Susy Haryawan
Susy Haryawan lainnya

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Belajar Diplomasi Spiritualitas dari Rizieq Shihab

11 September 2017   20:27 Diperbarui: 11 September 2017   21:01 1486 18 16

Belajar Diplomasi Spiritualitas dari Rizieq Shihab

Kemarin, pas ada kegiatan yang diwarnai dengan kegembiraan, kepuasan, dan kebahagiaan, rekan yang sama-sama jadi penggembira, bukan peserta atau selevelnya, hanya penggembira, melihat yang hadir itu sumringah,gembira, dan bahagia. Pokoknya semua ceria, jarang yang cemberut atau sedih, padahal jelas mereka lelah, karena perjalanan, persiapan, dan semacamnya. Rekan mengatakan kalau kegembiraan dan kebahagiaan itu menular. Rasanya ikut terbawa suasana itu. Eh tadi pas ngaso jadi ingat ada tokoh nasional spiritual yang melakukannya dengan level yang positif.

Pas kasus demi kasus yang dinilai sarat kepentingan politis, beliau memilih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bukan pilihan yang lain. Masalah hukum dan pelaporan yang bukan hanya satu, membuatnya memilih bersama Tuhan bukan pengacara di dalam menyelesaikannya.

Beberapa waktu lalu, kisah soal dugaan kasus Rizieq Shihab mengemuka. Apa yang dilakukan patut menjadi bahan refleksi dan contoh bagaimana menghadapi kisah berat di dalam hidup sebagai contoh kisah tidak ringan itu mengenai sandungan hukum. Jika orang biasa atau orang yang tidak beriman itu akan mengatakan itu karena perbuatan orang lain, karena fitnah, atau korban konspirasi.  Berbeda dengan yang dilakukan oleh seorang ulama besar tentunya, beliau melakukan ibadah umroh.  Ternyata apa yang dijadikan rujukan dan pedoman luar biasa mendalam. Beliau tidak marah atau minimal menggugat, namun mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Luar biasa bukan?  Merasa persoalan memang belum selesai  beliau tetap memilih semakin dekat dengan Penciptaanya di Tanah Suci agar makin adem, tenang, dan damai di dalam Tuhan.

Demo, pengerahan massa, atau hujatan tidak menjadi jalan.  Pilihan  bijak bukan dengan pendekatan rohani dan spiritual, bukan main otot dan okol yang bisa berabe. Pilihan tambahan yang bisa dan telah dicoba itu adalah tawaran rekonsiliasi itu bahasa milik kafir pun dipakai, bukan lagi islah lho, hebat lagi kan? Kan baik juga buat adem tidak permusuhan terus dengan siapapun. Tawaranny pun luar biasa langsung kepada presiden coba, mana ada kalau orang ecek-ecekyang bisa menawarkan rekonsiliasi pada pemerintah dan itu levelnya langsung presiden. Ini bukan main lho, hebatnya diplomasi spiritualnya. Luar biasa terobosan rekan-rekan sang imam besar lho, bukan main-main, tidak heran kalau tawaran itu bisa dipahami dengan baik oleh pihak istana.

Pas hari Kemerdekaan, para pengikut sang imam besar mengeluarkan pernyataan kalau mereka ada panglima NKRI. Memang bukan pas hari kemerdekaan Republik Indonesia persis, pas mereka yang berulang tahun, FPI kamsudnya, eh maksudnya. Mereka menjadi pembela NKRI, tentu banyak yang kaget dan mengatakan kalau FPI menjaga NKRI apa beda dengan paedophil menjaga anak,ini tentu dinyatakan oleh orang yang belum paham bahasa spiritual. Ranah spiritual hanya bisa dipahami oleh manusia level tinggi. Pribadi yang sudah meninggalkan keduniawian dan menapak dunia adikodrati.

Karena ranah spiritualitas kadang dianggap aneh dan tidak logis, ya jelas lah, tidak heran juga kan, kalau pengacara meminta untuk Polri agar menerbitkan SP3. Permasalahan agar dihentikan karena kasusnya pilitis, unsur pidananya dinilai sumir dan lebih banyak kasus yang dipolitisasi. Jelas saja polisi yang masih ada di dunia tidak paham.

Ranah spiritual yang susah dipahami oleh pribadi yang belum maju dalam hal rohaniah, tidak heran kalau bukan orang spiritual akan mengajukan tekanan massa untuk membela diri atas kasusnya. Pengerahan massa untuk menekan polisi jika masih dalam penanganan polisi. Luar biasa bukan, apalagi jika menggunakan kekuasaan dan lembaga untuk melemahkan lembaga lain. mereka masih perlu banyak belajar agar bisa bersabar menghadapi kasusnya tanpa merugikan lembaga lain.

Bangsa dan masyarakat negara ini, yang sering mengaku sebagai negara beragama, ternyata belum banyak yang menghayati menghadapi masalah dengan mendekatkan diri pada Tuhan.  Beda jelas pilihannya. Pilihannya beribadah, berserah, dan memohon bantuan Tuhan. Beda tentunya dengan memilih pengacara jelas perlu duit yang tidak kecil, padahal punya pengacara yang tidak perlu dibayar dan pasti menangnya.

Tidak mengerahkan massa untuk menekan penegak hukum, yang bisa malah menjadi masalah hukum baru. Memohon bantuan Tuhan agar polisi menerbitkan SP3, jelas memohon kepada yang Paling Berkuasa, karena toh presiden dan kapolri pun tidak membantu.

Menawarkan rekonsiliasi, ada upaya untuk kembali merekatkan apa yang sempat memburuk, hal ini pilihan orang religius, orang beragama, bukan orang biadab yang belum kenal adab yang mampu berbuat demikian tentunya.

Biasanya pelaku atau pelanggar hukum di bangsa ini kan mengemukakan dalil atau dalih bahwa mereka itu tidak pernah salah, bahkan berjasa, dan kemudian mengajak barisan pencara kelas atas. Berderet-deret gelar untuk "menakut-nakuti" penegak hukum yang kalah mentereng dengan para pengacara yang diduga sedang berkasus.

Pribadi religius memang beda dengan yang tidak akrab dengan Tuhan. Datang bersujud dan menangis di hadapan Tuhan untuk mohon bantuan. Tidak heran sudah berbulan-bulan tidak juga memenuhi panggilan polisi, jika polisi memaksa malah berdosa mengganggu orang beribadah, bisa sekelas dengan setan yang tidak suka orang beribadah malah.

Salam