profesor ilmu politik malah tidak bisa molitik. Ada lawan abadi baginya.

Tidak akan jauh-jauh, paling juga bareng Pak Prabowo lagi. Jika demikian, jelas kualitas mereka yang penting kursi bukan politik bermartabat. Ada menteri di kabinet tetapi tidak mau tahu repotnya pemerintah. Ada pemilu dengan tanpa merasa sungkan balik kandang dan arah.

Apa partai dan pribadi demikian pantas jadi pemimpin?

Salam