Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight

"ASU" Paling Fenomenal, Pedang Bermata Dua Medsos, dan Nila Setitik Rusak Susu "Se-Samudera"

13 Oktober 2017   08:13 Diperbarui: 13 Oktober 2017   08:35 2619 38 34

Kisah di sebelah dan menjadi konsumsi pula di sini, karena juga bisa untuk pembelajaran bersama.  Bagaimana bersikap bijak dan dewasa di tengah  kondisi bangsa yang mudah disulut sikap curiga, beda sama dengan musuh, dan provokasi hal yang sebenarnya sangat sederhana. pernah kog hidup dengan wajar, tenang, dan tidak mudah terbakar panasnya amarah dan emosi perihal agama.

"ASU" memang binatang yang tidak begitu tenar di bangsa ini. Sangat bisa dipahami dan tidak menjadi hal yang perlu berpanjang lebar untuk membahasnya. Di sini sedang panas dengan "ASU", eh Putin dari Rusia mendapat hadiah anak ASU yang sangat lucu dan imut dari Presiden Tukmenistan. Asli kalau yang ini lucu bukan seru dan saru malah. Soal peranjingan banyak kisah yang unik sebenarnya. Dulu suka makan daging binatang ini, pas nonton acara Kick Andy sebuah episode yang menayangkan anjing bukan untuk dimakan, sama sekali berhenti hingga kini. Kasihan, muka lucunya itu, pas jadi banner di warung daging anjing, nambah enggan. Rekan-rekan biasa saling panggil  "SU", atau Asu ki jik urip, suwe ra khabar-khabar...Hal spontan, wajar, dan lugas, tidak akan ada yang marah atau ngamuk dipanggil demikian. Toh bukan dalam arti sebagai bentuk penghinaan tapi keakraban malah.

Media Sosial: Pedang Bermata Dua

Apa yang tersaji soal dugaan ujaran kebencian sangat bisa dimengerti dan memang tidak patut sebenarnya. Toh semua sudah terjadi, dan itu patut mendapatkan perhatian dari semua pihak. Miris saat meleba ke mana-mana dan malah melibatkan dugaan, tuduhan, dan tetek bengek lainnya yang bisa-bisa lepas konteks dan malah bisa-bisa tidak menyentuh akar masalahnya. Beberapa masalah yang berpotensi melebar;

Soal Penulis. Sama sekali bukan membenarkan apa yang ditulis, ditambahi gambar, dan ulasan lainnya, toh membuat singkatan seperti itu, sama sekali tidak patut. Namun jika penelusuran pihak-pihak yang merasa terhina hingga merembet, pekerjaan atau pelayanan si penulis ini berlebihan. Bagaimana penulis bukan menuliskannya dalam status sebagai apa yang menjadi profesinya. Berhenti pada tulisan di situs itu. Bahwa ada pekerjaan lain, profil lain, sepanjang tidak ikut-ikut di sana, mengapa perlu menyeret-nyeret, yang sangat berpotensi di luar kendali.

Pertanggungjawaban.Soal pertanggungjawaban biarkan penulisnya, tidak perlu lembaga di mana penulis mengabdi. Contoh pembanding, apa iya kala petani membuat yang diduga ujaran  kebencian, sawah atau himpunan tani atau kelompok taninya ikut diminta pertanggung jawabannya? Bahwa lembaga atau organisasi yang menaunginya memberikan teguran atau pembinaan itu ke dalam tidak perlu ke luar yang malah bisa membuat kehebohan baru. Apalagi menulis di situs umum bukan khusus, seperti milik organisasi yang menaunginya.

Media Sosial Memudahkan dan Merusak.Beberapa waktu lalu ada rilis dari sebuah wilayah kalau angka perceraian meningkat dan dominan karena media sosial dan sejenisnya. Dalam konteks ini identik, bagaimana secara amatir pun orang bisa mengulik dan mengatakan melakukan riset atau forensik dan menemukan si A yang di sini itu Si B di lapak sana, itu ternyata C pada kenyataannya. Tentu ini sangat membantu dalam arti tertentu, namun bisa menjadi bencana dalam arti lain.

Apa yang terjadi menjadi perhatian bersama, belum tentu baik bagi seseorang dan sekelompok itu baik pula bagi kelompok lain. Kebenaran saja menjadi bahan perdebatan di tengah dunia demokrasi asal-asalan ala Indonesia ini, apalagi model yang demikian. Benar salah saja tidak cukup dalam ranah ini, bijak, moralitas, dan kehendak baik sangat menentukan.

Ngulik  medsos,menjadi gaya baru, trend yang sering abai akan ranah moral. Kalau menjadi lebih baik, misalnya menemukan sahabat, saudara, dan rekan lama itu baik, membangun komunikasi. Karena lemahnya moralitas dan ranah etis, bisa jatuh untuk menjadi bahan maksiat. Bangsa ini sudah banyak kejadian buruk, tidak perlu menambah satu keburukan lain.

Bijak,tidak mesti pinter, bener tapi ora pener, benar tapi tidak tepat, bukan salah. Orang cenderung merasa benar abai apakah tepat tidak dengan kondisi yang ada. Sensitivitas kehidupan bersama, dan apakah itu patut dan tidak sering abai dijadikan pedoman.  Bijak itu ranah spiritual, bukan semata kognisi.

Peran pendidikan dan agama menjadi sangat mendesak dan penting. Dua bagian vital dalam hidup bersama ini hanya menghantar pada penghapalbukan pengamal.Pendidikan agama ataupun sekolah masih cenderung soal pengetahuan otak, kognisi, hapalan banyak, soal aplikasi dan penerapan ya begitulah adanya.

Penegakan hukum yang belum bisa diandalkan sepenuhnya. Kecenderungan main paksa dan pemaksaan kehendak menjadi masalah, sehingga sering persoalan melebar dan tidak menyelesaikan masalah. Hanya menutupi masalah, menyenangkan pihak tertentu, namun masalah masih ada.

Media, apalagi sudah masuk politisasi, jangan sampai menjadi nila setitik rusak susu se samudra.Selama ini nila setitik rusak susu sebelanga sering kurang memuaskan banyak pihak, dan akhirnya se samudra pun belum lega rasanya. Apakah bangsa ini akan terus dihuni orang tidak pernah puas dalam banyak hal?

Salam