Mohon tunggu...
Patricia Daniela
Patricia Daniela Mohon Tunggu... Guru - Teacher

Seorang guru SD kelas 6

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Domain of Learning: Bloom's Taxonomy

18 Oktober 2021   21:27 Diperbarui: 18 Oktober 2021   21:53 1018
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Belajar merupakan suatu proses perkembangan seorang anak. Proses perkembangan tersebut dapat dipandang dari berbagai sisi, seperti perkembangan intelektual atau kognitif seseorang, perkembangan keterampilan seseorang, hingga perkembangan tingkah laku yang dapat ditunjukan oleh seseorang. Pandangan ini akhirnya dikemukakan oleh seorang psikolog pendidikan asal Amerika Serikat, Benjamin Bloom (1913-1999). 

Benjamin Bloom pada tahun 1956 mengembangkan suatu pendekatan dalam belajar yang membantu para pendidik untuk dapat lebih memahami proses seseorang belajar dan dalam membentuk suatu tujuan pembelajaran. Pemikiran tersebut dikenal dengan "Taxonomy of Learning Ranah" atau "Bloom's Taxonomy". Terdapat 3 ranah utama yang diperhatikan oleh Bloom dalam teori ini yaitu, adanya ranah kognitif atau intelektual, ranah afektif (perasaan, emosi), dan ranah psikomotor (perilaku).

Ranah kognitif mencakup keterampilan belajar yang berkaitan dengan proses berpikir seorang anak. Dalam ranah kognitif ini, Bloom membagi dalam 6 tingkatan atau hierarki dari yang terendah hingga yang tertinggi. Tingkatan tersebut adalah pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan terakhir evaluasi (Hoque, 2016, p. 46). Namun, pemikiran ini mengalami perubahan yang direvisi oleh Kratwahl tahun 2001.

Perubahan tersebut membuat pengajar atau pendidik dapat membangun pengalaman belajar siswa secara lebih optimal. Keenam tahapan tersebut adalah mengingat, memahami, menggunakan, menganalisis, mengevaluasi, dan yang terakhir menciptakan (Hoque, 2016, p. 46). Ranah kedua adalah ranah afektif. Ranah ini melihat bagaimana seorang pelajar bereaksi secara emosional. Melihat bagaimana seseorang dapat mengelola dan memanfaatkan emosinya dengan efektif dan tepat di dalam kehidupannya sehari-hari. 

Sehingga, tujuan pembelajaran pada ranah ini akan berkaitan dengan sikap maupun perasaan pelajar. Bagian ini juga dibagi dalam 5 tahapan dari yang terendah hingga tertinggi yaitu menerima, menanggapi, menilai, mengorganisasikan, dan mengkarakterisasi (Fee, 2011, pp. 25-26). Ketiga adalah ranah psikomotor. Ranah psikomotor sangat terkait dengan kerja otot, menghasilkan gerakan tubuh atau komponen tubuh. Pergerakan yang dilihat berupa gerakan yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Namun, perbedaan paling mendasar di dalam ranah ini mengenai pembedaan antara keterampilan dan bakat (kemampuan) harus diakui. Ranah Psikomotor dari Bloom memiliki 5 tahapan yaitu meniru, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi (Syifauzakia, Ariyanto, & Aslina, 2021, p. 67).

Sudut pandang ini sekarang digunakan dan berfungsi sebagai sumber daya bagi guru ketika mengembangkan tujuan pembelajaran. Tabel taksonomi Bloom menunjukkan kesesuaian rencana pembelajaran, pertanyaan penting, dan maksud atau tujuan pembelajaran. Pemisahan menjadi tiga domain ini membantu pengajar dalam menentukan tujuan dan pencapaian yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. 

Tahapan-tahapan ini juga mengarahkan pengajar agar proses belajar siswa dapat beranjak dari tingkat berpikir, sikap, dan keterampilan yang paling rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, taksonomi bloom juga dilengkapi dengan kata kerja operasional yang dapat menjadi acuan dari sasaran yang ingin dicapai oleh siswa. Dari kata kerja operasional tersebut juga guru dapat merancangkan suatu sistem penilaian dan aktivitas proses belajar yang tepat agar siswa dapat mencapai tujuan tersebut. 

Taksonomi Bloom juga membantu pengajar  membedakan ranah belajar siswa, baik secara akademis maupun dalam hal sikap dan keterampilan siswa itu sendiri. Kasus yang sering dijumpai di dalam kelas adalah guru sulit membedakan kemampuan intelektual dan kemampuan keterampilan siswa. Hal ini adalah situasi umum di mana kedua bagian tersebut saling tumpah tindih. Namun, adanya taksonomi bloom guru mendapatkan deskripsi yang jelas sehingga bisa membedakan aspek pengetahuan atau intelektual dengan aspek psikomotor atau keterampilan siswa.

Sebagai guru, perancangan design pembelajaran merupakan proses yang panjang dan terkadang sulit bagi guru. Terutama di dalam penentuan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh siswa. Terkadang sebagai guru kita melihat dan mengutamakan tingkatan berpikir yang tinggi, tapi perlu diperhatikan bahwa tingkatan berpikir dan keterampilan yang tinggi tersebut dapat terpenuh apabila siswa-siswi sudah menguasai level tingkatan berpikir yang di bawah (LOTS). Jika kemampuan dasar siswa-siswi tersebut tidaklah kuat. 

Sulit bagi mereka terbiasa dengan tingkatan berpikir yang di atas (HOTS). Walau pada kenyataan, setiap guru pasti menginginkan bahwa siswa-siswi yang diajar dapat mencapai tingkatan berpikiran maupun tingkatan kemampuan atau keterampilan yang tinggi. Untuk itu, tujuan pembelajaran dapat dirancang dan menggunakan sasaran antara tingkat kognitif aplikasi (C3) hingga evaluasi (C6). Namun, saat guru melakukan proses pembelajaran di dalam kelas indicator-indikator atau sub-sub indikator yang dirancang oleh guru dapat dilihat dari tingkat kemampuan rendah hingga tertinggi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun