Patrianef Patrianef
Patrianef Patrianef pegawai negeri

Patrianef, seorang dokter spesialis bagi pasienku. Guru bagi murid muridku. Suami bagi istriku dan sangat berbahagia mendapat panggilan papa dari anak anaknya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tahukah Anda, Beda "Trick" dan Curang (Fraud)?

7 Desember 2017   09:31 Diperbarui: 8 Desember 2017   17:00 2263 3 0
Tahukah Anda, Beda "Trick" dan Curang (Fraud)?
Sumber ilustrasi: newsnumber.com

Di dunia medis, kerap terjadi orang mengakali pembiayaan sehingga uang yang dikeluarkan rendah. Berbagai macam cara dilakukan orang. Sikap orang juga beragam terhadap perilaku mengakali pembiayaan yang tidak mencukupi tersebut. Biasanya orang menggunakan berbagai cara, antara lain:

1.Menggunakan barang "reuse"

Barang reuse tentu saja akan meningkatkan risiko transmisi "blood borne diseases". Tentu saja ada pihak yang tidak sepakat dan menyatakan bahwa barang reuse akan memenuhi standar jika disterilisasi dengan cara yang benar dan baik. Penggunaan barang reuse tentu saja akan menekan pembiayaan karena salah satu penyebab mahalnya suatu prosedur adalah harga "device" yang mahal.

Dengan penggunaan barang "reuse" pembiayaan suatu prosedur akan berkurang drastis. Tentu saja ada kelemahan lain barang "reuse" selain transmisi penyakit, yaitu perilaku alat tersebut tidak seperti barang baru, misalnya kaku dan kurang lentur, ada baret baretnya, bisa saja bocor kalau mempunyai rongga. Pasien tentu saja dilayani substandard, walaupun pasien tidak tahu.

Banyak pihak senang. Rumah sakit senang karena prosedur tetap bisa dilakukan dan mereka memperoleh sedikit keuntungan. Pasien senang karena mereka tetap dapat menjalani tindakan tanpa urun biaya. Dokter melakukan dengan perasaan galau campur perasaan bersalah.

Banyak pihak akan sepakat bahwa ini namanya "trick" untuk mengakali pembiayaan yang rendah dan tidak mencukupi. Anda setuju? Bagi saya ini namanya tetaplah "curang". Curang dengan tanda petik, dan semua pihak tutup mata.

2. "Up coding"

Up coding adalah salah satu cara yang sering dituduh pembiaya dilakukan oleh dokter, walaupun sang dokter tidak melakukan tetaplah kecurigaan itu besar. Tindakan ini salah satu yang dilakukan oleh dokter untuk mengakali pembiayaan yang kurang.

Secara medis sangat bagus, karena dokter tetap menggunakan barang standar, pasien dilayani dengan kualitas standar. Tidak ada prosedur medis yang dilanggar. Rumah sakit senang karena prosedur dilakukan dengan benar dan mereka memperoleh sedikit keuntungan. 

Bagi dokter ini membikin mereka "jantungan", pertempuran batin adalah antara memberikan yang terbaik bagi pasien dengan kekhawatiran akan dikejar oleh pihak pihak yang mencari "fraud", bahkan masalah ini sampai sampai melibatkan KPK. Konyol memang kedengarannya karena ada pihak pihak yang melibatkan KPK untuk mengatasi hal ini. Ibarat menakut nakuti petani pergi berkebun ke hutan karena di hutan itu ada harimau.

Ini bagi pihak pembiaya jelas curang, mereka menganggap ini curang karena merugikan pihak pembiaya. Mereka tidak tahu bahwa ini terpaksa dilakukan akibat besaran angka pembiayaan tidak masuk akal. Yang dikejar adalah dokter. Rumah sakit bisa lepas tangan. Bagi dokter mungkin ini suatu trick yang mereka lakukan diam-diam dengan harapan pihak pembiaya tidak tahu.

Jujur saja kita bahwa ini memang suatu kecurangan apapun alasannya. Tetapi sesungguhnya mengatasi hal ini juga dengan cara mencari akar masalah, yaitu pembiayaan yang tidak mencukupi.

3. Merujuk pasien

Ini adalah cara yang paling gampang. Membuat gaduh semua pihak. Pihak penanggung biaya mempertanyakan alasan merujuk. Rumah sakit diam-diam merestui karena tahu jika prosedur itu dilakukan di RS mereka, maka mereka akan merugi. Dokter galau, karena tahu bahwa sesungguhnya prosedur tersebut dapat dilakukan jika biaya mencukupi.

RS kadang-kadang menggunakan alasan ruangan penuh. Ini terutama dilakukan di ruangan berbiaya mahal seperti ICU, CVCU dan HCU. Rumah sakit menghitung hari sembari menghitung kerugian. Bahkan ada RS yang menyatakan bahwa jika mereka rugi, maka kerugian bagi dua dengan dokter. Sementara jika mereka beruntung mereka tidak akan membagi dua dengan dokter.

Pasien galau dan keluarga gelisah. Hal ini menyebabkan semua pihak dalam sorotan. RS dan dokter jadi sorotan. Dokter yang dalam tanda petik tidak punya kewenangan dalam menentukan ketersediaan ruangan menjadi pihak yang paling gampang dituding dan disalahkan. Manajemen RS berada di kantor yang terlindung dan dilindungi petugas keamanan. Dokter berada pada posisi rentan dan muncul di depan TV dan dalam video. Tragis memang. Gampang benar anda cari video-video seperti ini.

Petugas pembiaya tidak berada di tempat. Jika keluarga menghubungi mereka maka mereka dengan tenang akan menjawab bahwa pembiaya akan membiayai semua tindakan, tidak perlu urun biaya. Keluarga memperoleh energi lagi untuk melabrak RS. RS akan menghadapi dilema, menghadapi keluarga, pembiaya dan masyarakat serta media massa. Hal yang sesungguhnya tersembunyi dan tidak dibuka adalah pembiayaan yang tidak mencukupi.

Ini jelas "fraud", tapi pihak RS akan melakukan dalam rangka menekan kerugian. Mungkin saja manajemen bepikir bahwa itu adalah "trick".

Tipis sekali batas antara curang dan trick. Semua pihak harus terbuka untuk dikoreksi. Tentu saja ada yang bertanya. Apakah ini terjadi di Indonesia?

Bukan, bukan di Indonesia. Ini terjadi di tempat lain. Di Indonesia beda, asuransinya bagus, didesain menyenangkan semua pihak. Pembiaya senang, RS senang, dokter nyaman dan keluarga pasien dilayani dengan benar. Tidak, tidak ada masalah di Indonesia, ini bukan di Indonesia. Pembiayaan di Indonesia memadai, manajemen asuransi sosialnya sangat bagus, makanya mereka dibayar mahal dan mendapat fasilitas yang bagus dan diatur oleh Undang-undang.

Jakarta, 7 Desember 2017

Patrianef

Praktisi Kesehatan
Dokter Spesialis, Konsultan