Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Belajar Menang dari Pertandingan Indonesia vs Brunei Darusalam

14 September 2017   09:34 Diperbarui: 14 September 2017   09:48 2397 19 13

Kemenangan timnas Indonesia delapan gol tanpa balas sungguh menarik. Tidak boleh dikesampingkan justru mental bertanding dan kualitas kepribadian timnas Brunei Darusalam. Mereka ini masih remaja, yang gampang terprovokasi, terpancing emosi, dan mudah menyerah, namun sama sekali tidak nampak itu semua.

Timnas Indonesia

Menyajikan permainan yang hidup, melupakan kekalahan 0-3 dari Vietnam di pertandingan sebelumnya. Beban itu lepas sehingga bisa menyajikan permainan yang menarik, menghibur, dan memenuhi target. Memang berat dengan kemenangan selisih delapan gol itu. Namun bisa. Tidak pula bertindak kasar dan bermain dengan lebay ala Asia Tenggara lainnya.

Menghambat permainan dengan berguling tanpa sebab atau main keras cenderung kasar model Malaysia dan Vietnam tidak nampak dalam kemenangan kemarin. Mereka usia muda bisa bersikap tenang, nyaman bermain, dan kreatif, tentu memberikan harapan timnas ke depan yang baik dan berkarakter. Memang emosional dan cenderung kasar muncul ketika melawan Vietnam lampau. Dengan demikian, pemain masih terikut pola permainan lawan, pembenahan yang penting bagi kemajuan dan harapan timnas ke depan yang lebih baik.

Kreatifitas serangan dan cara membuat gol yang bervariasi. Memang ini soal lawan juga, namun pertandingan kemarin memberikan harapan ke depan pemain yang kaya kreasi dan cara bermain yang cantik, modern, dan tidak monoton. Kapan umpan panjang, kapan dari kaki ke kaki, bukan langsung lepas tanggung jawab dengan mengumpan rekan yang kalang kabut. Mereka melakukan dengan baik tugas masing-masing.

Melihat pertandingan ke pertandingan, Indonesia memiliki kecenderungan tergantung lawan. Lawan kasar ikut kasar. Pemain bersih juga bersih. Tentu harus diperhatikan dan ditekankan bahwa permainan itu permainan sendiri tidak perlu terpengaruh pihak lawan. Jika demikian akan bisa menyajikan pertandingan sesuai jati diri sendiri.

Timnas Brunei Darusalam

Kekalahan telak namun tidak nampak dalam bahasa tubuh pemain Brunei. Mereka bermain apa adanya, lepas, dan tidak terpengaruh kekalahan itu, bahkan hingga menit akhir masih mencoba menyerang.

Pertandingan itu Sampai Peluit Dibunyikan Wasit.

Ingat ketika timnas Indonesis senior dibantai 10 gol ketika melawat ke Brunei, sikap pantang menyerah itu tidak sejelas timnas junior Brunei ini, mereka masih mencoba menyerang meskipun tanpa hasil. Ini masih junior saja bisa bertindak demikian. Mencoba sampai akhir, termasuk menahan serangan bukan hanya memainkan sepak bola kasar namun bermain dengan sportif dan bertanding bukan main kayu.

Menumpuk Pemain namun juga Menyerang.

Permainan yang berbeda juga, bagaimana biasanya permainan tim yang tidak seimbang akan menumpuk pemain tanpa mau keluar. Mereka menumpuk di belakang karena serangan yang tidak mampu mereka lakukan. Efek serangan Indonesia membuat mereka turun bukan karena mereka mau demikian. Cara bermain yang sportif bukan hanya mencari aman. Beda dengan kebiasaan Asia Tenggara lainnya.

Bertahan Total tidak Mesti Brutal.

Menarik adalah mereka tidak melakukan permainan kasar sama sekali. Tidak ada kartu kuning apalagi merah. Pelanggaran pun relatif wajar, tidak ada keinginan merusak pemain lawan dan terkendali. Cenderung tidak ada pelanggaran malah. Padahal bisa saja frustasi dan main kasar biasanya menjadi pilihan, ternyata tidak demikian. Acungan jempol untuk pemain Brunei usia muda ini.

Kedua kesebelasan menyajikan pertandingan enak, menarik, dan menghibur meskipun jelas pertandingan yang tidak seimbang. Tentu tidak jadi menarik kalau Brunei diam saja pokoknya tidak kebobolan dengan cara membuang bola setiap datang. Toh mereka juga menyerang meskipun tidak ada lima kali sepanjang 90 menit pertandingan. Mereka melakukan juga perlawanan sepanjang mereka mampu melakukannya.

Permainan yang bersih dari kekasaran apalagi menciderai lawan. Kedua kesebelasan memberikan hiburan pertandingan ala Eropa bukan Asia Tenggara yang cepat mengasari lawan, bukan cepat membuat gol. Keduanya memberikan sajian yang sama.

Pemenang dengan gol yang dalam hal ini Indonesia juga berbeda dengan tim Asia Tenggara lain dengan main guling dan jatuh tanpa sebab. Meskipun alasan harus membuat delapan gol.  Toh setelah gol kedelapan tetap saja main ngotot. Masih juga membanggakan tidak main kasar.

Asia Tenggara yang masih jauh dari harapan untuk ikut hingar bingar bola dunia melihat pertandingan kemarin mulai memberikan harapan. Persoalan mendasar seperti soal tackling,mengambil bola bukan lawan, dan sejenisnya yang mendasar bisa mereka sajikan dan lakukan dengan baik.

Penyakit bangsa serumpun dengan menghambat pertandingan, provokatif, dan sejenisnya mulai harus ditanggalkan. Sepak bola modern masih belum menjamah Asia Tenggara, jangan nanti menyalahkan pihak lain, sedang kesalahan mendasar ada di karakter sendiri.

Salam